BERITAPRESS.ID, PALU | Aktivitas seismik di Sulawesi Tengah masih menunjukkan pergerakan yang tinggi setelah gempa berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah tenggara Kota Palu pada 16 Juni 2026. Hingga Jumat (19/6), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 949 gempa susulan yang terjadi di kawasan terdampak.
Jumlah gempa susulan yang terus bertambah tersebut menjadi perhatian serius karena berpotensi memengaruhi kondisi bangunan yang sebelumnya telah mengalami kerusakan akibat guncangan utama. Untuk memperoleh gambaran dampak yang lebih akurat, BMKG mengerahkan tim teknis ke sejumlah lokasi terdampak, terutama di Kabupaten Sigi dan Kota Palu.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, mengatakan tim dari Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar bersama Stasiun Geofisika Kelas I Palu telah berada di lapangan sejak 17 Juni 2026.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi bangunan dan lingkungan pascagempa dapat dipetakan secara menyeluruh. BMKG juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) guna mendukung penanganan di wilayah terdampak.
“Tim BMKG melakukan koordinasi erat dengan Pemerintah Daerah dan BPBD setempat guna mempercepat penanganan di lapangan,” kata Ayu.
Di lapangan, tim melakukan dua kegiatan utama. Pertama adalah survei makroseismik yang berfokus pada pendataan dampak gempa terhadap bangunan. Kegiatan ini meliputi verifikasi kerusakan, identifikasi tingkat dampak, serta dokumentasi visual pada berbagai objek yang terdampak guncangan.
Pendataan dilakukan terhadap rumah warga, fasilitas pendidikan, kantor pemerintahan, hingga sejumlah bangunan komersial. Hasil awal menunjukkan tingkat kerusakan yang bervariasi, mulai dari ringan hingga sedang.
Selain memeriksa bangunan, BMKG juga menjalankan survei mikrotremor untuk mengetahui karakteristik tanah di wilayah terdampak. Kajian ini penting karena kondisi tanah memiliki pengaruh besar terhadap tingkat guncangan yang dirasakan saat terjadi gempa bumi.
Melalui pengukuran tersebut, tim dapat memetakan respons tanah terhadap gelombang seismik dan memperoleh data bawah permukaan yang dibutuhkan dalam kajian seismologi teknik. Hasilnya akan menjadi bahan evaluasi dalam perencanaan pembangunan yang lebih aman terhadap risiko gempa di masa mendatang.
Berdasarkan temuan sementara, dampak kerusakan di Kabupaten Sigi terpantau lebih dominan dibandingkan sejumlah wilayah lainnya. Beberapa bangunan hunian serta fasilitas publik mengalami kerusakan pada tingkat sedang akibat kuatnya guncangan yang dirasakan masyarakat.
Sementara itu, di Kota Palu, kerusakan yang ditemukan umumnya berada pada kategori ringan hingga sedang. Meski demikian, BMKG masih melakukan pengecekan lanjutan untuk memastikan seluruh data lapangan tervalidasi dengan baik.
Di tengah proses survei yang berlangsung, BMKG juga terlibat dalam kegiatan sosialisasi kepada masyarakat terkait karakteristik gempa merusak dan langkah mitigasi yang perlu dilakukan saat terjadi guncangan. Edukasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan warga menghadapi kemungkinan gempa susulan.
BMKG menegaskan bahwa seluruh data yang dikumpulkan dari survei lapangan akan diolah menjadi laporan teknis komprehensif. Dokumen tersebut nantinya menjadi salah satu rujukan penting bagi pemerintah dalam menyusun program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Selain itu, hasil kajian juga akan digunakan untuk memperkuat strategi mitigasi jangka panjang, terutama pada wilayah yang memiliki tingkat kerawanan gempa tinggi seperti Sulawesi Tengah.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi gempa susulan yang masih mungkin terjadi. Warga juga diminta memperhatikan kondisi bangunan sebelum digunakan kembali serta mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG dan instansi terkait guna menghindari informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. (***)



























