NASIONAL

Gempa Tak Terasa, Mengapa Tsunami Tetap Datang?

×

Gempa Tak Terasa, Mengapa Tsunami Tetap Datang?

Sebarkan artikel ini
foto : bmkg.go.id

BERITAPRESS.ID, PANGANDARAN | Tsunami Pangandaran pada 17 Juli 2006 menjadi pengingat lantaran bencana tidak selalu diawali dengan gempa yang terasa sangat kuat. Banyak warga saat itu tidak menyadari ancaman yang mendekat karena guncangan gempa relatif lemah di daratan.

Namun, beberapa saat kemudian gelombang tsunami setinggi sekitar 4 hingga 8 meter menerjang pesisir selatan Jawa dan menewaskan ratusan orang. Dua puluh tahun berlalu, peristiwa tersebut masih menyimpan pelajaran penting yang relevan hingga hari ini, jangan pernah menilai potensi tsunami hanya dari kuat atau lemahnya guncangan gempa.

Persepsi bahwa tsunami hanya terjadi setelah gempa besar yang mengguncang hebat masih banyak ditemukan di masyarakat. Padahal, para ahli telah lama menjelaskan  tidak semua gempa memiliki karakteristik yang sama.

Dalam beberapa kasus, energi gempa lebih banyak menggerakkan dasar laut daripada menghasilkan guncangan kuat di permukaan. Kondisi inilah yang dapat memicu tsunami meski masyarakat di daratan tidak merasakan getaran yang signifikan.

Gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 yang memicu tsunami Pangandaran menjadi salah satu contoh penting. Gelombang tsunami kemudian menyapu sekitar 250 kilometer pesisir selatan Jawa, mulai dari Pangandaran, wilayah selatan Jawa Tengah, hingga Yogyakarta. Tragedi tersebut merenggut 668 korban jiwa, menghancurkan ribuan rumah, dan menjadi salah satu bencana tsunami paling mematikan di Indonesia setelah Aceh 2004.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan pengalaman tersebut menjadi momentum penting mempercepat pembangunan Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) yang akhirnya diresmikan pada 2008.

Kini, sistem tersebut didukung jaringan sensor seismograf real-time, ratusan alat pengukur pasang surut (tide gauge), dan komputasi berkecepatan tinggi sehingga informasi peringatan dini tsunami dapat disampaikan dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa terjadi.

Kecanggihan teknologi saja, tambah dia,  tidak otomatis menyelamatkan nyawa pasalnya rantai keselamatan baru akan bekerja apabila masyarakat memahami informasi yang diterima dan segera melakukan evakuasi tanpa menunggu konfirmasi tambahan.

Pesan tersebut menjadi semakin penting karena waktu yang dimiliki masyarakat pesisir sering kali sangat terbatas. Banyak kejadian tsunami, hitungannya menit bahkan detik menjadi penentu keselamatan. Menunda evakuasi hanya karena merasa guncangan gempa tidak terlalu kuat dapat meningkatkan risiko menjadi korban.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengingatkan tantangan terbesar justru datang dari sisi psikologis. Tsunami tergolong rare event atau peristiwa yang jarang terjadi sehingga kesadaran masyarakat cenderung menurun seiring berjalannya waktu. Ketika tidak ada bencana selama bertahun-tahun, rasa aman semu sering kali membuat kesiapsiagaan memudar.

Oleh sebab itu BMKG terus memperkuat edukasi kebencanaan bersama BNPB, pemerintah daerah, dan kalangan akademisi melalui berbagai program berbasis komunitas. Salah satunya adalah pembentukan Tsunami Ready Community, yaitu desa-desa yang memiliki jalur evakuasi, peta bahaya, sistem peringatan dini, serta masyarakat yang rutin mengikuti latihan kesiapsiagaan.

Dalam peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran, BMKG juga meresmikan sejumlah desa pesisir sebagai Tsunami Ready Community yang mendapat pengakuan dari UNESCO-IOC. Pengakuan tersebut bukan sekadar simbol, melainkan bukti karena masyarakat telah memenuhi standar kesiapsiagaan menghadapi ancaman tsunami.

Pelajaran terbesar dari tsunami Pangandaran bukan hanya tentang pentingnya teknologi, tetapi juga tentang cara masyarakat memahami risiko bencana. Gempa yang terasa lemah bukan berarti pantai berada dalam kondisi aman.

Jika berada di wilayah pesisir dan terjadi gempa, sekecil apa pun guncangan yang dirasakan, masyarakat perlu tetap waspada terhadap kemungkinan tsunami dengan segera menjauhi pantai dan mengikuti informasi resmi dari BMKG serta arahan petugas setempat.

Dua puluh tahun setelah tragedi Pangandaran, keselamatan bukan hanya bergantung pada sistem peringatan dini yang semakin canggih, tetapi juga pada kesiapan setiap orang untuk mengenali tanda bahaya dan mengambil keputusan cepat ketika ancaman datang. (***)