Scroll untuk baca artikel
NewsOKUSPendidikanSumsel

SMA Negeri 2 Buay Pemaca dari Tiga Ruang Menjadi 470 Siswa ” Ditengah Ujian Fasilitas, Harapan Masyarakat Menguat “

×

SMA Negeri 2 Buay Pemaca dari Tiga Ruang Menjadi 470 Siswa ” Ditengah Ujian Fasilitas, Harapan Masyarakat Menguat “

Sebarkan artikel ini

 

BERITAPERSS.ID, OKU SELATAN — Tingginya kepercayaan masyarakat membuat SMA Negeri 2 Buay Pemaca, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, berkembang pesat. Namun, pertumbuhan jumlah siswa kini berhadapan dengan keterbatasan ruang belajar dan sarana pendidikan.

Sekolah yang baru beroperasi pada 2023 tersebut kini menampung sekitar 470 siswa dengan 21 guru. Untuk mengakomodasi seluruh peserta didik, proses belajar mengajar harus dibagi menjadi dua sif, pagi dan siang.

Keterbatasan ruang bahkan membuat ruang guru disulap menjadi ruang kelas. Ruangan tersebut dibagi menjadi dua kelas agar kegiatan pembelajaran tetap berjalan.

Kondisi ini menjadi potret perjalanan SMA Negeri 2 Buay Pemaca yang tumbuh cepat sejak pertama dibuka. Sekolah yang awalnya hanya memiliki tiga ruang belajar kini harus melayani ratusan siswa.

SMA Negeri 2 Buay Pemaca berdiri di atas lahan satu hektare yang dihibahkan Haryono, warga Desa Tanjung Jaya. Pembangunan dimulai pada 2022 dan sekolah mulai digunakan pada 2023.

Saat pertama beroperasi, fasilitas sekolah terdiri atas tiga ruang belajar, satu ruang guru, dan satu ruang kepala sekolah. Seiring meningkatnya minat masyarakat, jumlah siswa terus bertambah hingga kapasitas ruang yang tersedia tidak lagi mencukupi.

Pada 2025, sekolah bersama komite dan wali murid mengambil langkah swadaya dengan membangun ruang tambahan. Karena keterbatasan anggaran, bangunan tersebut masih menggunakan dinding papan dan belum permanen.

Bagi masyarakat, kehadiran SMA Negeri 2 Buay Pemaca memiliki arti lebih dari sekadar tambahan fasilitas pendidikan.

Sebelum sekolah tersebut berdiri,  sebagian siswa harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk bersekolah di SMA Negeri 1 Talang Padang. Kondisi itu menjadi beban bagi keluarga dan menimbulkan kekhawatiran terkait keselamatan anak selama perjalanan.

Wali murid, Kamto, mengatakan keberadaan SMA Negeri 2 Buay Pemaca kini membuat anak-anak dapat bersekolah lebih dekat dengan tempat tinggal.

” Kami sangat bersyukur dengan adanya SMA Negeri 2 ini. Sebelumnya, anak-anak harus sekolah ke SMA Negeri 1 Talang Padang yang cukup jauh. Kami sebagai orang tua tentu memikirkan keamanan anak selama perjalanan.”

Ia menuturkan, sejumlah kejadian kriminal di perjalanan menjadi salah satu kekhawatiran orang tua.

” Dengan adanya sekolah ini, beban dan kekhawatiran kami sudah bisa teratasi,” ujarnya.

Dari 21 guru yang mengajar, baru satu orang berstatus ASN, yakni kepala sekolah. Delapan guru merupakan PPPK paruh waktu, sedangkan lainnya masih berstatus tenaga honorer. Sebanyak 13 guru telah mengikuti ujian sertifikasi.

Para guru berharap pembangunan ruang kelas permanen dan penambahan sarana prasarana dapat menjadi perhatian seiring meningkatnya jumlah peserta didik.

” Setiap tahun minat masyarakat semakin meningkat. Karena itu, fasilitas sekolah juga perlu mengikuti perkembangan jumlah siswa,” ujar salah seorang guru. Jum’ at.(25/09/2026).

Meski demikian, keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan upaya sekolah mengembangkan potensi siswa.

Berbagai kegiatan ekstrakurikuler terus digerakkan, seperti seni tari, pencak silat, serta kegiatan pengembangan bakat lainya.

Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi siswa untuk membangun kreativitas, kedisiplinan, sportivitas, kepercayaan diri, sekaligus mengembangkan kemampuan di luar pembelajaran akademik.

Di tengah keterbatasan tersebut, dibawah kepemimpinan kepala SMA 2 Buay Pemaca Ruslan Riduan, M.Pd, sekolah ini telah mencatatkan capaian keberhasilan yang menjadi kebanggan.

Sebanyak 16 siswa berhasil memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Para siswa tersebut melanjutkan pendidikan di sejumlah daerah, antara lain Lampung, Palembang, Bengkulu, dan Medan.

”  Bagi kami, ini merupakan capaian yang sangat berarti dan menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan,” timpal  guru lainya menyampaikan.

Capaian tersebut menunjukkan adanya ruang tumbuh bagi siswa meski sekolah masih menghadapi keterbatasan sarana dan tenaga pendidik.

Dalam tiga tahun perjalanan, SMA Negeri 2 Buay Pemaca berkembang menjadi salah satu tumpuan masyarakat untuk memperoleh pendidikan menengah yang lebih dekat.

Namun, pertumbuhan jumlah siswa juga membawa konsekuensi,  kebutuhan ruang kelas, fasilitas pembelajaran, dan tenaga pendidik semakin besar.

Dari tiga ruang belajar saat pertama beroperasi, kini sekitar 470 siswa harus dilayani dengan fasilitas yang masih terbatas. Ruang guru menjadi kelas, pembelajaran berlangsung dua sif, sementara masyarakat ikut bergotong royong membangun ruang tambahan.

Di tengah keterbatasan itu, sekolah tetap bergerak melalui pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, dan pengembangan prestasi siswa.

Kini, kebutuhan paling mendesak adalah ruang kelas permanen, sarana dan prasarana yang memadai, serta penguatan tegangan pendidik.

SMA Negeri 2 Buay Pemaca telah menunjukkan bahwa pertumbuhan pendidikan tidak selalu dimulai dari fasilitas yang lengkap. Namun, ketika kepercayaan masyarakat terus tumbuh, fasilitas yang menjadi kebutuhan agar harapan ratusan siswa tidak berhenti di ruang kelas yang terbatas.(SR)