BERITAPRESS.ID, MUSI RAWAS| Kalau kamu dengar nama ‘Rumah Dilan’ sebagian orang mungkin langsung mikir tentang cerita cinta remaja yang bikin baper, pasalnya kalau hujan sedikit bisa jadi puisi, bahkan senyum sedikit bisa menjadi kenangan.
Tapi, jangan salah sangka dulu. Di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, “Dilan” yang ini bukan urusan cinta-cintaan, pasalnya hal ini menjadi urusan kemandirian ekonomi yang serius tapi tetap kreatif.
Namun Rumah Dilan Melati justru menjadi tempat “jatuh cinta” lain yang kreatif, jatuh cinta pada keterampilan, inovasi, dan hasil karya tangan-tangan ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati.
Ketua TP PKK Provinsi Sumatera Selatan, Hj. Febrita Lustia HD, saat berkunjung ke lokasi ini, tampak meninjau langsung berbagai produk unggulan yang lahir dari kreativitas warga. Mulai dari kain ecoprint berbahan pewarna alami hingga olahan minuman herbal berbasis pinang muda.
Yang menariknya lagi, ecoprint di sini tidak sekadar cantik di mata, tapi juga punya cerita panjang di baliknya. Bahan pewarna diambil dari alam sekitar, mulai dari bunga kertas, jeruk, jambu, sampai biji pinang yang selama ini mungkin lebih sering dianggap “teman ngopi orang tua”.
Di tangan KWT Melati, pinang tidak lagi cuma simbol tradisi lama, tapi berubah jadi pewarna kain yang punya nilai jual baru. Kalau biasanya pinang “habis di mulut”, kini justru “hidup di motif kain”.
“Rumah Dilan ini menunjukkan bagaimana kreativitas desa bisa tumbuh dari potensi lokal,” ujar Febrita saat memberikan apresiasi. Ia menilai, inovasi seperti ini bisa menjadi jalan baru untuk meningkatkan ekonomi keluarga di desa.
Menurutnya KWT Melati tidak menunggu bahan dari luar. Mereka justru membudidayakan sendiri tanaman yang dibutuhkan untuk ecoprint di sekitar rumah warga. Jadi kalau ada yang bilang “desa ini jauh dari industri”, mungkin perlu direvisi karena industri di sini justru tumbuh dari halaman rumah sendiri.
Selain kain, mereka juga meracik minuman herbal bandrek jahe pinang muda. Hangat di tenggorokan, sekaligus hangat juga untuk harapan ekonomi keluarga. Kalau kata orang sini, satu untuk badan, satu lagi untuk masa depan.
Rumah Dilan Melati akhirnya bukan sekadar tempat kegiatan, tapi sudah jadi ruang belajar, ruang produksi, dan ruang harapan. Nama boleh romantis, tapi isinya sangat realistis: bagaimana desa bisa berdiri di kaki sendiri lewat kreativitas warganya.
Dan mungkin, kalau Dilan yang asli datang ke sini, dia bukan lagi menulis puisi untuk Milea—tapi malah belajar bikin motif dari daun jambu. (***)/one




























































