BERITAPRESS.ID |Indonesia siap mengekspor pengalaman reformasi ketenagakerjaan melalui kerja sama internasional dengan berbagi praktik terbaik di bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM), pelatihan vokasi, jaminan sosial ketenagakerjaan, hingga tata kelola pasar kerja.
Komitmen itu disampaikan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli saat menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Koperasi, Ketenagakerjaan, dan Kesejahteraan Sosial Republik Islam Iran, Ahmad Meydari, di sela-sela BRICS Labour and Employment Ministers’ Meeting (LEMM).
Yassierli mengatakan Indonesia melihat peluang besar untuk memperkuat kolaborasi di bidang ketenagakerjaan melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan praktik terbaik yang dapat memberikan manfaat bagi kedua negara. Salah satu tawaran yang dibawa Indonesia adalah berbagi pengalaman dalam reformasi kebijakan ketenagakerjaan, pengembangan tenaga kerja, pelatihan vokasi, serta tata kelola pasar kerja.
“Kami meyakini terdapat potensi yang besar bagi Indonesia dan Iran untuk memperluas kolaborasi melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan praktik-praktik terbaik yang dapat memberikan manfaat bagi kedua negara,” ujar Yassierli.
Selain berbagi pengalaman reformasi ketenagakerjaan, kedua negara juga membahas penguatan pelatihan vokasi sebagai salah satu strategi meningkatkan kompetensi tenaga kerja. Melalui studi banding dan pertukaran pengetahuan, Indonesia dan Iran berkomitmen saling mendukung peningkatan kualitas pelatihan kerja agar mampu menghasilkan tenaga kerja yang lebih terampil, adaptif, dan siap menghadapi kebutuhan dunia industri.
Pertemuan bilateral tersebut turut menyoroti pentingnya penguatan sistem jaminan sosial ketenagakerjaan. Indonesia mendorong adanya pertukaran pengalaman dalam pengembangan kebijakan dan program yang mampu memperluas cakupan perlindungan sosial sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekerja.
Perluasan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas juga menjadi salah satu agenda yang mendapat perhatian. Kedua negara bertukar pandangan mengenai kebijakan yang mendukung peningkatan akses terhadap pelatihan, pengembangan keterampilan, serta penciptaan kesempatan kerja yang setara guna mewujudkan dunia kerja yang lebih inklusif.
Menurut Yassierli, kerja sama yang dibangun tidak hanya berhenti pada dialog antarmenteri, tetapi diharapkan berlanjut melalui berbagai program konkret yang memberikan manfaat nyata bagi pengembangan ketenagakerjaan di kedua negara.
“Kami berharap kementerian di kedua negara dapat menjajaki tindak lanjut yang konkret melalui pertukaran teknis, dialog antarpakar, serta program-program peningkatan kapasitas,” katanya.
Melalui kerja sama tersebut, Indonesia berharap penguatan reformasi ketenagakerjaan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas SDM, pengembangan pelatihan vokasi, penguatan jaminan sosial ketenagakerjaan, serta perluasan akses kerja yang lebih inklusif. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya Indonesia memperluas kolaborasi internasional dalam membangun pasar kerja yang lebih adaptif, kompetitif, dan berkelanjutan.(***)



























