BERITAPRESS.ID, PALEMBANG | Coffee shop di Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) menjamur, bermunculan seiring meningkatnya investasi di sektor kuliner. Tren ini menjadi tantangan baru, salah satuya persaingan bisnis semakin ketat bahkan berpotensi pasar menjadi jenuh.
Fenomena ini mendapat perhatian, pasalnya dalam beberapa tahun terakhir, kafe-kafe baru hadir hampir setiap bulan dengan konsep yang beragam.
Konsepnya bukan saja menyasar untuk penikmati kopi, namun juga menawarkan ruang bekerja, tempat berkumpul, hingga pusat aktivitas komunitas. Kondisi ini pun melihatkan tingginya minat usaha dibidang ini di Palembang.
Sementara Pemerintah Kota Palembang menilai maraknya investasi di sektor kuliner sebagai indikator positif.
Bahkan jika dilihat dari pertumbuhan ekonomi Kota Palembang mencapai 5,91 persen pada Triwulan I 2026 dinilai menjadi salah satu faktor meningkatnya kepercayaan investor untuk membuka usaha baru. Bukti Optimis itu terlihat saat Fine Today Coffee and Bistro diresmikan belum lama ini.
Staf Ahli Wali Kota Palembang Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Investasi, Dr. Riza Fahlevi, M.A., mengatakan bertambahnya pelaku usaha di sektor kuliner menjadi sinyal positif atas meningkatnya kepercayaan investor terhadap iklim usaha di Kota Palembang.
“Semoga kehadiran usaha ini menjadi langkah awal yang penuh keberkahan, berkembang pesat, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” ujar Riza.
Menurutnya, industri kuliner memiliki multiplier effect terhadap perekonomian daerah. Kehadiran usaha baru tidak hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga menciptakan peluang bagi pemasok bahan baku lokal, pelaku UMKM, tenaga kerja, hingga komunitas kreatif untuk berkembang bersama.
“Kehadiran Fine Today Coffee and Bistro tidak hanya menambah pilihan destinasi kuliner bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang kerja, mendorong lahirnya wirausaha baru, serta memperkuat ekosistem UMKM dan industri kreatif di Kota Palembang,” katanya.
Namun, logika pasar tidak selalu sejalan dengan optimisme investasi. Semakin banyak coffee shop di Palembang berdiri, semakin ketat pula persaingan memperebutkan pelanggan.
Pelaku usaha dituntut terus berinovasi, menjaga kualitas produk, meningkatkan pelayanan, hingga membangun loyalitas konsumen agar mampu bertahan.
Dalam bisnis kuliner, euforia pembukaan usaha memang kerap menyita perhatian. Promosi besar-besaran dan ramainya pengunjung pada masa grand opening menjadi pemandangan yang umum.
Akan tetapi, tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah masa promosi berakhir. Tidak sedikit usaha yang perlahan kehilangan pelanggan, mengurangi operasional, bahkan menutup bisnisnya tanpa banyak diketahui publik.
Oleh karena itu, keberhasilan sebuah coffee shop tidak ditentukan dengan ramainya hari pertama. Justru keberhasilan itu bisa diukur dari kemampuan usaha itu bertahan dalam jangka panjang melalui inovasi, efisiensi operasional, serta kemampuan membaca perubahan selera pasar.
Pemerintah Kota Palembang sendiri melihat, maraknya coffee shop menjadi bukti iklim investasi yang semakin kondusif.
Sementara, untuk pelaku usaha sendiri, derasnya pemain baru ini setidaknya pasar juga makin terbatas.
Jika pertumbuhan jumlah usaha lebih cepat dibanding pertumbuhan permintaan, risiko kejenuhan tidak bisa dihindari.
Namun melihat fenomena ini setidaknya waktu akan menjadi penentunya, makin berkembang atau tumbang.
Apalagi coffee shop yang terus bermunculan mampu bertahan dan berkembang, tentu ledakan bisnis kopi akan menjadi bukti kuatnya ekonomi Palembang.
Namun sebaliknya, jika banyak yang berguguran setelah euforia pembukaan usai, fenomena ini bisa menjadi sinyal pasar mulai mencapai titik jenuh. (***)



























