NASIONAL

Kekeringan Jadi Ancaman Utama di Awal Kemarau

×

Kekeringan Jadi Ancaman Utama di Awal Kemarau

Sebarkan artikel ini
bnpb.go.id

BERITAPRESS.ID, JAKARTA | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kekeringan menjadi ancaman bencana yang paling dominan di sejumlah wilayah Indonesia pada awal musim kemarau. Dalam laporan perkembangan bencana periode Jumat (12/6) pukul 07.00 WIB hingga Sabtu (13/6) pukul 07.00 WIB, pemutakhiran kondisi kekeringan mendominasi dibandingkan kejadian bencana lainnya.

Sedikitnya tiga daerah di Pulau Jawa melaporkan dampak kekeringan yang menyebabkan ratusan warga mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih. Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta banjir masih terjadi di wilayah lain.

Di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, kekeringan berdampak pada 120 jiwa di Desa Kedungbenda, Kecamatan Nusawungu, dan 398 jiwa di Desa Karangkemiri, Kecamatan Jeruklegi. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD Kabupaten Cilacap telah mendistribusikan 10.000 liter air bersih serta melakukan pemantauan berkala terhadap kondisi sumber air di wilayah terdampak.

Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Sebanyak 372 jiwa di Desa Kutalanggeng, Kecamatan Tegalwaru, terdampak kekeringan. BPBD setempat menyalurkan bantuan air bersih menggunakan dua unit mobil tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter.

Sementara di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebanyak 734 jiwa terdampak kekeringan yang melanda Desa Gunung Sari, Kecamatan Citeureup, dan Desa Parakan Muncang, Kecamatan Nanggung. BPBD Kabupaten Bogor terus mendistribusikan air bersih untuk mengisi penampungan dan toren milik warga. Pada Jumat (12/6), sebanyak 5.000 liter air kembali disalurkan ke wilayah tersebut.

Menurut laporan BNPB dikutip dilaman resmi bnpb.go.id menunjukkan lebih dari 1.600 warga di tiga daerah tersebut telah merasakan dampak berkurangnya ketersediaan air bersih. Kondisi ini menjadi sinyal  sejumlah wilayah mulai menghadapi tekanan musim kemarau meskipun belum memasuki puncaknya.

Di tengah meningkatnya ancaman kekeringan, bencana lain juga masih terjadi di sejumlah daerah. Kebakaran lahan perkebunan dilaporkan terjadi di Desa Alur Cincin, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, pada Jumat (12/6) sore.

BPBD Kabupaten Bener Meriah mengerahkan dua unit armada pemadam kebakaran untuk menangani kebakaran yang melanda lahan seluas sekitar dua hektare. Api berhasil dipadamkan dalam waktu sekitar satu jam sebelum petugas melanjutkan proses pendinginan. Hingga kini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Sementara itu, banjir masih membayangi Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut menyebabkan meluapnya sungai dan merendam 176 rumah warga di Desa Ongka, Kecamatan Ongka Malino.

Meski genangan sempat surut, BPBD setempat mengingatkan masyarakat agar tetap waspada. Hujan yang kembali turun pada malam hari berpotensi meningkatkan debit sungai dan memicu banjir susulan.

BNPB mengingatkan bahwa kondisi cuaca saat ini menunjukkan karakter yang berbeda di setiap wilayah. Sejumlah daerah mulai memasuki musim kemarau, sementara wilayah lain masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.

Karena itu, masyarakat di daerah rawan kekeringan diimbau menghemat penggunaan air serta memanfaatkan sumber daya air secara bijak. Warga juga diminta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau berlangsung.

Sementara bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir, terutama di sekitar aliran sungai dan wilayah perbukitan, BNPB meminta agar terus memantau perkembangan cuaca dan meningkatkan kewaspadaan saat hujan turun dalam durasi panjang.

Selain itu, pemerintah daerah dan BPBD diminta terus melakukan pemantauan kondisi tanggul, aliran sungai, saluran drainase, serta memperkuat patroli di wilayah rawan kebakaran guna mengurangi risiko bencana dan mempercepat respons saat kondisi darurat terjadi. (***)/one