NASIONAL

Kenapa Hiu Perlu “Sekolah Dulu” Sebelum Kembali ke Laut?

×

Kenapa Hiu Perlu “Sekolah Dulu” Sebelum Kembali ke Laut?

Sebarkan artikel ini
foto : kkp.go.id

BERITAPRESS.ID, TANGERANG SELATAN | Di permukaan, pelepasliaran hiu oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terdengar seperti cerita sederhana, ikan kembali ke laut, selesai urusan.

Namun tak segampang itu ternyata, sebab dibalik itu, ada proses yang jauh lebih panjang semacam “sekolah kehidupan” bagi hiu sebelum benar-benar dianggap siap kembali ke habitat alaminya.

KKP melalui program konservasi terintegrasi tidak hanya mengandalkan perlindungan di alam, tetapi juga melakukan pengembangbiakan atau captive breeding, rehabilitasi, hingga konservasi ex-situ untuk menjaga keberlanjutan spesies laut yang semakin tertekan.

Dalam salah satu kegiatan terbaru, KKP melepas 25 ekor Hiu Bambu (Chiloscyllium punctatum) hasil captive breeding dan 5 ekor Hiu Karang Sirip Hitam (Carcharhinus melanopterus) ke kawasan konservasi perairan Kepulauan Seribu Selatan.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik KKP, Sarmintohadi, menjelaskan  pendekatan ini bukan sekadar memindahkan ikan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan bagian dari strategi pemulihan populasi.

“Konservasi tidak hanya dilakukan melalui perlindungan habitat di alam, tetapi juga melalui upaya rehabilitasi, pengembangbiakan, penelitian, dan edukasi,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Di alam liar, hiu menghadapi tekanan besar, penurunan kualitas habitat, perubahan ekosistem, hingga aktivitas penangkapan ikan yang masih terjadi di sejumlah wilayah.

Karena itu, captive breeding menjadi ruang pemulihan. Di fase ini, hiu dibesarkan dan dipantau sebelum dilepas kembali ke alam.

Secara sederhana, laut tidak lagi sepenuhnya siap pakai untuk semua spesies. Sebagian harus dipulihkan dulu, dan sebagian lainnya perlu dipersiapkan ulang sebelum dilepas.

Pelepasliaran menjadi tahap akhir dari rangkaian panjang tersebut, bukan titik awal.

Selain pelepasliaran, KKP juga mengembangkan konservasi ex-situ sebagai sarana edukasi publik. Salah satunya melalui pengenalan Pot-bellied Seahorse yang berasal dari hibah YO-GYO Aquarium Jepang kepada BXSea Oceanarium.

Spesies ini tidak dilepas ke alam, melainkan dipelihara dalam fasilitas edukasi untuk tujuan penelitian dan peningkatan kesadaran masyarakat.

KKP juga menggandeng BXSea Oceanarium dalam berbagai program, mulai dari rehabilitasi biota perairan, restocking ikan, peningkatan kapasitas SDM, hingga edukasi konservasi laut.

Program konservasi KKP kini bergerak di dua ruang sekaligus, di laut lepas tempat hiu dilepas kembali, dan di ruang edukasi buatan tempat masyarakat belajar mengenal biota laut lebih dekat.

Dua pendekatan ini menunjukkan satu hal yaitu menjaga laut tidak cukup hanya dengan melindungi alam, tetapi juga dengan mempersiapkan ulang ekosistem yang sudah terlanjur berubah. (***)  kkp/one