BERITAPRESS.ID, PALEMBANG | Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat menggelar sosialisasi Teknologi Irigasi Bawah Permukaan sebagai solusi budidaya sayuran pada musim kemarau di Sekretariat Kelompok Tani Sukasari, Jalan Kampung Sukasari RT 15 RW 05, Kelurahan Talang Kelapa, Kecamatan Alang-Alang Lebar, Palembang, Jumat (3/7/2026).
Kegiatan yang di moderatori Ir. Harfa Sakri.,S.Pd.,M.T, diikuti oleh anggota Kelompok Tani Sukasari, penyuluh pertanian, dan sejumlah tamu undangan ini bertujuan memperkenalkan teknologi irigasi yang lebih efisien guna mengatasi keterbatasan air yang selama ini menjadi kendala utama petani, khususnya di kawasan pertanian perkotaan.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Negeri Sriwijaya, Lily Endah Sari, mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah berbagi pengetahuan sekaligus menjalin kolaborasi dengan petani dalam mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
”Melalui kegiatan ini kami berharap dapat saling berbagi informasi dan pengetahuan mengenai sistem irigasi yang lebih efektif dan efisien, khususnya irigasi bawah permukaan. Kami juga mengharapkan masukan dari para petani agar teknologi yang kami kembangkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” ujarnya.
Menurut Lily, teknologi irigasi bawah permukaan bekerja dengan mengalirkan air melalui pipa yang ditanam di bawah tanah sehingga air langsung menuju zona perakaran tanaman. Sistem ini mampu menghemat penggunaan air hingga sekitar 30 persen, menjaga kelembapan tanah tetap stabil, meningkatkan produktivitas tanaman, mudah diterapkan, serta mendukung pertanian berkelanjutan.
Program tersebut juga menargetkan peningkatan intensitas tanam menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun, potensi peningkatan pendapatan petani sebesar 25 hingga 40 persen, serta sedikitnya 70 persen petani mampu mengoperasikan sistem irigasi secara mandiri melalui pembangunan satu unit demplot percontohan.
Ketua Kelompok Tani Sukasari, Hadi Winarso, mengungkapkan wilayah Sukasari dulunya merupakan salah satu sentra produksi sayur-mayur di Kota Palembang. Namun, perkembangan kawasan permukiman menyebabkan luas lahan pertanian terus menyusut.
”Kalau dulu hasil sayuran dari kawasan ini bisa sampai dua mobil setiap hari. Namun sekarang lahan pertanian semakin menyusut karena banyak berubah menjadi kawasan perumahan. Kami berharap teknologi ini dapat membantu petani tetap bertahan,” katanya.
Hadi yang telah bertani di kawasan tersebut sejak 1982 mengatakan perubahan fungsi lahan menjadi tantangan terbesar bagi keberlangsungan pertanian di wilayah perkotaan.
Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan BPP Talang Betutu, Risman Dona, menyampaikan apresiasi kepada Politeknik Negeri Sriwijaya yang telah memilih Kelurahan Sukasari sebagai lokasi pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, Sukasari dahulu dikenal sebagai sentra tanaman palawija dan hortikultura di Kota Palembang, terutama ubi kayu yang produksinya mencapai berton-ton setiap musim panen. Kini, luas lahan pertanian maupun sumber air permukaan terus berkurang akibat pesatnya pembangunan.
”Teknologi irigasi bawah permukaan sangat dibutuhkan petani perkotaan karena sumber air semakin jauh dan semakin terbatas. Dulu petani cukup menarik selang sekitar 20 meter, sekarang bahkan bisa mencapai hampir satu kilometer untuk mendapatkan air,” ujarnya.
Risman berharap teknologi tersebut dapat menjadi model percontohan yang nantinya diterapkan oleh kelompok tani lain di wilayah binaan BPP Talang Betutu yang meliputi Kecamatan Sukarami, Alang-Alang Lebar, Kemuning, dan Ilir Timur I.
