BERITAPRESS.ID, PALEMBANG | SMA Negeri 14 Palembang terus mematangkan persiapan siswa kelas 12 dalam menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA). Berbagai persiapan dilakukan, mulai dari try out, simulasi ujian, hingga tambahan bimbingan belajar bagi siswa.
Waka Humas SMA Negeri 14 Palembang, Hefrin Noviandi, S.Pd, mengatakan pihak sekolah telah menyiapkan berbagai kegiatan untuk membantu siswa menghadapi TKA. Tiga lokal digunakan secara bergantian dalam tiga sesi sehingga siswa diwajibkan datang ke sekolah sesuai jadwal yang telah ditentukan.
“Untuk siswa kelas 12, kami sudah melakukan berbagai persiapan menghadapi TKA. Ada tiga lokal yang digunakan secara bergantian dalam tiga sesi. Jadi, anak-anak memang wajib datang ke sekolah sesuai jadwal untuk mempersiapkan diri masing-masing,” ujar Hefrin, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, sejauh ini persiapan berjalan dengan baik. Namun, masih terdapat kendala yang dialami siswa, salah satunya ketika mengalami blank atau kesulitan saat mengerjakan soal.
“Alhamdulillah, sejauh ini persiapannya berjalan baik. Kendala yang kadang muncul adalah siswa mengalami blank atau kesulitan saat mengerjakan soal. Karena itu, kami terus menekankan agar siswa memaksimalkan persiapan dan kemampuan mereka,” katanya.
Hefrin menjelaskan, setiap pelaksanaan try out juga dijadikan sebagai simulasi menghadapi hari pelaksanaan TKA yang sebenarnya. Dengan demikian, siswa diharapkan sudah terbiasa dengan suasana maupun sistem ujian.
“Kami juga menganggap setiap pelaksanaan try out sebagai simulasi hari H. Jadi, ketika nanti pelaksanaan TKA yang sebenarnya, siswa sudah terbiasa dengan suasana dan sistem ujiannya,” jelasnya.
Selain pembelajaran di sekolah, siswa juga mendapatkan tambahan bimbingan belajar dan try out. Kegiatan tersebut dilakukan di luar jam belajar maupun melalui kerja sama dengan pihak sekolah.
“Selain pembelajaran di sekolah, siswa juga mendapatkan tambahan bimbingan belajar dan try out. Kegiatan tersebut dilakukan di luar jam belajar maupun melalui kerja sama dengan pihak sekolah. Dengan begitu, siswa sudah memiliki gambaran mengenai kemampuan dan nilai yang kemungkinan mereka capai,” ujarnya.
Terkait target, Hefrin mengatakan pihak sekolah tetap memiliki harapan terhadap hasil TKA siswa. Namun, sekolah tidak ingin memberikan tekanan berlebihan karena kondisi siswa saat pelaksanaan ujian bisa berbeda dengan ketika mengikuti try out.
“Untuk target, insyaallah tentu ada. Namun, kami tetap berusaha memaksimalkan persiapan karena kondisi siswa pada hari pelaksanaan bisa berbeda. Kadang saat try out mereka sudah siap, tetapi ketika hari H bisa saja kurang percaya diri atau tidak konsentrasi. Apalagi kondisi sekarang juga cukup memengaruhi konsentrasi belajar,” katanya.
Hefrin menambahkan, tahun lalu hampir seluruh siswa mengikuti TKA dan tahun ini pihak sekolah juga menargetkan seluruh siswa kelas 12 mengikuti pelaksanaan TKA.
“Tahun lalu hampir seluruh siswa mengikuti TKA dan tahun ini insyaallah seluruh siswa juga akan mengikuti. Walaupun sebelumnya disebut tidak wajib, kami tetap mewajibkan siswa mengikuti TKA karena kami melihat TKA merupakan salah satu bagian penting untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya,” ungkapnya.
Menurutnya, pihak sekolah juga terus memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya TKA, termasuk bagi siswa yang belum memiliki rencana untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Walaupun ada siswa yang mengatakan tidak ingin kuliah atau melanjutkan sekolah, kami tetap memberikan pemahaman bahwa kita tidak pernah tahu rezeki dan kesempatan mereka ke depan. Karena itu, TKA tetap penting sebagai salah satu syarat untuk melanjutkan pendidikan,” jelas Hefrin.
