Bisnis

Mampukah Koperasi di Palembang Bangkit Lagi?

×

Mampukah Koperasi di Palembang Bangkit Lagi?

Sebarkan artikel ini
foto ; ist

BERITAPRESS| Ada masa ketika menjadi anggota koperasi adalah sebuah kebanggaan. Guru, pegawai negeri, pedagang, hingga petani berbondong-bondong bergabung karena percaya koperasi mampu menjadi penopang ekonomi keluarga. Dari sana mereka menabung, meminjam modal usaha, membeli kebutuhan pokok, bahkan merasakan pembagian sisa hasil usaha yang dinanti setiap tahun.

Kini, suasana itu tak lagi mudah ditemukan.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi, masyarakat memiliki begitu banyak pilihan layanan keuangan, iinjaman bisa diajukan lewat telepon genggam, transaksi dilakukan dalam hitungan detik, sementara belanja kebutuhan sehari-hari cukup melalui marketplace, dan  berlahan, koperasi pun kehilangan pamornya terutama di mata generasi muda, tak seperti dulu kala.

Momen Hari Koperasi ke-79  diperingati Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Senin (20/7/2026) sejatinya bukan hanya menjadi agenda seremonial.

Dalam apel gabungan dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Sumsel H. Edward Candra, pemerintah kembali menegaskan komitmen membangun koperasi sebagai pilar ekonomi kerakyatan melalui pembentukan lebih dari 80 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di seluruh Indonesia.

Program ini diharapkan mampu memperpendek rantai distribusi, memperluas akses pembiayaan, memperkuat pemasaran produk lokal, sekaligus menghadirkan pelayanan ekonomi yang lebih dekat kepada masyarakat.

Gagasan ini  memang sangat menarik, apalagi jika sukses,  namun pertanyaannya dalam benak saya, apakah koperasi di Sumsel nantinya benar-benar masih mampu menarik minat masyarakat untuk menjadi anggotanya seperti dulu?

Realita kini

Jawabannya tentu tidak cukup hanya dengan membangun koperasi baru.

Persoalan utama koperasi hari ini bukan terletak pada jumlahnya, melainkan pada kepercayaan masyarakat, apalagi koperasi masih identik dengan pelayanan yang lambat, administrasi berbelit, minim inovasi, dan aktivitas yang hanya ramai saat rapat anggota tahunan.

Bahkan masyarakat kini semakin kritis, mereka tidak lagi bergabung karena ajakan, melainkan karena melihat manfaat yang benar-benar dirasakan.

Inilah tantangan terbesar koperasi di Palembang. Jika masih menawarkan pola lama, sulit berharap masyarakat kembali melirik, sebaliknya, jika koperasi itu mampu hadir sebagai solusi ekonomi, tentunya, peluang untuk bangkit masih sangat terbuka.

Sementara, jika koperasi menjadi tempat terbaik bagi petani menjual hasil panennya tanpa tengkulak, maka bisa membantu UMKM memperoleh modal dengan bunga ringan, menjadi distributor produk lokal Sumsel, atau bahkan memiliki aplikasi digital yang bisa memudahkan transaksi serta pembagian keuntungan secara transparan. Manfaat seperti itu sesungguhnya dicari masyarakat saat ini.

Sedangkan untuk generasi muda pun sebenarnya bukan anti terhadap koperasi,  mereka justru terbiasa bekerja secara kolaboratif melalui komunitas, bisnis kreatif, startup, hingga berbagai usaha digital. Nilai gotong royong yang menjadi roh koperasi masih bisa relevan, sehingga setidaknya perlu berubah itu adalah cara koperasi hadir untuk mengikuti perkembangan zaman.

Oleh sebab itu sebenarnya modernisasi tidak boleh berhenti pada slogan saja,  digitalisasi layanan, pengelolaan yang profesional, transparansi keuangan, hingga keberanian harus bisa membuka ruang bagi anak muda menjadi pengurus dan harus benar-benar diwujudkan.

Tanpa langkah itu, koperasi ke depannya akan semakin tertinggal dibandingkan lembaga keuangan dan platform digital yang bergerak jauh lebih cepat.

Meski demikian, kebijakan pemerintah patut diapresiasi, karena terus mendorong lahirnya koperasi yang modern di era saat ini. Namun keberhasilan tidak seharusnya diukur dari berapa banyak koperasi yang dibentuk. Yang jauh lebih penting berapa banyak koperasi itu yang aktif, memiliki anggota yang terus bertambah, mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya, dan menjadi penggerak ekonomi lokal.

Hari Koperasi seharusnya menjadi renungan dan momen untuk mengevaluasi, bukan hanya  memperingati, sebab masyarakat tidak membutuhkan koperasi yang hanya ada di atas kertas. Mereka membutuhkan koperasi yang benar-benar hadir memberikan manfaat.

Jika koperasi di Palembang mampu menjawab kebutuhan zaman, bukan tidak mungkin kejayaan yang pernah dirasakan puluhan tahun lalu akan kembali. Tetapi jika perubahan hanya berhenti pada pidato dan seremoni tahunan, koperasi akan semakin sulit bersaing di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital.

Oleh sebab itu, maka setidaknya masa depan koperasi bukan juga ditentukan banyaknya gedung atau jumlah organisasinya yang didirikan, melainkan bagaimana  membangun kepercayaan masyarakat, apalagi kepercayaan itu hanya lahir disaat memang masyarakat merasakan sendiri  menjadi anggota koperasi.

Bahkan merasa sangat menguntungkan, serta  memang bisa membawa perubahan bagi kehidupan merek, serta koperasi  memiliki keunggulan dari marketplace dan pembiayaan lainnya. (***)