Kesehatan

Vaksin DBD Palembang, 4.500 Anak Dicegah DBD

×

Vaksin DBD Palembang, 4.500 Anak Dicegah DBD

Sebarkan artikel ini

BERITAPRESS.ID, PALEMBANG/ DBD Palembang kembali menjadi perhatian serius di tengah meningkatnya curah hujan yang mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Kondisi ini memicu kekhawatiran karena kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Palembang masih menunjukkan angka yang cukup tinggi, terutama di lingkungan padat penduduk dan sekolah.

Musim hujan yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir membuat risiko penularan semakin sulit dikendalikan. Genangan air yang muncul di berbagai titik menjadi tempat ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak, sehingga potensi penyebaran penyakit meningkat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, tercatat lebih dari 2.600 kasus DBD di wilayah Palembang dalam periode terakhir hingga akhir 2025. Angka tersebut menempatkan Palembang sebagai salah satu daerah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap penyakit tersebut.

Melihat kondisi ini, Pemerintah Kota Palembang mengambil langkah cepat dengan memperluas program vaksinasi DBD di kalangan anak sekolah. Sedikitnya 4.500 anak dari 41 sekolah telah menerima vaksinasi dosis pertama sebagai bagian dari upaya pencegahan dini.

Program ini tidak hanya menjadi langkah medis, tetapi juga strategi pengendalian jangka panjang untuk menekan angka penularan di lingkungan pendidikan yang memiliki mobilitas tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, dr. Fenty Aprina, mengatakan bahwa musim hujan menjadi periode paling rawan meningkatnya kasus DBD di kota tersebut.

“Upaya pencegahan tidak cukup hanya dengan gerakan 3M Plus, tetapi juga harus diperkuat dengan perlindungan langsung kepada anak-anak sebagai kelompok yang paling rentan,” ujarnya.

Menurutnya, anak-anak menjadi kelompok yang paling perlu dilindungi karena aktivitas mereka di sekolah membuat potensi paparan lebih besar, terutama di lingkungan yang kurang bersih atau memiliki banyak genangan air.

Program vaksinasi ini juga melibatkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Selain vaksinasi, para peserta juga mendapatkan pemantauan kesehatan secara berkala untuk memastikan kondisi tetap stabil setelah imunisasi.

Meski program pencegahan terus diperkuat, kekhawatiran masyarakat terhadap penyebaran DBD masih cukup tinggi. Hal ini dipicu oleh pengalaman tahun-tahun sebelumnya ketika kasus meningkat tajam saat puncak musim hujan.

Selain vaksinasi, pemerintah juga tetap menggalakkan Gerakan 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, dan mengubur barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Program ini juga diperkuat dengan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) yang melibatkan peran aktif masyarakat dalam pemantauan jentik nyamuk di lingkungan rumah.

Tidak hanya pemerintah, masyarakat juga diimbau untuk lebih waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Beberapa langkah sederhana seperti rutin membersihkan bak mandi, menguras tempat air, serta menggunakan lotion anti nyamuk dapat membantu mengurangi risiko penularan.

Selain itu, penggunaan kelambu atau obat nyamuk di rumah juga dianjurkan terutama pada malam hari ketika aktivitas nyamuk meningkat.

Dr. Fenty menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian DBD tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi semua pihak, mulai dari sekolah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat.

“Kolaborasi ini sangat penting agar perlindungan terhadap anak-anak dan masyarakat bisa lebih optimal,” katanya.

Dengan berbagai langkah tersebut, Pemerintah Kota Palembang berharap angka kasus DBD dapat ditekan secara bertahap, terutama menjelang puncak musim hujan yang biasanya menjadi periode paling rawan penyebaran penyakit. (***)/one