BERITAPRESS.ID, SURABAYA | – Harga telur ayam ras yang mengalami tekanan ditingkat peternak mendorong pemerintah mencari pasar yang lebih pasti melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di Jawa Timur, telur kini akan masuk menu MBG minimal tiga kali dalam sepekan sebagai upaya memperkuat penyerapan produksi peternak rakyat sekaligus membantu stabilisasi harga.
Kesepakatan tersebut lahir dalam Rapat Koordinasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Telur Ayam Ras yang mempertemukan Badan Gizi Nasional (BGN), Badan Pangan Nasional (Bapanas), Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kementerian Pertanian, Satgas Pangan, serta perwakilan koperasi dan asosiasi peternak.
Terlepas dari berbagai kesepakatan yang dibahas dalam rapat, persoalan yang dihadapi peternak sebenarnya cukup sederhana. Saat harga telur turun, ayam petelur tetap bekerja seperti biasa.
Mereka tidak mengenal istilah menunda produksi karena pasar sedang lesu. Tidak ada cuti bersama, tidak ada aksi mogok, apalagi demonstrasi menuntut harga naik. Setiap hari, ayam tetap menjalankan tugasnya, yaitu tetap bertelur.
Bagi peternak, kondisi itulah yang menjadi tantangan. Produksi telur terus berjalan, sementara pasar belum tentu mampu menyerap seluruh hasil yang dihasilkan setiap hari.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas Maino Dwi Hartono mengakui persoalan tersebut menjadi alasan pemerintah bergerak cepat mencari solusi.
“Setiap hari ayam itu bertelur, tidak bisa diberhentikan dulu. Artinya kan mesti segera terserap,” kata Maino dalam rapat koordinasi di Surabaya, Jumat akhir pekan lalu mengutip laman resmi badan pangan nasional.
Menurut Maino, pemerintah ingin memastikan peternak memiliki pembeli yang jelas ketika harga sedang mengalami tekanan. Dalam skema yang disepakati, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjalankan program MBG akan berperan sebagai offtaker atau pembeli tetap bagi telur hasil produksi peternak rakyat.
“Esensinya sama dengan Magetan, bagaimana semua bisa jalan, bagaimana semua bisa hidup. Dari sisi produsen, para peternak, bisa punya offtaker yang pasti yaitu SPPG,” ujarnya.
Melalui kesepakatan tersebut, koperasi dan asosiasi peternak rakyat di Jawa Timur menyatakan kesediaannya memasok telur langsung ke dapur-dapur mitra SPPG sesuai standar kualitas yang telah ditentukan.
Transaksi pembelian juga akan dilakukan langsung kepada koperasi dan asosiasi peternak rakyat. Harga pembelian disepakati minimal Rp24.000 per kilogram dan akan disesuaikan secara bertahap mengikuti Harga Acuan Pembelian (HAP) yang berlaku.
Bagi peternak, kepastian pasar sering kali menjadi kabar yang sama pentingnya dengan harga. Sebab harga yang bagus tidak selalu berarti banyak jika produk sulit terserap. Sebaliknya, pasar yang stabil dapat memberikan ruang bernapas bagi peternak untuk menjaga usahanya tetap berjalan.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai kesepakatan tersebut penting untuk segera dijalankan. Namun, ia mengingatkan agar manfaat program tidak hanya dirasakan oleh sebagian kecil peternak.
Menurut Emil, pemerataan harus menjadi perhatian utama sehingga peternak rakyat di berbagai sentra produksi juga mendapat kesempatan yang sama.
“Saya pikir sekarang ini kesepakatan ini juga menjadi penting untuk bisa dijalankan, diikhtiarkan semaksimal mungkin,” kata Emil.
Ia juga mengingatkan agar jangan sampai hanya peternak yang memiliki akses lebih dekat yang menikmati peluang memasok telur ke program MBG.
“Jangan yang berada di depan saja yang kebeli, lalu yang tidak ada kesempatan ketemu sama kita, tidak dibeli. Keadilan saya yakin saya tidak mau pertanyakan, tapi saya hanya ingin memastikan kita semua satu pemahaman,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah daerah bersama BGN akan melakukan pemetaan antara SPPG yang aktif dengan koperasi maupun asosiasi peternak yang menjadi pemasok telur. Faktor jarak akan menjadi pertimbangan penting agar distribusi lebih efisien dan kualitas telur tetap terjaga saat sampai ke dapur MBG.
Koperasi dan asosiasi yang lokasinya paling dekat dengan SPPG akan diprioritaskan untuk memasok kebutuhan di wilayah masing-masing. Langkah tersebut juga diharapkan memberi ruang lebih besar bagi peternak mikro dan kecil untuk ikut menikmati pasar dari program pemerintah.
Stabilitas harga
Sementara itu, Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat BGN Tengku Syahdana mengatakan penggunaan menu telur minimal tiga kali dalam seminggu bukan untuk memenuhi kebutuhan protein penerima manfaat MBG.
Menurutnya, kebijakan tersebut juga dirancang sebagai salah satu instrumen untuk membantu stabilisasi harga telur di tingkat peternak.
“Kebijakan dari BGN sementara seminggu tiga kali menu telur. Dan simulasinya, alhamdulillah, 8 sampai 10 persen kita bisa intervensi untuk stabilisasi harga yang anjlok,” kata Tengku.
Ia menjelaskan BGN tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga operator yang terlibat langsung dalam pelaksanaan program di lapangan. Oleh karena itu, ketika terjadi gejolak harga pangan, pemerintah memiliki ruang untuk melakukan intervensi melalui kebutuhan bahan baku MBG.
Selain diperuntukkan bagi peserta didik, telur juga akan menjadi salah satu sumber protein bagi kelompok penerima manfaat kategori 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang menjadi bagian dari layanan MBG.
Disamping itu, pemerintah juga berupaya membantu peternak dari sektor hulu. Bapanas memastikan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan tetap berjalan pada 2026.
Secara Nasional, alokasi SPHP jagung pakan mencapai 223 ribu ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 122 ribu ton atau hampir 60 persen dialokasikan untuk Jawa Timur yang merupakan salah satu sentra utama peternakan ayam petelur nasional.
“SPHP jagung pakan ini mudah-mudahan bisa membantu peternak, terutama peternak mikro kecil, mendapatkan jagung Rp5.000 di gudang Bulog dan maksimal Rp5.500 di tingkat peternak,” tutur Maino.
Sehingga persoalan harga telur memang tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu kebijakan. Namun pemerintah berharap kombinasi penyerapan melalui MBG dan dukungan pakan dari hulu dapat membantu peternak menghadapi tekanan pasar.
Sebab selama ayam masih setia menjalankan tugasnya setiap hari tanpa pernah mengajukan cuti bertelur, produksi telur akan terus ada. Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil kerja sang ayam selalu menemukan pembeli yang siap menampungnya. (***)/0ne



























































