BERITAPRESS.ID, BOGOR | Data satelit siap pakai menjadi kebutuhan penting di era pengambilan keputusan berbasis data. Mulai dari pemantauan bencana, pengelolaan lingkungan, hingga perencanaan pembangunan, berbagai sektor memerlukan informasi geospasial yang cepat dan akurat. Namun, tidak semua data yang dikirim satelit dapat langsung digunakan. Karena itu, konsep Analysis-Ready Data (ARD) hadir untuk memastikan data satelit siap dimanfaatkan tanpa proses pengolahan yang rumit.
Sebelum digunakan, data tersebut biasanya harus melalui serangkaian proses pengolahan yang memerlukan waktu, tenaga, dan keahlian khusus. Kondisi ini sering menjadi tantangan bagi peneliti maupun instansi yang membutuhkan informasi cepat dan akurat untuk pengambilan keputusan.
Karena itu, konsep Analysis-Ready Data (ARD) kini menjadi perhatian dalam pengembangan teknologi satelit nasional. Melalui standar ini, data penginderaan jauh telah melalui berbagai proses koreksi sehingga siap digunakan untuk analisis tanpa harus diolah kembali dari awal.
Pentingnya ARD menjadi salah satu pembahasan utama dalam Kolokium Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) BRIN Seri ke-6 yang mengangkat tema “Analysis-Ready Data (ARD): Transformasi Satelit Inderaja Nasional Menuju Global”.
Kepala PRTS BRIN, Wahyudi Hasbi, mengatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk menghasilkan data penginderaan jauh yang mampu bersaing di tingkat internasional. Menurutnya, kesiapan data menjadi faktor penting agar hasil pengamatan satelit nasional dapat dimanfaatkan secara lebih luas.
“Topik ARD sangat strategis karena berkaitan dengan kesiapan infrastruktur data satelit nasional untuk memberikan kontribusi yang lebih besar di tingkat internasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan standar data yang seragam juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, hingga sektor industri.
Dalam forum tersebut, Peneliti Ahli Madya PRTS BRIN, Patria Rachman Hakim, menjelaskan bahwa ARD bukanlah jenis data baru, melainkan pendekatan baru dalam mengelola data satelit agar lebih mudah digunakan oleh berbagai kalangan.
Menurut Patria, selama ini pengguna data satelit sering kali harus melakukan koreksi atmosfer, geometrik, dan radiometrik sebelum data dapat dianalisis. Dengan konsep ARD, tahapan tersebut sudah dilakukan sebelumnya sehingga pengguna bisa langsung memanfaatkan data yang tersedia.
“ARD bukan format data baru. Ini merupakan perubahan paradigma dalam cara data satelit diproduksi, didistribusikan, dan digunakan,” katanya.
Secara sederhana, ARD dapat diibaratkan seperti bahan makanan yang sudah dibersihkan dan siap dimasak. Pengguna tidak lagi disibukkan dengan proses awal yang memakan waktu, melainkan dapat langsung fokus pada analisis dan pemanfaatan data.
Standar ini juga telah digunakan oleh berbagai lembaga antariksa dunia karena mampu meningkatkan interoperabilitas atau kemampuan data untuk digunakan bersama pada berbagai platform dan sistem yang berbeda.
Bagi Indonesia, penerapan ARD dinilai penting untuk mendukung berbagai sektor strategis. Data yang lebih siap digunakan dapat membantu pemantauan lingkungan, pertanian presisi, pengelolaan sumber daya alam, mitigasi bencana, hingga perencanaan tata ruang yang lebih akurat.
Selain mempercepat penelitian, standar tersebut juga berpotensi mendorong lahirnya berbagai layanan berbasis penginderaan jauh yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah maupun dunia usaha.
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto, menegaskan bahwa penguatan standar data merupakan bagian dari upaya mempercepat pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk kebutuhan nasional.
Menurutnya, penerapan ARD pada satelit penginderaan jauh yang dikembangkan BRIN menjadi langkah penting agar data yang dihasilkan tidak hanya bermanfaat di dalam negeri, tetapi juga dapat terhubung dengan jaringan riset internasional.
“Penerapan standar ARD merupakan langkah untuk memastikan data satelit yang dihasilkan dapat terintegrasi dengan platform pengguna nasional maupun jaringan riset global,” ujarnya.
Dengan meningkatnya kebutuhan informasi geospasial yang cepat dan akurat, keberadaan data satelit siap pakai dipandang akan menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung pembangunan berbasis data di masa mendatang. Bukan sekadar menghasilkan citra dari luar angkasa, tetapi menghadirkan informasi yang dapat langsung digunakan untuk menjawab berbagai tantangan di lapangan. (***)
























