Gaya Hidup

Banyak Pikiran tapi Berat Badan Naik? Ini Penjelasan Ilmiahnya

×

Banyak Pikiran tapi Berat Badan Naik? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Sebarkan artikel ini
ilustrasi/AI

Stres Tidak Selalu Membuat Orang Kurus, Justru Ada yang Makin Gemuk

BERITAPRESS.ID – “Kok bisa ya? Lagi banyak pikiran, tapi badan malah makin berisi.”

Kalimat seperti itu mungkin pernah Anda dengar. Bahkan, tidak sedikit orang yang mengalaminya sendiri. Di saat hidup sedang penuh tekanan, pekerjaan menumpuk, tagihan datang silih berganti, atau masalah keluarga tak kunjung selesai, logikanya tubuh akan menyusut karena kehilangan nafsu makan.

Namun kenyataannya, timbangan justru bergeser ke kanan.

Fenomena ini sering membuat orang bingung. Bukankah stres identik dengan tubuh kurus?

Jawabannya, tidak selalu.

Tubuh manusia ternyata jauh lebih pintar daripada yang kita bayangkan. Saat pikiran sedang “perang”, tubuh tidak otomatis ikut “mogok makan”. Sebaliknya, ia justru bisa mengubah cara mengelola energi agar mampu bertahan menghadapi tekanan.

Layaknya rumah yang bersiap menghadapi musim paceklik, tubuh memilih menyimpan lebih banyak “persediaan”. Persediaan itu adalah lemak.

Saat Pikiran Kacau, Tubuh Masuk Mode Bertahan Hidup

Ketika seseorang mengalami stres, otak menganggap sedang ada ancaman. Ancaman itu bisa berupa tekanan pekerjaan, masalah ekonomi, konflik rumah tangga, hingga kecemasan berkepanjangan.

Sebagai respons, tubuh melepaskan hormon kortisol atau yang sering disebut hormon stres.

Awalnya hormon ini sangat membantu. Kortisol membuat tubuh memiliki energi lebih untuk menghadapi situasi darurat.

Masalah muncul ketika stres tidak selesai dalam hitungan hari, tetapi berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Tubuh akhirnya mengira kondisi “darurat” itu belum berakhir. Akibatnya, ia mulai menyimpan lebih banyak energi dalam bentuk lemak sebagai cadangan.

Di sinilah banyak orang merasa, “Padahal makan saya biasa saja, kok berat badan naik?”

Nafsu Makan Bisa Tetap Normal

Tidak semua orang kehilangan selera makan saat stres.

Ada yang memang sulit menelan makanan karena perut terasa penuh. Namun, ada pula yang tetap makan seperti biasa. Bahkan, sebagian orang tanpa sadar menjadi lebih sering mencari camilan, minuman manis, atau makanan berlemak.

Yang menarik, meski porsi makan tidak bertambah banyak, perubahan hormon tetap dapat membuat tubuh lebih mudah menyimpan kalori.

Ibarat kendaraan, bensin yang masuk jumlahnya sama, tetapi mesin menjadi lebih irit membakarnya. Akibatnya, “sisa bensin” lebih banyak disimpan.

Diam-Diam Tubuh Lebih Sedikit Bergerak

Stres juga memiliki cara lain untuk memengaruhi berat badan.

Orang yang sedang banyak pikiran biasanya lebih cepat lelah. Aktivitas yang sebelumnya terasa ringan menjadi berat. Keinginan berolahraga pun perlahan menghilang.

Pulang kerja maunya langsung rebahan. Akhir pekan lebih banyak dihabiskan di atas sofa sambil menatap layar ponsel.

Kalori yang masuk mungkin tidak berubah, tetapi kalori yang dibakar jauh berkurang.

Sedikit demi sedikit, lemak mulai menumpuk.

Kurang Tidur, Berat Badan Ikut Naik

Masalah belum selesai.

Stres sering membuat tidur menjadi tidak nyenyak. Ada yang sulit memejamkan mata, ada pula yang sering terbangun tengah malam karena pikiran terus bekerja.

Padahal saat tidur, tubuh melakukan banyak proses penting, termasuk mengatur hormon yang mengendalikan rasa lapar dan kenyang.

Ketika waktu tidur berkurang, keseimbangan hormon ikut terganggu. Tubuh menjadi lebih mudah lapar, lebih sering menginginkan makanan manis, dan metabolisme pun melambat.

Tidak heran jika berat badan semakin sulit dikendalikan.

Setiap Orang Memiliki “Mesin” yang Berbeda

Mengapa teman sekantor sama-sama stres tetapi badannya kurus, sementara kita justru bertambah berat?

Jawabannya ada pada metabolisme dan faktor genetik.

Setiap orang memiliki “mesin pembakar kalori” yang berbeda. Ada yang tetap mampu membakar energi dengan cepat meski sedang tertekan. Ada pula yang tubuhnya lebih mudah menyimpan lemak ketika hormon stres meningkat.

Karena itu, membandingkan respons tubuh dengan orang lain sering kali tidak adil.

Angka Timbangan Bukan Satu-satunya Patokan

Menariknya, ada orang yang berat badannya tidak berubah, tetapi perut mulai membuncit.

Ini terjadi karena stres kronis dapat mengurangi massa otot dan meningkatkan penumpukan lemak, terutama di area perut.

Artinya, angka di timbangan boleh jadi tetap sama, tetapi komposisi tubuh sudah berubah.

Mengelola Stres Sama Pentingnya dengan Mengatur Pola Makan

Banyak orang fokus menghitung kalori, tetapi lupa mengurus pikirannya.

Padahal, kesehatan mental dan kesehatan fisik berjalan beriringan.

Tidur yang cukup, rutin bergerak, mengonsumsi makanan bergizi, meluangkan waktu untuk beristirahat, hingga berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu menurunkan tingkat stres.

Sebab, tubuh tidak hanya “mendengar” apa yang kita makan, tetapi juga “merasakan” apa yang sedang kita pikirkan.

Pepatah lama mengatakan, “pikiran memang tidak terlihat, tetapi dampaknya bisa terasa ke seluruh tubuh.”

Jadi, jika suatu hari Anda atau orang di sekitar tetap gemuk meski sedang banyak pikiran, jangan buru-buru heran. Bisa jadi tubuhnya sedang bekerja keras dengan caranya sendiri—bukan untuk menyiksa, melainkan untuk bertahan hidup. (***)