Scroll untuk baca artikel
FakfakNewsOKUS

Jejak Pengabdian dari Tanah Pribadi Hingga Pembangunan Infrastruktur, Kepala Desa Jarwo Kecamatan BPRT

×

Jejak Pengabdian dari Tanah Pribadi Hingga Pembangunan Infrastruktur, Kepala Desa Jarwo Kecamatan BPRT

Sebarkan artikel ini

BERITAPERSS, ID OKU Selatan — Kepemimpinan di sebuah desa tidak selalu tentang jabatan dan kebijakan. Di Desa Sumberjaya, Kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau Tengah (BPRT), pengabdian seorang kepala desa justru dikenang warga melalui perubahan yang mereka rasakan serta kesediaan untuk berkorban demi kepentingan bersama.

Jarwo, yang sejak 2014 dipercaya masyarakat memimpin Desa Sumberjaya. Jauh sebelum menduduki kursi kepala desa, ia merupakan kepala dusun yang pernah mengikuti pemilihan kepala desa pertama pada 2008, namun belum berhasil. Ia, kembali maju pada 2014 dan kali ini mendapat kepercayaan masyarakat hingga terus memimpin desa tersebut.

Sumberjaya sendiri merupakan desa hasil pemekaran dari Desa Simpangan kecamatan Simpang pada 2007. Sebagai desa yang masih berkembang, keterbatasan aset menjadi salah satu tantangan pembangunan. Desa ini tidak memiliki aset tanah yang memadai untuk menunjang berbagai kebutuhan fasilitas publik.

Dalam situasi tersebut, Jarwo menurut warga mengambil langkah yang patut diapresiasi. Ia menghibahkan tanah milik pribadinya untuk mendukung pembangunan fasilitas masyarakat, di antaranya Polindes, PAUD, dan lahan untuk pembangunan Koperasi Merah Putih.

” Kami sangat mengapresiasi kepemimpinan Pak Jarwo. Ketika desa membutuhkan lahan, beliau mau menghibahkan tanah miliknya untuk kepentingan masyarakat. Itu bentuk, pengabdian yang kami rasakan langsung, ” ujar seorang warga. Sabtu.(05/9/2026)

Tak hanya soal lahan, pembangunan infrastruktur juga menjadi bagian dari perubahan yang dirasakan masyarakat selama kepemimpinan Jarwo.

Melalui program PAMSIMAS, warga kini dapat menikmati akses air bersih yang dialirkan dari kawasan pegunungan melalui jaringan perpipaan.

Pembangunan jalan dan jembatan turut membuka akses antar dusun serta menuju kawasan perkebunan warga. Penerangan listrik juga menjadi bagian dari pembangunan yang menunjang aktivitas masyarakat.

” Sekarang banyak perubahan yang kami rasakan. Air bersih ada, jalan dan jembatan semakin baik, listrik juga sudah tersedia. Kami melihat Pak Jarwo terus berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat, ” kata warga lainya.

Lebih dari satu dekade memimpin perjalanan, Jarwo juga menjadi gambaran tentang proses panjang membangun sebuah desa dari keterbatasan. Ia pernah gagal dalam pemilihan kepala desa, tetapi tidak berhenti. Ketika kesempatan kembali datang, masyarakat memberinya kepercayaan.

Kini, jejak kepemimpinannya tidak hanya tercatat dalam administrasi pemerintahan desa, tetapi juga terlihat dalam berbagai fasilitas yang digunakan masyarakat.

Sebab, pada akhirnya, ukuran pengabdian seorang pemimpin bukan hanya seberapa lama ia memimpin, melainkan seberapa besar perubahan yang mampu ia tinggalkan dan seberapa lama manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.(SR)