Kesehatan

AI Kesehatan: Bantu Dokter tapi Perlu Pengawasan

×

AI Kesehatan: Bantu Dokter tapi Perlu Pengawasan

Sebarkan artikel ini
foto : kemkes

BERITAPRESS.ID, JAKARTA |Artificial Intelligence (AI) kesehatan kini digunakan dalam layanan medis di Indonesia untuk membantu dokter membaca hasil pemeriksaan seperti rontgen, CT scan, hingga data skrining penyakit. Teknologi ini dipakai untuk mempercepat deteksi penyakit seperti Tuberkulosis (TB), kanker paru, dan stroke di berbagai fasilitas kesehatan.

Misalnya di ruang pemeriksaan rumah sakit, cara dokter membaca penyakit pelan-pelan berubah. Foto rontgen yang dulu sepenuhnya bergantung pada mata manusia, kini ikut dibantu oleh sistem kecerdasan buatan /AI. CT scan, hasil skrining, hingga data pasien tidak lagi hanya dibaca satu per satu, tetapi dianalisis juga oleh mesin yang dilatih dari jutaan data medis.

Perubahan ini semakin menjadi perhatian dalam Konferensi Nasional tentang ekosistem kecerdasan buatan kesehatan di Jakarta, Senin (8/6). Dalam forum tersebut, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyoroti persoalan mendasar terkait penggunaan AI di layanan kesehatan, khususnya soal tanggung jawab ketika teknologi memberikan rekomendasi medis.

“Ketika sebuah program komputer merekomendasikan diagnosis kepada seorang dokter, siapa yang bertanggung jawab jika rekomendasinya salah? Pertanyaan inilah yang membawa kita semua ke ruangan ini hari ini,” kata Dante dalam rilis dilaman resmi kemkes.

Pernyataan itu menegaskan bahwa pemanfaatan AI di bidang kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari sisi kecanggihan teknologi, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek keselamatan pasien, etika, dan kejelasan tanggung jawab.

Di Indonesia, penggunaan AI di bidang kesehatan sendiri sudah berjalan, terutama untuk membantu deteksi penyakit seperti Tuberkulosis (TB), kanker paru, dan stroke. Teknologi ini digunakan untuk membaca hasil rontgen dan CT scan agar proses skrining bisa lebih cepat dan menjangkau lebih banyak orang.

Dalam sejumlah uji coba, AI bahkan menunjukkan tingkat akurasi yang tinggi, seperti pada deteksi kanker paru yang mencapai sekitar 90 persen, lebih tinggi dibanding pembacaan radiologi tanpa bantuan AI yang berada di angka sekitar 83 persen. Pada deteksi stroke melalui CT scan otak, tingkat ketepatan AI juga dilaporkan mencapai sekitar 98 persen dalam kondisi tertentu.

Dalam skrining TB massal, dari puluhan ribu pemeriksaan, sistem AI membantu menemukan ribuan kasus terduga TB serta berbagai kelainan paru lainnya. Angka-angka ini menunjukkan bahwa AI dapat mempercepat proses deteksi dan memperluas jangkauan layanan kesehatan yang selama ini terbatas oleh jumlah tenaga medis dan waktu pemeriksaan.

Namun jika capaian itu, muncul satu pertanyaan yang tidak bisa dihindari, siapa yang bertanggung jawab jika AI salah memberikan rekomendasi?

Alat bantu

Wamenkes menegaskan meskipun AI mampu memberikan rekomendasi atau hasil analisis medis, teknologi ini tidak bisa berdiri sendiri. Apalagi AI bekerja berdasarkan pola data, sehingga kualitas hasil sangat bergantung pada data yang digunakan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya tata kelola, regulasi yang adaptif, serta etika yang kuat dalam penerapan AI di sektor kesehatan.

Pemerintah sendiri menyebutkan AI bukan pengganti dokter, melainkan alat bantu yang mempercepat dan memperkuat kemampuan tenaga medis. Kehadirannya diharapkan bisa membantu terutama di wilayah yang kekurangan tenaga kesehatan, dengan tetap menempatkan dokter sebagai pengambil keputusan utama yang memiliki tanggung jawab profesional dan etika.

Oleh sebab itu, penggunaan AI dalam kesehatan juga membawa perhatian serius pada soal data pasien, karena untuk bekerja, AI membutuhkan data dalam jumlah besar, dan data kesehatan termasuk informasi yang sangat sensitif.

Kementerian Kesehatan mengembangkan sistem seperti SATUSEHAT dan SATUSEHAT AI untuk memastikan data masyarakat tidak disalahgunakan dan tetap berada dalam pengawasan yang ketat. Selain itu, penggunaan data pasien juga harus disertai persetujuan, karena privasi menjadi bagian penting dalam layanan kesehatan modern.

Perkembangan AI di bidang kesehatan menunjukkan arah baru pelayanan medis yang lebih cepat dan berbasis data. Tetapi di saat yang sama, teknologi ini juga menuntut pengawasan yang kuat. Tanpa tata kelola yang jelas, inovasi bisa berubah menjadi risiko.

Sebaliknya, tanpa inovasi, layanan kesehatan bisa tertinggal dari perkembangan zaman. Di antara dua titik itu, AI kesehatan kini bergerak sebagai alat bantu yang menjanjikan, namun tetap harus berada di bawah kendali manusia.(***)