NASIONAL

Gajah Indra Mati, Akhiri 31 Tahun Pengabdian di Way Kambas

×

Gajah Indra Mati, Akhiri 31 Tahun Pengabdian di Way Kambas

Sebarkan artikel ini
kehutanan.go.id

BERITAPRESS.ID, LAMPUNG TIMUR | Tubuh besar itu akhirnya rebah di lereng rawa.

Sore mulai turun di kawasan Taman Nasional Way Kambas, Minggu, 21 Juni 2026. Seperti biasa, Gajah Indra baru selesai mandi dan hendak kembali menuju kandangnya. Namun langkah gajah jantan berusia 42 tahun itu mendadak terhenti.

Ia ambruk.

Mahout yang mendampinginya segera mendekat. Beberapa upaya dilakukan agar Indra bisa kembali berdiri. Gajah-gajah jinak lain turut dikerahkan membantu. Tetapi tenaga yang selama puluhan tahun mengantarnya menembus hutan, menghalau konflik satwa, dan menjalankan berbagai tugas konservasi tampaknya sudah tak lagi tersisa.

Selama lebih dari 20 jam, tim penyelamat dan dokter hewan berusaha mempertahankan kondisinya di tengah medan rawa yang sulit dijangkau. Harapan sempat muncul ketika Indra berhasil diposisikan duduk selama beberapa menit. Namun tubuh renta itu kembali rebah.

Pada Senin, 22 Juni 2026 pukul 11.06 WIB, perjuangan panjang sang gajah berakhir.

Bagi pengunjung, Indra mungkin hanya satu dari sekian banyak gajah yang pernah hidup di Way Kambas. Namun bagi para mahout dan petugas konservasi, ia adalah saksi hidup perjalanan panjang pelestarian Gajah Sumatera di Lampung.

Indra bergabung dengan Pusat Latihan Gajah Way Kambas pada 1995. Sejak saat itu, sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk tugas-tugas yang tak selalu terlihat publik. Ia ikut dalam patroli kawasan, membantu penanganan gajah liar yang masuk ke permukiman warga, hingga terlibat dalam berbagai operasi mitigasi konflik manusia dan satwa.

Di lapangan, Indra dikenal sebagai gajah pekerja. Ketika tim konservasi harus masuk ke medan berat atau menghadapi situasi yang membutuhkan ketenangan, namanya sering menjadi pilihan.

Tahun demi tahun berlalu. Usianya bertambah, tetapi tugasnya nyaris tak pernah berhenti.

Hingga sebuah kecelakaan pada akhir 2017 mengubah segalanya.

Sepulang dari membantu penanganan konflik satwa di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, kendaraan yang mengangkut Indra mengalami kecelakaan lalu lintas. Cedera yang ditimbulkan diduga memengaruhi bagian tulang belakangnya.

Pengawasan dokter hewan

Sejak saat itu, kondisi fisiknya perlahan menurun.

Indra tidak lagi diturunkan ke lapangan. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan dalam pengawasan dokter hewan dan perawat satwa. Berbagai terapi dilakukan untuk menjaga kualitas hidupnya.

Meski demikian, usia dan dampak cedera terus meninggalkan jejak pada tubuhnya.

Hingga akhirnya, dua puluh jam perjuangan terakhir di lereng rawa Way Kambas menjadi penutup perjalanan panjang seekor gajah yang telah mengabdikan lebih dari tiga dekade hidupnya bagi konservasi.

Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, MHD Zaidi, menyebut kepergian Indra sebagai kehilangan besar bagi dunia konservasi.

Menurutnya, Indra bukan hanya satwa binaan, melainkan bagian dari sejarah panjang pelestarian Gajah Sumatera di Way Kambas. Selama hidupnya, gajah tersebut memberikan kontribusi nyata dalam berbagai kegiatan lapangan dan penanganan konflik satwa liar.

Setelah dinyatakan mati, tim medis melakukan nekropsi sebagai bagian dari prosedur untuk mengetahui faktor-faktor yang berkaitan dengan kematiannya. Sejumlah sampel organ diambil untuk pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.

Tak lama kemudian, jenazah Indra dimakamkan di area khusus di dalam kawasan Taman Nasional Way Kambas.

Kini, jejak langkahnya memang telah berhenti. Namun kisah pengabdiannya masih tertinggal di jalur-jalur patroli hutan, di kawasan konflik yang pernah ia bantu tangani, dan dalam ingatan orang-orang yang selama bertahun-tahun berjalan bersamanya.

Selama 31 tahun, Indra menjalani tugas yang mungkin tak pernah ia pahami sepenuhnya. Namun dari tugas-tugas itulah, seekor gajah meninggalkan warisan yang tak mudah dilupakan.

Bahkan jejak pengabdiannya masih tertinggal di jalur-jalur patroli Way Kambas, di kawasan-kawasan konflik yang pernah ia bantu amankan, dan dalam ingatan orang-orang yang selama bertahun-tahun berjalan bersamanya.

Bagi dunia konservasi Indonesia, Gajah Indra bukan sekadar satwa binaan.

Ia adalah bagian dari sejarah. (***)