BERITAPRESS.ID | Pernah memperhatikan satu fenomena yang sangat Indonesia?
Ambulans belum sempat berhenti, tetapi diagnosa sudah selesai.
Dokter masih membuka laptop, tetangga sudah membuka mulut.
“Katanya kena penyakit…”
Kalimat itu meluncur lebih cepat daripada hasil pemeriksaan laboratorium.
Kalau penyakit punya lawan, mungkin bukan hanya obat. Kadang lawan terberatnya justru cerita yang beredar dari mulut ke mulut.
Begitu pula dengan kusta.
Banyak orang masih membayangkannya sebagai penyakit misterius, kutukan, atau sesuatu yang harus dijauhi. Padahal dunia medis sudah lama “move on”. Kusta adalah penyakit akibat infeksi bakteri yang bisa diobati. Bahkan setelah pasien mulai menjalani pengobatan, risiko penularannya dapat dihentikan.
Sayangnya, kabar baik itu sering kalah cepat dibanding kabar dari grup WhatsApp keluarga.
Belum sempat pasien menelan obat pertama, sudah muncul berbagai “pakar” dadakan.
“Jangan dekat-dekat.”
“Nanti ketularan.”
“Kasihan, pasti kena kutukan.”
Kalimat-kalimat seperti itu terdengar lebih akrab daripada penjelasan dokter.
Ironisnya, yang paling menular sering kali bukan bakterinya, melainkan ketidaktahuan.
Bayangkan saja kalau gosip punya sertifikat profesi. Mungkin sudah bergelar spesialis. Pagi mendengar kabar, siang sudah menjadi tiga versi cerita, sore bertambah bumbu, malam berubah menjadi legenda satu kampung.
Padahal faktanya sederhana. Kusta bisa ditemukan lebih cepat, diobati lebih cepat, lalu penularannya dihentikan lebih cepat.
Justru karena itulah Kementerian Kesehatan kini mendorong penemuan kasus secara aktif. Semakin cepat ditemukan, semakin kecil peluang penyakit menyebabkan kecacatan. Semakin cepat pasien mendapatkan obat, semakin cepat pula rantai penularan diputus.
Namun ada satu tantangan yang tidak tersedia di apotek.
Namanya stigma.
Stigma membuat orang takut memeriksakan diri. Takut dicap. Takut dijauhi. Takut anaknya dibicarakan di sekolah. Takut kehilangan pekerjaan. Takut dianggap membawa aib bagi keluarga.
Akibatnya, bukan penyakit yang menang. Melainkan rasa malu.
Di sinilah letak ironi kita.
Obatnya gratis.
Puskesmas tersedia.
Dokter siap membantu.
Tetapi banyak orang memilih diam karena lebih takut menghadapi tatapan tetangga daripada menghadapi bakterinya.
Kalau dipikir-pikir, bakteri penyebab kusta mungkin akan heran melihat tingkah manusia.
“Bos, kami sebenarnya gampang dikalahkan antibiotik.”
“Terus kenapa kami masih bertahan?”
“Oh… ternyata manusianya sendiri yang takut berobat.”
Mungkin bakteri itu pun geleng-geleng kepala.
Konferensi Nasional Kusta 2026 yang digelar Kementerian Kesehatan membawa pesan sederhana tetapi penting, kusta bukan hanya soal pengobatan, melainkan juga soal keberanian menghapus stigma. Pemerintah, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, hingga komunitas penyintas diajak bergerak bersama agar tidak ada lagi orang yang terlambat berobat hanya karena takut dicap.
Sebab, menghilangkan bakteri memang pekerjaan tenaga kesehatan.
Tetapi menghilangkan prasangka adalah pekerjaan kita semua.
Kalau suatu hari nanti ada tetangga yang didiagnosis kusta, mungkin respons terbaik bukanlah mempercepat penyebaran kabar, melainkan mempercepat dukungan agar ia segera mendapatkan pengobatan.
Karena pada akhirnya, kusta sudah lama punya obat.
Yang sampai hari ini masih dicari-cari adalah obat untuk kebiasaan menghakimi orang sebelum memahami faktanya. (***)



























