Muba

Donor Darah IDI Muba Bukan Cuma Berbagi, Tapi Menyelamatkan Nyawa

×

Donor Darah IDI Muba Bukan Cuma Berbagi, Tapi Menyelamatkan Nyawa

Sebarkan artikel ini
fot : ist

BERITAPRESS.ID, SEKAYU, Muba | Donor Darah IDI Muba kembali menjadi bukti aksi kemanusiaan tak selalu harus dilakukan dengan cara yang besar.

Melalui bakti sosial dan donor darah yang digelar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Musi Banyuasin bersama PMI Muba di Pendopoan Wakil Bupati Muba, Senin (29/6/2026), semangat berbagi diwujudkan dalam bentuk yang paling sederhana, tetapi paling dibutuhkan, yakni setetes darah untuk menyelamatkan nyawa.

Kegiatan tersebut pun mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Muba karena dinilai memperkuat sinergi pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Ada pepatah lama bilang, “sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.” Kalau dalam urusan donor darah, pepatah itu rasanya perlu sedikit diubah. “Setetes-setetes lama-lama menyelamatkan banyak nyawa”.

Darah memang tidak bisa ditanam seperti padi, tidak bisa dipanen seperti karet, apalagi diproduksi di pabrik. Ketika stok menipis, satu-satunya “pabrik” yang bisa memasoknya hanyalah manusia yang rela berbagi.

Kalau dipikir, darah memang “barang” yang paling aneh di dunia. Tidak bisa dibeli di warung, tidak tersedia di minimarket, apalagi bisa dipesan lewat kurir kilat dengan tulisan “sampai dalam 15 menit”.

Ketika rumah sakit membutuhkan stok darah, satu-satunya tempat produksi hanyalah tubuh manusia yang bersedia berbagi. Karena itulah, setiap orang yang datang menggulung lengan baju hari itu sejatinya sedang membawa harapan bagi orang lain yang bahkan belum pernah mereka kenal.

Suasana di lokasi pun jauh dari kesan kaku. Satu per satu peserta mengikuti pemeriksaan kesehatan sebelum mendonorkan darahnya.

Ada yang sudah berkali-kali menjadi pendonor, ada pula yang baru pertama kali mencoba. Wajah tegang memang sempat terlihat sebelum jarum menyentuh lengan. Namun beberapa menit kemudian, senyum kembali mengembang. Rupanya, rasa takut itu tidak sebesar keinginan untuk membantu sesama.

Panitia juga memberikan apresiasi kepada 75 pendonor pertama berupa beras premium seberat lima kilogram.

Hadiah itu memang disambut antusias. Lumayan, pulang membawa beras untuk keluarga. Tetapi para pendonor sadar, hadiah sesungguhnya bukanlah sekantong beras. Hadiah terbesar adalah ketika darah yang mereka sumbangkan kelak menjadi harapan hidup bagi pasien yang sedang menjalani operasi, korban kecelakaan, ibu melahirkan, atau anak-anak yang rutin membutuhkan transfusi darah.

Wakil Bupati Musi Banyuasin, Kyai Abdur Rohman Husen, yang hadir dalam kegiatan menyampaikan apresiasi kepada IDI Cabang Muba atas inisiatif menggelar bakti sosial dan donor darah.

Menurutnya, kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan bukan hanya berlangsung di rumah sakit atau puskesmas, tetapi juga tumbuh dari kepedulian sosial yang melibatkan banyak pihak.

Ia menegaskan Muba akan terus mendukung dan memfasilitasi berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Fasilitas milik pemerintah, kata dia, memang harus digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan publik selama tidak berbenturan dengan agenda lainnya.

“Kami selalu siap mendukung dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Fasilitas pemerintah ini silakan dimanfaatkan untuk kepentingan pelayanan masyarakat selama tidak berbenturan dengan agenda lainnya. Yang terpenting, seluruh fasilitas daerah harus mampu menghadirkan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Abdur Rohman, donor darah bukan kegiatan seremonial, sebab dibalik satu kantong darah terdapat kesempatan hidup bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit. Bahkan, seseorang yang mendonorkan darahnya mungkin tidak pernah mengetahui siapa penerimanya. Namun justru di situlah letak indahnya kepedulian. Berbuat baik tanpa memilih kepada siapa manfaat itu akan sampai.

“Setetes darah yang kita donor hari ini bisa menjadi penyelamat bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit. Donor darah adalah bentuk solidaritas, kepedulian, sekaligus amal kemanusiaan yang nilainya sangat besar. Saya mengajak seluruh masyarakat yang memenuhi syarat kesehatan untuk menjadikan donor darah sebagai budaya berbagi kepada sesama,” katanya.

Ia mengingatkan membangun pelayanan kesehatan tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi antara organisasi profesi, rumah sakit, puskesmas, PMI, dunia usaha hingga masyarakat.

Ibaratnya  memasak pindang, kalau hanya ikannya saja yang masuk panci tentu rasanya belum lengkap. Perlu bumbu, rempah, dan api agar menghasilkan hidangan yang nikmat. Begitu pula pelayanan kesehatan, hasil terbaik hanya lahir ketika semua pihak bergerak bersama.

Abdur Rohman berharap kegiatan donor darah dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan agar stok darah di Muba tetap terjaga sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk rutin menjadi pendonor.

Oleh karena itu aksi donor darah selalu mengajarkan satu hal sederhana. Menjadi pahlawan ternyata tidak harus memakai jubah, tidak pula harus viral di media sosial. Kadang cukup datang, mengisi formulir, menjalani pemeriksaan kesehatan, lalu merelakan beberapa ratus mililiter darah mengalir ke kantong donor.

Bahkan hanya belasan menit, tetapi manfaatnya bisa menjadi alasan seseorang kembali memeluk keluarganya. Bukankah itu keuntungan yang tak bisa dihitung dengan angka?.(***)