NASIONAL

Badar Lahir di Jantho, Asa Baru Orangutan Sumatera

×

Badar Lahir di Jantho, Asa Baru Orangutan Sumatera

Sebarkan artikel ini
foto : kehutanan.go.id

BERITAPRESS, BANDA ACEH/ Rimbunnya Cagar Alam Jantho, Aceh Besar menjadi sebuah kabar pelan danmenggetarkan hati yang datang dari tajuk-tajuk pohon yang menjulang tinggi, pasalnya seekor orangutan Sumatera (Pongo abelii) bernama Bulan melahirkan seekor bayi jantan yang kemudian diberi nama Badar.

Kelahiran ini menjadi penanda penting  proses panjang rehabilitasi dan pelepasliaran satwa liar di Indonesia tidak hanya berhasil mengembalikan individu ke alam, tetapi juga memungkinkan mereka membangun kehidupan baru secara utuh di habitat alaminya.

Bulan bukanlah orangutan yang langsung hidup bebas sejak awal kehidupannya. Ia memiliki perjalanan panjang yang penuh luka. Pada tahun 2014, saat masih sangat muda, Bulan diselamatkan dari praktik perdagangan satwa liar di Kutacane, Aceh Tenggara.

Saat itu, ia berada dalam kondisi yang rentan, jauh dari induk dan habitat alaminya. Ia kemudian menjalani proses penyelamatan yang menjadi titik balik kehidupannya, sebelum akhirnya masuk ke dalam program rehabilitasi di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan YEL-SOCP Sibolangit.

Selama empat tahun, Bulan menjalani proses yang tidak sederhana. Ia harus belajar kembali menjadi orangutan seutuhnya, bukan sekadar bertahan hidup dalam kandang rehabilitasi, tetapi benar-benar siap menghadapi kerasnya kehidupan liar.

Ia belajar memanjat pohon tinggi dengan aman, mengenali jenis-jenis makanan di hutan, membangun sarang untuk beristirahat, hingga membaca arah dan tanda-tanda alam. Semua itu menjadi bekal penting sebelum akhirnya pada tahun 2018 ia dilepasliarkan ke Cagar Alam Jantho.

Sejak saat itu, Jantho menjadi rumah baru bagi Bulan. Di tengah hutan yang luas dan alami, ia perlahan beradaptasi. Ia bergerak bebas di antara kanopi hutan, menjelajahi wilayah jelajahnya, dan menjalani kehidupan sebagai orangutan liar sepenuhnya.

Proses adaptasi ini menjadi bukti bahwa rehabilitasi yang dilakukan dengan benar dapat memberikan kesempatan kedua yang nyata bagi satwa yang pernah terancam oleh aktivitas manusia.

Hingga kemudian pada 22 Mei 2026, tim Post Release Monitoring YEL-SOCP mengonfirmasi sebuah momen penting yang mengubah catatan konservasi di kawasan tersebut. Bulan terlihat menggendong seekor bayi orangutan jantan yang masih sangat kecil, diperkirakan berusia sekitar satu bulan. Bayi itu tampak sehat dan terus melekat erat di tubuh induknya, tidak terpisahkan dalam setiap pergerakan di antara dahan-dahan pohon.

Bayi tersebut kemudian diberi nama Badar oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. Nama ini memiliki makna bulan purnama, yang melambangkan cahaya dan harapan baru di tengah upaya panjang pelestarian orangutan Sumatera.

Kehadiran Badar menjadi simbol bahwa kehidupan liar masih terus berlangsung, dan bahwa alam masih memiliki kemampuan untuk memulihkan dirinya ketika diberi kesempatan.

Dalam pengamatan tim di lapangan, Bulan terlihat sangat protektif terhadap anaknya. Ia bergerak hati-hati, memastikan Badar selalu berada dalam pelukannya saat berpindah dari satu pohon ke pohon lain.

Jaga hutan

Momen ini bukan hanya menggambarkan naluri keibuan, tetapi juga menunjukkan  Bulan telah sepenuhnya mampu menjalani kehidupan liar, termasuk bereproduksi secara alami di habitatnya.

Kepala Balai KSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, dilaman resmi kehutanan.go.id menyampaikan kelahiran ini menjadi bukti nyata keberhasilan program konservasi orangutan Sumatera. Ketika individu hasil rehabilitasi dapat kembali ke alam, beradaptasi, dan kemudian melahirkan keturunan, itu menunjukkan ekosistem masih berfungsi dan mendukung siklus kehidupan satwa liar sebagaimana mestinya.

Namun  disuasana yang menggembirakan ini, tersimpan pula pengingat penting. Orangutan Sumatera masih menghadapi ancaman serius akibat hilangnya habitat, fragmentasi hutan, dan tekanan aktivitas manusia.

Sehingga kelahiran Badar di Jantho menjadi cahaya kecil yang mengingatkan  keberhasilan konservasi tidak boleh membuat kewaspadaan berkurang, justru harus memperkuat komitmen untuk menjaga hutan yang tersisa.

Oleh sebab itu, pada akhirnya, kisah Bulan dan Badar bukan sekadar catatan keberhasilan satu individu satwa liar. Ini adalah cerita tentang harapan yang tumbuh kembali di tengah hutan, tentang kesempatan kedua yang dimanfaatkan dengan baik, dan tentang hubungan rapuh antara manusia dan alam yang harus terus dijaga.

Di antara rimbunnya Jantho, Badar menjadi simbol selama hutan tetap berdiri, kehidupan akan selalu menemukan jalannya untuk bertahan. (***)