Gaya Hidup

Makan Karena Lapar atau Karena Diskon? Kisah Generasi yang Terlalu Sering “Checkout” Kalori

×

Makan Karena Lapar atau Karena Diskon? Kisah Generasi yang Terlalu Sering “Checkout” Kalori

Sebarkan artikel ini
foto : Ilustrasi/AI

BERITAPRESS.ID, | Pernah tidak, niat awal cuma mau buka ponsel lima menit, eh yang keluar justru ayam goreng jumbo, minuman manis ukuran satu liter, kentang goreng, ditambah es kopi yang katanya “wajib dicoba”. Semua gara-gara satu notifikasi sederhana, “Diskon 70 persen, tinggal 10 menit lagi!”

Lima belas menit kemudian, makanan datang.

Dua puluh menit kemudian, kenyang.

Besoknya?

“Mulai diet hari Senin.”

Kalimat itu sudah menjadi legenda nasional. Entah Senin yang mana.

Di zaman sekarang, tantangan terbesar bukan lagi mencari makanan. Justru sebaliknya, makanan datang mencari kita. Tinggal geser layar, klik tombol “checkout”, lalu duduk manis sambil menunggu abang kurir datang membawa sekantong kebahagiaan… sekaligus mungkin sekantong gula, garam, dan lemak yang diam-diam ikut mengendap di tubuh.

Ironisnya, tubuh manusia tidak pernah tahu kalau ayam goreng yang kita makan hasil promo besar-besaran. Jantung juga tidak akan berkata, “Oh, ini beli pakai cashback, jadi saya maafkan.” Yang dihitung tubuh tetap sama: berapa banyak gula, garam, lemak, dan kalori yang masuk hari itu.

Lucunya lagi, kita sering lebih teliti membandingkan harga makanan daripada kandungan gizinya.

“Eh, yang ini lebih murah lima ribu.”

“Yang itu gratis minuman.”

“Tambah sedikit dapat dessert.”

Sayangnya, hampir tidak pernah terdengar percakapan seperti ini.

“Yang gulanya lebih sedikit yang mana?”

“Yang seratnya lebih tinggi apa?”

“Yang sayurnya lebih banyak ada?”

Padahal, pertanyaan-pertanyaan itulah yang diam-diam menentukan kondisi tubuh lima sampai sepuluh tahun ke depan.

Mungkin karena penyakit tidak datang membawa undangan. Ia bekerja seperti cicilan. Kecil, rutin, nyaris tak terasa. Hari ini satu gelas minuman manis. Besok gorengan. Lusa camilan ultra proses. Minggu depan makanan cepat saji lagi. Begitu terus hingga suatu hari tubuh mulai mengirim surat protes lewat tekanan darah, kadar gula, kolesterol, atau berat badan yang perlahan naik tanpa permisi.

Banyak orang merasa dirinya sehat hanya karena hari ini masih sanggup begadang, naik tangga, atau bermain futsal. Padahal kesehatan bukan hanya soal bagaimana kondisi tubuh hari ini, melainkan hasil tabungan kebiasaan selama bertahun-tahun.

Sayangnya, sayur memang kalah promosi.

Bayam tidak pernah menawarkan “Buy 1 Get 1”.

Singkong rebus tidak punya iklan dengan musik yang bikin candu.

Pisang kukus tidak muncul setiap lima menit di beranda media sosial.

Sebaliknya, minuman warna-warni lengkap dengan keju, krim, sirup, dan topping justru tampil bak selebritas. Muncul di mana-mana, difoto dari segala sudut, lalu diberi tagar yang membuat siapa pun merasa ketinggalan zaman kalau belum ikut mencobanya.

Padahal nenek kita dulu tidak mengenal istilah superfood. Mereka hanya makan ubi, singkong, jagung, sayur dari kebun, pisang rebus, pepaya, dan lauk sederhana. Tanpa sadar, banyak pangan lokal itu justru kaya serat, vitamin, dan lebih sedikit melalui proses pengolahan dibanding banyak makanan modern.

Aneh memang. Ubi sering dianggap makanan kampung, sementara roti impor dengan nama yang sulit diucapkan mendadak terlihat lebih bergengsi. Singkong kalah percaya diri melawan croissant. Jagung kalah pamor dari kentang goreng berlapis keju. Padahal tubuh kita tidak peduli apakah makanan itu sedang viral atau tidak. Yang dibutuhkan tetap sama: nutrisi yang baik.

Karena itulah ajakan untuk kembali mencintai pangan lokal sebenarnya bukan sekadar nostalgia. Ini soal logika. Bahan pangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sering kali lebih segar, lebih alami, dan dapat menjadi pilihan makan yang lebih sehat bila diolah dengan bijak.

Bukan berarti semua makanan favorit harus dimusuhi. Hidup tanpa sesekali menikmati bakso, mi instan, ayam goreng, atau es kopi juga terasa hambar. Masalahnya bukan pada satu piring makanan, melainkan ketika kebiasaan itu berubah menjadi menu harian.

Tubuh manusia ternyata cukup sederhana. Ia hanya meminta keseimbangan. Lebih banyak buah dan sayur, cukup minum air putih, tidak berlebihan mengonsumsi gula, garam, dan lemak, serta tetap aktif bergerak. Tidak perlu menunggu menjadi atlet atau influencer kebugaran untuk memulainya.

Yang menarik, media sosial yang sering dituding sebagai biang racun makanan justru bisa menjadi bagian dari solusi. Kalau resep makanan viral bisa ditonton jutaan kali, kenapa resep sayur yang enak, olahan singkong kreatif, atau bekal sehat tidak bisa ikut viral? Bukankah tren memang diciptakan, bukan muncul begitu saja?

Barangkali inilah makna sesungguhnya dari gerakan “Makan Dengan Makna.” Bukan sekadar memilih menu yang mengenyangkan, tetapi memilih makanan yang juga menjaga kesehatan diri di masa depan. Makan bukan hanya soal rasa di lidah selama lima belas menit, melainkan investasi untuk tubuh yang akan menemani kita puluhan tahun lagi.

Jadi, lain kali ketika notifikasi diskon muncul di layar ponsel, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak sebelum menekan tombol “checkout”. Tanyakan satu pertanyaan sederhana:

Saya benar-benar lapar… atau cuma lapar karena promo?

Kalau jawabannya yang kedua, mungkin dompet dan tubuh sama-sama akan berterima kasih karena kali ini Anda memilih untuk tidak tergoda.

Sebab pada akhirnya, tubuh tidak pernah menghitung berapa besar diskon yang kita dapat. Tubuh hanya mengingat apa yang setiap hari kita suapkan kepadanya. (***)