Sugiyono Raih Gelar Doktor, Teliti Implementasi Sekolah Berwawasan IMTAQ Berbasis P5
BERITAPRESS.ID, PALEMBANG | Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang menggelar Sidang Terbuka Promosi Doktor atas nama Dr. Drs. Sugiyono, MM, pada Senin (21/9/2026). Sidang berlangsung di Ruang Seminar Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang.
Sugiyono yang saat ini menjabat sebagai Kepala SMA Negeri 1 Palembang mempresentasikan disertasi berjudul “Evaluasi Implementasi Sekolah Berwawasan Iman dan Takwa Berbasis Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di SMA Negeri 6 Palembang.”
Disertasi tersebut mengkaji implementasi program sekolah berwawasan iman dan takwa (IMTAQ) yang diintegrasikan dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di SMA Negeri 6 Palembang.
Penelitian ini secara khusus membahas bagaimana program tersebut diimplementasikan, langkah-langkah baik yang dapat dijadikan contoh maupun model pengembangan, serta berbagai kekurangan yang ditemukan dalam pelaksanaannya.
Dalam penelitian tersebut, Sugiyono menggunakan pendekatan evaluasi CIPP yang mencakup Context, Input, Process, dan Product.
Hasil penelitian menunjukkan, implementasi IMTAQ berbasis P5 didukung oleh kebijakan Kurikulum Merdeka, visi dan misi sekolah, serta dukungan dari berbagai pihak.
Pada aspek input, program tersebut didukung kesiapan guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai IMTAQ ke dalam P5, ketersediaan sarana dan modul pembelajaran berbasis IMTAQ, dukungan pendanaan, serta kerja sama dengan lembaga keagamaan dan tokoh agama.
Sementara pada aspek proses, pelaksanaan program berjalan melalui koordinasi, keterlibatan, pengawasan, dan evaluasi secara berkelanjutan.
Adapun dari aspek produk, program tersebut memberikan capaian terhadap pengetahuan, keterampilan, dan sikap religius siswa. Selain itu, program turut berkontribusi dalam membangun budaya serta kedisiplinan religius di lingkungan sekolah.
Hasil uji triangulasi melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi juga menunjukkan adanya kesesuaian data antarsumber. Hal tersebut memperkuat kredibilitas temuan dalam penelitian.
Melalui penelitian ini, implementasi sekolah berwawasan IMTAQ berbasis P5 tidak hanya dilihat dari pelaksanaan program, tetapi juga dari dukungannya terhadap pembentukan karakter peserta didik melalui penguatan nilai keimanan, ketakwaan, keterampilan, dan sikap religius di lingkungan sekolah.
Dr. Drs. Sugiyono, MM: Pendidikan Adalah Proses Sepanjang Hayat
Kepala SMA Negeri 1 Palembang, Dr. Drs. Sugiyono, MM, menyampaikan pentingnya pendidikan sebagai proses sepanjang hayat. Hal tersebut disampaikannya pada Rabu, 30 September 2026.
Menurut Sugiyono, belajar tidak mengenal batas usia maupun waktu. Pendidikan menjadi bagian penting dalam mengembangkan potensi diri, memperluas wawasan, serta membentuk pola pikir secara akademis.
“Belajar itu secara universal adalah tidak berbatas waktu. Ini namanya proses belajar atau pendidikan itu kan sepanjang hayat yang pertama. Jadi tidak dibatasi oleh usia, oleh waktu. Selama hayat masih di kandung badan, ya itu kewajiban kita untuk belajar. Talabul ilmi minal mahdi ilal lahdi. Jadi orang menuntut ilmu itu mulai dari ayunan, dari dalam kandungan sampai ke liang lahat. Itu filosofinya,” ujarnya, Rabu (30/9/2026) di SMA Negeri 1 Palembang.
Sugiyono menjelaskan, untuk menyelesaikan pendidikan S3 bukanlah sesuatu yang instan. Ia telah menempuh pendidikan tersebut sekitar tiga tahun lalu sebagai bagian dari upaya mengembangkan potensi dirinya.
“Untuk menyelesaikan S3 itu bukan instan, langsung sidang terbuka, jadi doktor, bukan. Saya menempuh pendidikan itu sudah tiga tahun yang lalu. Jadi karena semangat di mana untuk memotivasi dan katakanlah untuk mengembangkan potensi, terutama potensi diri saya sendiri, maka saya mencoba untuk masuk di dalam ranah 2-5 persen,” katanya.
