NASIONAL

Baby Gajah Sumatera Lahir 123 Kg, Aris-Mega Tambah Keturunan

×

Baby Gajah Sumatera Lahir 123 Kg, Aris-Mega Tambah Keturunan

Sebarkan artikel ini
foto : kehutanan.go.id

BERITAPRESS.ID, JAKARTA | Taman Satwa Lembah Hijau Lampung kembali mencatat keberhasilan konservasi dengan lahirnya bayi gajah Sumatera berbobot 123 kilogram dari pasangan Aris dan Mega.

Kelahiran anak Gajah Sumatera ini menambah populasi satwa langka yang dilindungi sekaligus memperkuat program pengembangbiakan gajah Sumatera di lembaga konservasi, sebagai bagian dari upaya pelestarian satwa endemik Indonesia yang terus terancam kehilangan habitat.

Di tengah upaya panjang menjaga kelestarian satwa liar Indonesia, kabar bahagia datang dari Taman Satwa Lembah Hijau Lampung. Seekor anak gajah Sumatera berjenis kelamin betina lahir pada 5 Juni 2026 dari pasangan induk Aris (29 tahun) dan Mega (27 tahun). Bobotnya yang mencapai 123 kilogram menandakan kondisi kesehatan yang baik sejak awal kelahiran.

Kelahiran ini menjadi momen istimewa karena merupakan anak kedua dari pasangan Aris dan Mega. Sebelumnya, keduanya telah melahirkan seekor anak gajah jantan bernama Rawana pada 7 Agustus 2022. Dengan kelahiran terbaru ini, pasangan gajah tersebut kembali menunjukkan kontribusi penting dalam program breeding konservasi di lembaga tersebut.

Saat ini, anak gajah tersebut dalam kondisi sehat dan terus mendapatkan pemantauan intensif dari tim Mahout (pawang gajah) serta tim medis Taman Satwa Lembah Hijau. Pemantauan dilakukan secara berkala untuk memastikan proses tumbuh kembangnya berjalan optimal, mengingat gajah Sumatera termasuk satwa yang membutuhkan perhatian khusus sejak usia dini.

Kehadiran anak gajah betina ini tidak hanya menjadi kebanggaan internal lembaga konservasi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan populasi Gajah Sumatera yang saat ini semakin tertekan akibat penyempitan habitat dan konflik dengan aktivitas manusia.

Komisaris Utama Taman Satwa Lembah Hijau, Irwan Nasution, menyebut kelahiran ini sebagai bukti nyata komitmen lembaga dalam mendukung konservasi ex-situ. Ia menegaskan bahwa pengelolaan satwa, khususnya gajah Sumatera, dilakukan dengan pendekatan berkelanjutan yang berfokus pada kesejahteraan hewan dan keberhasilan reproduksi.

“Kelahiran anak gajah ini menjadi bukti nyata komitmen Taman Satwa Lembah Hijau dalam mendukung pelestarian Gajah Sumatera. Kami akan terus meningkatkan kualitas pengelolaan, perawatan, dan program pengembangbiakan sebagai kontribusi nyata terhadap upaya konservasi satwa langka Indonesia,” ujarnya.

Dari sisi pengawasan konservasi, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Agung Nugroho, juga memberikan apresiasi atas keberhasilan tersebut. Menurutnya, keberhasilan breeding ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara lembaga konservasi dan tenaga profesional mampu memberikan dampak nyata bagi pelestarian satwa dilindungi.

Ia menegaskan bahwa model pengelolaan seperti ini perlu terus diperkuat agar tidak hanya berfokus pada pelestarian di alam (in situ), tetapi juga melalui pengembangbiakan di lembaga konservasi (ex situ).

Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memberikan perhatian khusus dengan menamai anak gajah tersebut “Rut”. Nama itu disebut sebagai simbol persahabatan dan bentuk penghargaan atas dukungan Norwegia dalam agenda konservasi lingkungan di Indonesia.

“Kami memberikan nama Rut sebagai simbol persahabatan dan penghargaan kepada Pemerintah Norwegia, khususnya Ibu Rut Krüger Giverin, yang selama ini telah menunjukkan komitmen dan kontribusi nyata dalam mendukung agenda konservasi hutan dan lingkungan hidup di Indonesia,” ujarnya.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko, menambahkan bahwa keberhasilan kelahiran ini menjadi bukti bahwa program breeding gajah Sumatera dapat berjalan efektif bila didukung pengelolaan yang baik, tenaga profesional, serta prinsip kesejahteraan satwa.

Menurutnya, lembaga konservasi juga perlu terus bertransformasi menuju pengelolaan yang berorientasi pada edukasi publik dan animal welfare, sejalan dengan kebijakan konservasi modern di Indonesia.

Kelahiran anak gajah ini menjadi simbol harapan baru bagi upaya pelestarian satwa liar Indonesia. Di tengah tantangan besar berupa hilangnya habitat alami dan tekanan ekologis, keberhasilan reproduksi di lembaga konservasi menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga keberlanjutan populasi.

Sinergi antara pemerintah, lembaga konservasi, tenaga ahli, dan masyarakat diharapkan terus diperkuat agar keberhasilan seperti ini tidak berhenti pada satu kelahiran, tetapi menjadi bagian dari gerakan besar penyelamatan spesies kunci Indonesia untuk generasi mendatang.(***) kehutanan.go.id/one