BERITAPERSS, ID OKU Selatan — Jalan perbukitan yang sebagian masih berupa tanah bukan sekadar akses menuju Desa Sumber Jaya, Kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau Tengah, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Di balik medan itu, ada 413 keluarga yang menunggu bantuan pangan.
Sebanyak 12, 39 ton beras harus bergerak dari titik distribusi di kantor kecamatan menuju desa, kemudian dibagi kepada keluarga penerima manfaat (KPM).
Bantuan tersebut disalurkan pada September 2026 melalui Perum Bulog untuk periode tiga bulan sekaligus, yakni Juli hingga September. Masing-masing KPM menerima 30 kilogram atau tiga sak beras, dengan alokasi 10 kilogram setiap bulan.
Bagi pemerintah desa dan panitia, angka itu bukan sekadar data. Ada pekerjaan logistik yang harus diselesaikan agar beras tidak berhenti di titik distribusi.
Desa Suber Jaya terdiri dari tujuh dusun. Kondisi wilayah membuat panitia memilih pola distribusi yang lebih mendekatkan bantuan kepada masyarakat.
Pembagian dipusatkan di tiga lokasi, yakni Dusun 2, Dusun 4 dan Dusun 5. Sementara warga dari dusun lainnya diarahkan menuju titik pembagian yang paling dekat dengan wilayah masing-masing.
Ketua Panitia Penyaluran Bantuan, Nur Kolis, mengatakan pengaturan titik pembagian dilakukan untuk memudahkan warga sekaligus menyesuaikan kondisi geografis desa.
” Kami atur titik pembagian agar masyarakat tidak semuanya harus datang ke satu lokasi. Tiga titik kami tempatkan di Dusun 2, Dusun 4 dan Dusun 5, sedangkan dusun lainnya diarahkan ke titik yang paling dekat,” ujar Nur Kolis. Jum’at. (04/9/2026)
Skema itu menjadi cara sederhana untuk memangkas jarak yang harus ditempuh warga, terutama ketika bantuan yang dibawa mencapai 30 kilogram untuk setiap keluarga.
Dari pusat kecamatan menuju Desa Sumber Jaya, jaraknya sekitar tujuh kilometer. Namun itu, tidak selalu berarti perjalanan yang mudah.
Sebagian akses menuju desa masih berupa jalan tanah dan belum sepenuhnya dapat dilalui kendaraan roda empat. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam proses distribusi.
Bantuan yang diterima panitia di kantor kecamatan harus kembali dibawa menuju desa. Dari sana, beras didistribusikan melalui tiga titik yang telah ditentukan.
Dalam penyaluran kepada masyarakat, Babinsa Kurilah turut mendampingi proses pembagian bantuan kepada KPM bersama unsur kewilayahan terkait.
Pengawalan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan penyaluran berlangsung tertib dan bantuan benar-benar diterima keluarga yang telah ditetapkan sebagai penerima manfaat.
Kepala Desa Sumber Jaya, Jarwo, memahami bahwa persoalan distribusi tidak berhenti pada beras yang tiba di kantor kecamatan.
Menurut dia, tantangan geografis justru membuat proses penyaluran harus diatur sedemikian rupa agar tidak menyulitkan masyarakat.
” Yang terpenting bantuan ini sampai kepada masyarakat yang memang menjadi penerima manfaat. Kondisi jalan dan jarak memang menjadi tantangan, tetapi penyaluran harus tetap berjalan,” ujar Jarwo.
Bagi warga berpenghasilan rendah, bantuan beras bukan sekadar angka dalam laporan. Tiga sak beras berarti tambahan persediaan pangan di rumah. Artinya mungkin sederhana, tetapi dampaknya langsung terasa di meja makan keluarga.
Karena itu, keberhasilan program tidak cukup diukur dari berapa banyak beras yang disalurkan pemerintah. Ukuran yang lebih penting, adalah apakah bantuan tersebut benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan.
Sebanyak 413 keluarga, tiga titik pembagian dan total 12.390 kilogram beras menjadi gambaran bagaimana program bantuan pangan dijalankan di tingkat desa.
Dari kantor kecamatan, bantuan menempuh jalan perbukitan. Sebagian perjalanan melewati jalan tanah. Setelah tiba di desa, beras kembali dibagi melalui titik-titik yang telah diatur agar lebih dekat dengan masyarakat.
Rangkaian itu mungkin terlihat sederhana dari luar. Namun, di wilayah dengan akses yang belum sepenuhnya mudah, setiap kilogram beras memiliki perjalanan tersendiri sebelum akhirnya tiba di rumah penerima.
Di Sumber Jaya, jalan boleh terjal dan jarak boleh menjadi tantangan. Tetapi bagi 413 keluarga penerima manfaat, pesannya tetap sama, ” bantuan bukan hanya harus disalurkan, tetapi bantuan harus sampai.(SR)


