Ia berharap pencapaiannya dapat menjadi motivasi bagi para pendidik dan tenaga kependidikan, khususnya guru-guru muda, agar tidak takut mengembangkan potensi diri melalui pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
“Ini memotivasi teman-teman para pendidiknya, guru itu, jangan takut. Jangan takut untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya dengan predikat masuk ke ranah 2 persen tadi adalah menjadi doktor,” ujarnya.
Sugiyono menegaskan, gelar doktor bukan sekadar titel akademis, melainkan sebuah karya yang diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas.
“Doktor itu sebuah karya. Doktor itu bukan sekadar titel, tapi bagaimana kita itu membentuk satu jaringan. Kalau kita ibaratkan lama-lama satu jaringan, kita tanamkan di situ jaringan. Dan insyaallah di sana ada manfaatnya. Bukan sekadar gelar akademis saja,” katanya.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa menempuh pendidikan S3 sambil menjalankan tugas sebagai kepala sekolah dan PNS memiliki tantangan tersendiri. Tantangan terbesar adalah membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan.
“Dalam kurun waktu itu kita, apalagi dengan kesibukan sebagai seorang pegawai atau PNS, kita harus balance dengan kerja kita. Jadi bagaimana menyisihkan waktu untuk tetap terus belajar. Tantangannya di sana. Karena kita harus membagi waktu antara tugas kerja dengan kita harus mengembangkan potensi kita di belajar tadi,” ungkapnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Sugiyono meyakini setiap kesulitan selalu memiliki jalan keluar.
“Walaupun tantangannya besar, saya bilang tidak mudah. Tapi di dalam kesulitan itu pasti ada kemudahan, ada penyelesaian,” pungkasnya
Sempat Terpikir Menyerah
Dalam proses menyelesaikan pendidikan S3, Sugiyono mengakui sempat mengalami masa sulit. Bahkan, proses menuju sidang terbuka sempat tertunda selama lebih dari enam bulan hingga sekitar tujuh bulan.
Menurutnya, penundaan tersebut sempat membuat semangatnya menurun karena berbagai persiapan yang telah dilakukan sebelumnya harus kembali dibangun.
“Ada. Jadi itu juga salah satu kelemahan kita juga. Pada saat saya semester lima, kemudian hampir semester lima masuk semester enam. Kemudian ada kesibukan, sidang terbuka tertunda sampai enam bulan lebih, sampai tujuh bulan. Itu membuat apa yang sudah kita persiapkan itu menjadi down lagi ya, menjadi semangat menurun lagi dan terjadi juga bahwa mungkin nggak selesai. Ada,” ungkapnya.
Namun, dorongan dari promotor, teman-teman, serta terutama keluarga membuatnya kembali bangkit dan melanjutkan proses pendidikan hingga selesai.
“Tapi berkat dorongan dari promotor, kemudian dari teman-teman, ya pasti bisa dengan semangat, terutama keluarga, istri ya, istri kemudian anak-anak. ‘Tanggung, tanggung, Pak,’ katanya, semangat, selesaikanlah gitu,” tuturnya.
Sugiyono mengatakan, dukungan terbesar datang dari sang istri yang terus memberikan semangat agar dirinya tidak menyerah di tengah proses pendidikan.
“Itulah yang membuat akhirnya ya sudah, walaupun ada keterlambatan. Alhamdulillah pada tanggal 21 September tadi bisa melaksanakan sidang terbuka promosi doktor dan alhamdulillah lulus,” katanya.
Ia mengungkapkan, dalam ujian terbuka promosi doktor tersebut dirinya memperoleh nilai akhir 91. Nilai tersebut merupakan hasil dari ujian tertutup dan ujian terbuka.
“Nilai akhirnya itu 91. Nilai ujian tertutup ditambah ujian terbuka, itu lulus 91. Kemudian rata-rata indeks prestasi saya adalah 4,0. Jadi lulus dengan ujian,” pungkasnya.
Sugiyono berpesan, bahwa ilmu yang diperoleh melalui pendidikan pada akhirnya harus digunakan untuk memberikan manfaat dan pengabdian kepada masyarakat.
“Ilmu itu adalah alat pengabdian. Jadi, jangan pernah merasa sudah cukup, teruslah berjuang untuk pengabdian dengan ilmu yang kita miliki,” tegasnya. (MR)




























