Press

Dari Jalan Sulit hingga Pasar Terbuka,  Perjalanan Sudarnaji Warga Desa Mekar Jaya dan Apresiasi  Pembangunan OKU Selatan

×

Dari Jalan Sulit hingga Pasar Terbuka,  Perjalanan Sudarnaji Warga Desa Mekar Jaya dan Apresiasi  Pembangunan OKU Selatan

Sebarkan artikel ini

BERITAPERSS, ID OKU Selatan — Perjalanan hidup Sudarnaji (55), ayah tiga anak asal Desa Mekar Jaya, Kecamatan Buay Pemaca, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, dibangun dari langkah-langkah sederhana. Jauh sebelum menekuni dunia usaha dan perdagangan kopi, ia lebih dulu merasakan kerasnya kehidupan sebagai buruh kebun di tanah rantau.

Perjalanan itu dimulai pada 1988, tak lama setelah menyelesaikan pendidikan SMP. Di usia muda, Sudarnaji memilih merantau dan bekerja sebagai tenaga buruh di perkebunan. Dari pekerjaan tersebut, ia memperoleh upah sekitar  400 ribu rupiah.

Penghasilan yang saat itu terasa berarti baginya, tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada cita-cita lain yang ingin diwujudkannya, yakni kembali melanjutkan pendidikan.

Setelah bekerja dan mengumpulkan hasil jerih payahnya, Sudarnaji kembali ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.

Perjalanan pendidikannya sempat tertunda selama satu tahun. Namun, keterlambatan itu tidak menyurutkan tekadnya untuk menyelesaikan sekolah. Hingga akhirnya, pada 1992, Sudarnaji berhasil menuntaskan pendidikan SMA.

Setelah menyelesaikan pendidikan, ia kembali ke Desa Mekar Jaya dan mulai menekuni kembali dunia pertanian yang sebelumnya telah dikenalnya. Ia menyewa kebun milik warga dengan sistem bagi hasil.

Dari kebun tersebut, perlahan ia membangun pengalaman dan mulai memahami bahwa pertanian bukan hanya soal mengolah lahan, tetapi juga bagaimana hasilnya dapat dipasarkan dan memberikan nilai ekonomi bagi keluarga.

Pada 1997,  Sudarnaji menikah dengan Murwati. Bersama sang istri, ia kemudian membangun keluarga sekaligus merintis berbagai usaha dari skala kecil.

Pada 2004, ia membuka warung manisan. Untuk menambah penghasilan, Sudarnaji juga menjadi pengemudi ojek. Pada masa itu, akses jalan dari Desa Mekar Jaya menuju Kotaway, ibu kota Kecamatan Buay Pemaca, belum semudah sekarang.

Keterbatasan infrastruktur membuat biaya membawa hasil perkebunan menjadi relatif tinggi. Menurut Sudarnaji, ongkos angkutan menggunakan ojek dari Desa Mekar Jaya menuju Kotaway ketika itu mencapai sekitar 600 rupiah per kilogram

Kondisi tersebut perlahan berubah seiring terbukanya akses jalan. Perbaikan konektivitas, membuat masyarakat lebih mudah membawa hasil pertanian dan perkebunan menuju pusat perdagangan. Biaya angkutan pun secara bertahap menjadi lebih baik.

Kini kondisinya jauh berbeda, setelah akses jalan semakin terbuka, biaya pengangkutan hasil perkebunan menuju gudang dan pasar di luar daerah, termasuk ke kawasan Teluk Lampung, disebut kurang dari 600 rupiah per kilogram.

Perubahan akses tersebut membuat mobilitas hasil perkebunan menjadi lebih efisien. Hasil pertanian masyarakat dapat lebih mudah dibawa keluar desa dan dipasarkan ke wilayah yang lebih luas.

Tidak hanya jalan, perkembangan jaringan telekomunikasi juga membawa perubahan signifikan. Potensi tersebut menjadi semakin bernilai ketika didukung akses transportasi dan komunikasi yang memadai.

Masyarakat kini dapat berkomunikasi langsung dengan calon pembeli maupun pelaku usaha di luar daerah. Petani memiliki kesempatan untuk mencari pasar dan menjual hasil panen secara lebih langsung tanpa sepenuhnya bergantung kepada perantara.

Menurut Sudarnaji, perkembangan tersebut membuka peluang baru bagi masyarakat desa untuk mendapatkan nilai ekonomi yang lebih baik dari hasil perkebunan mereka.

Desa Mekar Jaya sendiri merupakan wilayah perbukitan yang memiliki potensi perkebunan cukup besar. Dalam satu kali musim panen, produksi komoditas perkebunan Kopi masyarakat diperkirakan mencapai sekitar 5.000 ton. Sementara produksi karet berada di kisaran 20 ton setiap pekan.

Tentunya, perubahan tersebut merupakan sesuatu yang patut disyukuri. Ia menilai perkembangan infrastruktur di wilayahnya memberikan ruang bagi masyarakat untuk meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus memperluas pasar.

Sudarnaji menyadari bahwa keberhasilan yang dirasakan hari ini bukanlah hasil dari perjalanan singkat. Puluhan tahun menjalani kehidupan sebagai buruh kebun, petani, pedagang kecil, pengemudi ojek hingga pengusaha hasil perkebunan telah mengajarkannya bahwa perubahan membutuhkan kesabaran dan keberanian untuk terus mencoba.

Dari penghasilan .400 ribu rupiah sebagai buruh kebun, ia perlahan membangun kehidupan bersama keluarga. Tidak ada lompatan besar dalam perjalanan itu. Semuanya, ditempuh melalui proses panjang, sedikit demi sedikit, dari satu usaha ke usaha berikutnya.

Kini, usaha yang ditekuninya tidak hanya memberikan manfaat bagi keluarganya. Tetapi juga bagi masyarakat lainya, karena Aktivitas perdagangan hasil perkebunan juga ikut menjadi bagian dari mata rantai ekonomi masyarakat sekitar.

Di balik perjalanan tersebut, Sudarnaji menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten OKU Selatan yang dinilainya telah memberikan perhatian terhadap pembangunan infrastruktur dan membuka akses yang semakin luas bagi masyarakat pedesaan.

Menurutnya, perubahan yang terjadi setelah OKU Selatan berdiri sebagai daerah otonom memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya dalam membuka akses wilayah dan memperlancar aktivitas ekonomi.

Ia mengapresiasi langkah pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Bupati Muhtadin Serai, dan Popo Ali yang dinilainya telah membawa perubahan bagi masyarakat, terutama dalam pembangunan akses jalan dan jaringan komunikasi.

” Perubahan ini sangat kami rasakan. Jalan semakin terbuka, komunikasi semakin mudah, sehingga hasil kebun masyarakat juga lebih mudah dipasarkan. Kami tentu berterima kasih kepada pemerintah daerah yang terus membuka akses bagi masyarakat, ”  katanya, seraya berbincang santai. (Jum’at 7/8/2026).

Lebih lanjut Sudarji menyampaikan, meskipu perubahan telah dirasakan, masih terdapat persoalan yang menjadi harapan masyarakat, terutama menyangkut kepastian status lahan dan pekarangan yang selama ini ditempati atau dikelola warga.

Sebagian wilayah Desa Mekar Jaya diketahui berada di kawasan yang bersinggungan dengan status hutan kawasan. Karena itu, masyarakat berharap adanya kejelasan dan kepastian hukum mengenai status lahan yang mereka tempati dan kelola.

” Kepastian tersebut dinilai penting agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas pertanian dan perkebunan dengan rasa aman sekaligus memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan, ” pungkasnya mengakhiri perbincangan.(SR)