Sementara itu, anggota tim pengabdian Politeknik Negeri Sriwijaya, Ias Marroha Doli Siregar, menjelaskan bahwa tema yang diusulkan dalam Program BIMA Kementerian merupakan solusi atas persoalan utama yang dihadapi petani Sukasari, yakni kekeringan yang berdampak pada menurunnya produksi dan pendapatan.
”Program ini kami usulkan sebagai solusi untuk mengatasi persoalan kekeringan yang selama ini dihadapi petani. Karena itu kami mengembangkan teknologi irigasi bawah permukaan. Saat ini teknologi tersebut masih dalam tahap penelitian sehingga tentu masih memerlukan penyempurnaan dan evaluasi, namun kami berani menerapkannya sebagai langkah awal untuk membantu petani,” katanya.
Yas menjelaskan, sistem tersebut menyalurkan air dari sumber menuju bak penampungan, kemudian disaring dan didorong menggunakan pompa atau memanfaatkan gravitasi hingga dialirkan melalui pipa yang ditanam di bawah tanah langsung ke zona akar tanaman.
Selain mampu mengurangi penguapan air, teknologi ini juga menghemat tenaga kerja karena petani cukup mengatur bukaan stop kran sesuai kebutuhan tanaman. Sebelumnya, petani masih bergantung pada hujan atau penyiraman manual sehingga produksi bersifat musiman dan rentan terhadap kekeringan.
Program pengabdian ini dilaksanakan secara bertahap, mulai dari sosialisasi, penyusunan perhitungan teknis, pembangunan demplot, pendampingan hingga panen, sampai evaluasi terhadap efektivitas sistem.
”Pada tahap evaluasi nanti kami akan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah penggunaan instalasi irigasi. Kami ingin melihat apakah benar teknologi ini mampu menghemat penggunaan air, meningkatkan pendapatan petani, memungkinkan intensitas tanam hingga tiga kali dalam setahun, serta dapat dioperasikan secara mandiri oleh petani,” jelas Yas.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, penyuluh pertanian, dan kelompok tani, teknologi irigasi bawah permukaan diharapkan mampu menjadi model pengembangan pertanian perkotaan yang lebih efisien, meningkatkan ketahanan pangan, produktivitas, serta kesejahteraan petani di Kota Palembang.
Yas mengatakan, konsep utama irigasi bawah permukaan adalah mengalirkan air langsung ke zona perakaran tanaman melalui pipa yang ditanam di dalam tanah sehingga kehilangan air akibat penguapan dapat ditekan.
”Kalau penyiraman dilakukan di permukaan, sebagian air akan menguap karena terkena panas matahari. Dari perhitungan kami, kehilangan air akibat penguapan bisa mencapai sekitar 20 hingga 30 persen. Sementara pada sistem irigasi bawah permukaan, penguapan hanya sekitar 10 persen karena air langsung terserap di dalam tanah menuju akar tanaman,” jelasnya.
Menurutnya, efisiensi tersebut menjadi alasan utama pengembangan teknologi ini, terutama untuk mengatasi keterbatasan air pada musim kemarau. Meski masih berada pada tahap penelitian dan uji coba, hasil awal menunjukkan sistem tersebut berpotensi menghemat penggunaan air sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani.
”Investasi awal memang diperlukan untuk membangun instalasi. Namun dalam jangka panjang biaya tersebut dapat tertutupi karena kebutuhan tenaga kerja untuk penyiraman menjadi jauh lebih kecil. Petani tidak lagi harus melakukan penyiraman secara manual sehingga tenaga kerja dapat dialihkan ke pekerjaan lain yang lebih produktif,” ujarnya.
Ia berharap hasil evaluasi dan analisis usaha nantinya membuktikan bahwa teknologi irigasi bawah permukaan layak diterapkan secara lebih luas sebagai solusi penghematan air dan peningkatan produktivitas pertanian, khususnya di kawasan perkotaan. (MA)



