Ia menilai TKA juga dapat menjadi salah satu standar bagi siswa dalam mengukur kompetensi mereka.
“Kami juga terus memotivasi siswa. Dengan adanya TKA, mereka memiliki semacam kompetisi dan standar yang harus dicapai. Siapa tahu ke depan ketika mereka bekerja, kompetensi mereka juga ditanyakan, bukan hanya ijazah. Karena itu, kami sangat mendukung pelaksanaan TKA ini,” katanya.
Selain TKA, SMA Negeri 14 Palembang juga menaruh perhatian terhadap capaian siswa dalam Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Sekolah berharap semakin banyak siswa yang diterima di perguruan tinggi.
“Kalau saya, ketika ada sesuatu yang diharapkan, tentunya kami berharap hasilnya menjadi lebih baik lagi. Artinya, proses yang kami lakukan di sini diharapkan bisa menghasilkan nilai yang lebih baik lagi,” ujar Hefrin.
“Untuk target SPMB sendiri, kalau bisa semuanya diterima di perguruan tinggi, itu menjadi target kami. Tetapi kami tidak tahu bagaimana proses seleksi yang terjadi. Insyaallah, mudah-mudahan kami bisa mencapai target tersebut,” sambungnya.
Ia mengatakan, jumlah siswa SMA Negeri 14 Palembang yang diterima di perguruan tinggi setiap tahun terus mengalami peningkatan. Pihak sekolah berharap tren tersebut kembali meningkat tahun ini.
“Alhamdulillah, setiap tahun jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi terus meningkat. Mudah-mudahan tahun ini peningkatannya bisa lebih besar lagi. Namun, kami tidak ingin menetapkan target terlalu tinggi karena khawatir tidak tercapai,” katanya.
Di sisi lain, kondisi kabut asap yang terjadi di Palembang turut memengaruhi proses pembelajaran. Hefrin mengatakan sekolah menyesuaikan kegiatan belajar mengajar dengan kondisi udara dan cuaca.
“Untuk proses pembelajaran sendiri, kami mengikuti kondisi kabut asap. Kalau kondisinya seperti kemarin dan hari ini, pembelajaran dilakukan secara PJJ untuk kelas 10 dan kelas 11. Ketika kondisi mulai membaik, kami melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas,” jelasnya.
Menurut Hefrin, pembelajaran tatap muka terbatas dilakukan dengan menyesuaikan durasi jam pelajaran.
“Artinya, pembelajaran tidak dilakukan secara penuh. Jika biasanya satu jam pelajaran berlangsung 45 menit, dalam kondisi seperti ini waktunya kami kurangi menyesuaikan situasi dan kondisi,” ujarnya.
Ia menyebut kondisi kabut asap di kawasan Kenten semakin menebal dan cuaca juga tidak menentu. Karena itu, sekolah tetap mengutamakan kesehatan siswa dan tenaga pendidik.
“Khususnya di daerah Kenten ini, kabut asap semakin menebal. Kondisi cuaca juga semakin tidak menentu. Jadi, situasinya memang seperti ini. Kami berusaha untuk tetap bertahan dan bersemangat, tetapi kesehatan tetap menjadi yang utama,” katanya.
Hefrin menegaskan, kondisi tersebut membuat sekolah tidak ingin memaksakan target, termasuk terkait jumlah siswa yang diterima melalui SPMB.
“Karena itu, kami tidak memaksakan diri, termasuk dalam menetapkan target berapa siswa yang harus diterima melalui SPMB. Insyaallah, dengan proses yang sudah kami lakukan dan persiapan yang sudah dimaksimalkan, kami berharap hasilnya juga maksimal,” ungkapnya.
Ia berharap siswa tetap semangat belajar meski kondisi kabut asap masih menjadi tantangan.
“Kita ambil hikmahnya saja. Mudah-mudahan dengan kondisi kabut asap ini, anak-anak tetap bisa belajar dan mendapatkan nilai yang terbaik,” pungkas Hefrin. (MR)





























