NASIONAL

Patin Indonesia Ikut Isi Dapur Haji di Arab Saudi

×

Patin Indonesia Ikut Isi Dapur Haji di Arab Saudi

Sebarkan artikel ini

BERITAPRESS.ID, JAKARTA | Patin Indonesia mulai masuk dalam rantai pasok dapur haji di Arab Saudi yang memproduksi konsumsi jamaah haji Indonesia. Pemerintah melihat peluang besar agar ikan patin, bersama produk pangan lain dari Indonesia, dapat digunakan langsung dalam layanan katering haji tanpa harus melalui jalur distribusi negara lain.

Di Madinah, dapur katering jamaah haji bekerja setiap hari seperti lini produksi besar yang menyiapkan ribuan porsi makanan. Semua proses berjalan ketat, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, hingga distribusi makanan untuk jamaah haji Indonesia.

Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf dilaman resmi haji  meninjau langsung dua dapur katering di Madinah. Ia melihat bagaimana sistem pengolahan makanan berjalan dan memastikan standar kebersihan serta keamanan pangan tetap terjaga untuk jamaah haji.

Dalam kunjungan itu, perhatian tertuju pada bahan pangan yang digunakan. Salah satunya ikan patin yang selama ini menjadi komoditas unggulan Indonesia. Produk ini dinilai memiliki potensi besar untuk masuk langsung ke dapur haji di Arab Saudi.

Selain patin, sejumlah bahan lain seperti santan, ikan teri, dan bumbu masakan Nusantara juga ditemukan dalam proses produksi makanan jamaah haji. Sebagian bahan tersebut saat ini masih dipasok melalui negara lain sebelum sampai ke Arab Saudi.

Pemerintah menilai Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan untuk memasok langsung kebutuhan tersebut. Potensi produksi dalam negeri dinilai cukup besar untuk memenuhi standar dan kebutuhan katering haji yang jumlahnya sangat masif setiap musim haji.

Namun tantangan utama masih berada pada jalur distribusi dan biaya logistik. Kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memengaruhi kelancaran pengiriman bahan pangan dari Indonesia ke Arab Saudi.

Sebelumnya, Indonesia sudah mulai mengirim beberapa komoditas seperti beras dan bumbu dapur ke Arab Saudi. Meski demikian, skala pengiriman masih terbatas karena hambatan teknis dan biaya pengiriman yang tinggi.

Pemerintah kini mendorong skema kerja sama yang lebih terstruktur dengan penyedia katering haji di Arab Saudi. Salah satu rencana yang disiapkan adalah memasukkan produk pangan Indonesia langsung dalam kontrak penyediaan konsumsi jamaah haji.

Dengan skema tersebut, ikan patin dan produk Indonesia lain tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi bisa menjadi bagian tetap dari rantai pasok dapur haji di Arab Saudi.

Jika berjalan optimal, langkah ini tidak hanya berdampak pada kualitas makanan jamaah haji, tetapi juga membuka pasar baru bagi petani, nelayan, dan pelaku UMKM Indonesia.

Dari Madinah, cerita dapur haji tidak lagi sekadar soal makanan jamaah. Ia berkembang menjadi pintu ekonomi baru yang mempertemukan ikan patin Indonesia dengan pasar global dalam skala yang jauh lebih besar. (***) /one