Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Kabut Asap Karhutla Ganggu KBM, SMAN 10 Palembang Optimalkan PJJ Jelang TKA

×

Kabut Asap Karhutla Ganggu KBM, SMAN 10 Palembang Optimalkan PJJ Jelang TKA

Sebarkan artikel ini

BERITAPRESS.ID, PALEMBANG | Kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan turut berdampak terhadap proses pembelajaran siswa, khususnya menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Sekolah harus menyesuaikan kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan kondisi udara dan jadwal pelaksanaan TKA. Pembelajaran tatap muka dilakukan secara terbatas, sementara siswa yang tidak memiliki jadwal ke sekolah mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Kepala SMAN 10 Palembang Lili Rahmawati S.Pd., MM melalui Waka Humas SMAN 10 Palembang Sopiah S.Pd. M.Si mengatakan, kondisi kabut asap membuat jadwal pembelajaran harus disesuaikan. Siswa masuk lebih siang dan pulang lebih cepat dibandingkan jadwal normal.

“Kalau biasanya masuk pukul 07.00, sekarang masuknya agak siang dan pulangnya lebih cepat. Sementara untuk TKA, waktunya menyesuaikan dengan jadwal yang sudah ditentukan pusat, sehingga sekolah tidak bisa mengatur sendiri,” ujar Sopiah, Senin (5/10/2026).

Menurutnya, siswa tetap datang ke sekolah sesuai sesi dan gelombang TKA yang telah ditentukan. Siswa yang belum mendapat giliran mengikuti ujian tetap berada di rumah hingga waktu sesinya tiba.

“Anak-anak tetap kami hadirkan ke sekolah sesuai sesi dan gelombang ujiannya. Misalnya pagi tadi ada sesi satu, maka yang datang ke sekolah hanya anak-anak yang mengikuti sesi satu. Sementara siswa yang mendapat sesi dua atau tiga tetap berada di rumah sampai waktunya mengikuti ujian,” katanya.

Ia menjelaskan, setelah menyelesaikan ujian lebih cepat, siswa tetap melanjutkan kegiatan pembelajaran. Sementara pembelajaran bagi siswa yang berada di rumah dilakukan secara daring.

“Walaupun pembelajaran dilakukan secara PJJ atau daring, anak-anak tetap belajar. Proses pembelajaran tetap berjalan, meskipun memang tidak seefektif pembelajaran tatap muka,” ujarnya.

Pembelajaran saat ini juga lebih diarahkan pada materi-materi TKA mengingat pelaksanaan ujian dijadwalkan pada akhir Oktober. Meski dilakukan secara daring, sekolah tetap mempertahankan durasi pembelajaran selama 45 menit per jam pelajaran.

“Pembelajaran dilakukan melalui Zoom, Google Meet atau metode lainnya, tergantung masing-masing guru. Insyaallah proses pembelajaran tetap bisa berjalan,” katanya.

Selain pembelajaran dari sekolah, siswa juga mendapat tambahan persiapan melalui tryout yang digelar sejumlah lembaga bimbingan belajar. Sekolah telah menjalin kerja sama dengan berbagai bimbel, termasuk penyelenggaraan tryout secara gratis.

“Banyak bimbel yang mengadakan tryout secara gratis, sehingga alhamdulillah anak-anak mendapatkan banyak kesempatan untuk mengikutinya. Bahkan sejak kelas 11, anak-anak sudah dibiasakan mengikuti tryout TKA maupun tryout lainnya,” ujar Sopiah.

Dari internal sekolah, guru juga memberikan latihan soal dan materi yang berkaitan dengan TKA. Soal-soal yang diberikan Kementerian Pendidikan turut digunakan sebagai bahan latihan siswa.

Selain itu, komunikasi dengan orang tua terus dilakukan melalui grup yang dikelola wali kelas maupun guru mata pelajaran. Setiap imbauan sekolah, termasuk terkait pelaksanaan PJJ, jadwal siswa dan penggunaan masker, disampaikan melalui grup tersebut.

“Setiap guru mata pelajaran dan wali kelas memiliki grup komunikasi dengan wali murid. Jadi, biasanya setiap imbauan dari sekolah langsung diteruskan oleh wali kelas masing-masing melalui grup tersebut,” katanya.

Untuk siswa yang mengikuti pembelajaran dari rumah, wali kelas tetap memastikan kegiatan belajar berlangsung. Guru menggunakan berbagai metode, mulai dari Zoom, Google Meet hingga pemberian lembar kerja kepada siswa.

Meski demikian, pihak sekolah mengakui pembelajaran daring memiliki keterbatasan dibandingkan pembelajaran tatap muka. Guru tidak dapat memantau secara langsung pemahaman maupun kedisiplinan siswa.

“PJJ sebenarnya sangat berpengaruh terhadap proses belajar anak. Ada perbedaan antara mengajar secara langsung dengan mengajar secara daring. Kalau tatap muka, kita bisa melihat secara langsung sejauh mana anak memahami pelajaran, sekaligus mendidik dan membentuk kedisiplinan mereka,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu siswi kelas XII.3 SMAN 10 Palembang, Amira Syafitri Purnama, mengaku proses pembelajaran belakangan terasa kurang efektif akibat kondisi kabut asap.

“Untuk pembelajaran sekarang ini, akhir-akhir ini semakin kurang efektif. Kalau mau sekolah, asap ada di mana-mana. Tapi kalau PJJ juga kadang susah untuk dikoordinasikan. Jadi capek juga dengan kondisi karhutla ini. Kapanlah berhentinya?” ujar Amira.

Meski kondisi tersebut menjadi tantangan, Amira mengaku tetap mempersiapkan diri menghadapi TKA. Ia menyebut telah memiliki kisi-kisi dan materi pembelajaran serta mengikuti bimbingan belajar.

“Untuk persiapan menghadapi TKA, alhamdulillah sudah siap, insyaallah. Karena kisi-kisi dan materinya sudah ada. Selain itu, ada juga bimbingan belajar sebagai persiapan, jadi tidak terlalu panik,” katanya.

Amira berharap dapat meraih nilai TKA yang baik dan memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

“Harapannya, semoga bisa mendapatkan nilai TKA yang bagus, bahkan lebih baik lagi, dan bisa lolos SNBP,” ujarnya.

Di tengah kondisi kabut asap, pihak sekolah berharap pemerintah dapat segera mengatasi persoalan karhutla sehingga kualitas udara kembali membaik dan siswa dapat kembali mengikuti pembelajaran tatap muka secara normal. (MR)