NASIONAL

Satu Menit Bisa Selamatkan Ribuan Nyawa, BMKG dan Jerman Bahas AI untuk Tsunami

×

Satu Menit Bisa Selamatkan Ribuan Nyawa, BMKG dan Jerman Bahas AI untuk Tsunami

Sebarkan artikel ini
Foto : bmkg.go.id

BERITAPRESS.ID, JAKARTA | Dalam ancaman tsunami, waktu adalah segalanya. Selisih satu menit saja bisa menjadi pembeda antara warga yang berhasil menyelamatkan diri dan mereka yang terlambat mencapai zona aman. Karena itu, upaya mempercepat penyampaian informasi kebencanaan terus menjadi perhatian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Komitmen tersebut mengemuka saat BMKG menerima kunjungan delegasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Antariksa Federal Jerman atau Bundesministerium für Forschung, Technologie und Raumfahrt (BMFTR) bersama perwakilan Kedutaan Besar Jerman di Jakarta.

Pertemuan itu membahas penguatan kerja sama internasional dalam mitigasi bencana geo-hidrometeorologi, khususnya pengembangan sistem peringatan dini tsunami yang lebih cepat dan akurat.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Dr. Nelly Florida Riama, menyambut langsung delegasi yang dipimpin Sandra Lehneke selaku Deputy Director General International Department BMFTR. Turut hadir Kathrin Meyer, Jens Hofmann, serta Annisa Fitria dari Kedutaan Besar Jerman di Jakarta.

Dalam pertemuan bilateral tersebut, kedua pihak mengevaluasi berbagai capaian kerja sama Indonesia-Jerman yang selama ini berjalan, termasuk proyek Tsunami Early Warning System (TEWS) dan Joint Tsunami Risk Project bersama GFZ yang telah rampung pada 2024.

Tak hanya membahas hasil kerja sama sebelumnya, BMKG dan pemerintah Jerman juga menjajaki peluang kolaborasi baru, salah satunya pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam operasional pemantauan gempa bumi dan tsunami.

Ketua Tim Kerja Informasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Weniza, menjelaskan  saat ini BMKG terus memperkuat sistem pemantauan bencana secara menyeluruh dari hulu hingga hilir atau end-to-end.

Menurutnya, peringatan dini pertama masih mengandalkan sistem pemodelan yang dimiliki BMKG. Sementara itu, jaringan Tsunami Gauge yang tersebar di berbagai wilayah dimanfaatkan sebagai alat konfirmasi dan validasi kondisi riil di lapangan untuk memastikan akurasi hasil pemodelan.

“Untuk peringatan dini pertama, kami mengandalkan permodelan yang kami miliki. Tsunami Gauge yang ada saat ini kami optimalkan sebagai alat konfirmasi dan validasi riil di lapangan guna memastikan akurasi model tersebut,” ujar Weniza.

Ia menegaskan  kecepatan validasi data dari sensor menuju sistem pemodelan menjadi salah satu faktor paling krusial dalam penyebaran informasi kebencanaan.

“Kecepatan validasi data dari sensor ke sistem permodelan adalah aspek vital. Kolaborasi teknologi dengan pihak Jerman, termasuk rencana adopsi AI, diharapkan dapat memangkas waktu pemrosesan informasi secara signifikan agar waktu evakuasi masyarakat bisa lebih panjang,” lanjutnya.

Selain penguatan teknologi, pertemuan tersebut juga membahas peningkatan kapasitas masyarakat sebagai bagian penting dalam sistem mitigasi bencana.

Ketua Tim Mitigasi dan Tata Kelola Layanan Geofisika BMKG, Suci Dewi Anugrah, mengatakan pengurangan risiko bencana tidak hanya bergantung pada kecanggihan alat dan infrastruktur, tetapi juga kesiapan masyarakat dalam memahami informasi peringatan dini.

Karena itu, BMKG terus memperluas program Earthquake and Tsunami Field School atau Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami yang telah menjangkau lebih dari 200 lokasi rawan bencana di Indonesia.

Program tersebut dirancang untuk meningkatkan pemahaman aparatur daerah dan komunitas lokal dalam membaca serta merespons informasi peringatan dini yang dikeluarkan BMKG.

Hingga saat ini, Indonesia telah memiliki 29 komunitas yang secara resmi diakui UNESCO-IOC sebagai Tsunami Ready Community. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan komunitas tangguh tsunami terbanyak yang mendapat pengakuan internasional.

Kerja sama dengan Jerman diharapkan dapat mempercepat pengembangan komunitas Tsunami Ready di berbagai daerah rawan bencana sehingga kesiapsiagaan masyarakat semakin meningkat.

Sebagai penutup rangkaian kunjungan, delegasi Jerman berkesempatan mengunjungi ruang simulasi gempa bumi di kantor pusat BMKG. Melalui fasilitas tersebut, para peserta dapat merasakan secara langsung kekuatan dan durasi guncangan yang menyerupai kondisi saat gempa terjadi.

Pengalaman itu menjadi simbol bahwa kerja sama Indonesia dan Jerman tidak hanya berhenti pada pengembangan teknologi, tetapi juga berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi ancaman bencana.

Oleh sebab itu, tujuan dari setiap sensor, pemodelan, hingga kecerdasan buatan yang dikembangkan bukan hanya menghasilkan data lebih cepat. Yang dipertaruhkan adalah waktu evakuasi masyarakat. Dan dalam situasi tsunami, satu menit tambahan bisa berarti ribuan nyawa terselamatkan. (***)/bmkg