Politik

PKB Sumsel: Peta Kekuatan Baru Siapa Menguasai DPC Strategis

×

PKB Sumsel: Peta Kekuatan Baru Siapa Menguasai DPC Strategis

Sebarkan artikel ini
foto : ist

BERITAPRESS.ID, PALEMBANG | Peta politik Sumatera Selatan kembali bergerak pelan tapi pasti. Bukan karena pemilu sudah di depan mata, tapi karena mesin partai mulai dipanaskan dari sekarang.

Partai Kebangkitan Bangsa PKB baru saja menetapkan susunan Ketua, Sekretaris, dan Bendahara (KSB) DPC se-Sumsel periode 2026-2031. Keputusan ini disampaikan langsung oleh Ketua DPP Abdul Halim Iskandar melalui zoom meeting, menandai bahwa urusan struktur daerah kini makin dikendalikan dari pusat.

Di atas permukaan, ini terlihat seperti agenda rutin organisasi, penataan, penyegaran, dan konsolidasi. Tapi dalam politik, tidak ada keputusan yang benar-benar sekadar administratif. Selalu ada peta kekuatan yang ikut bergeser di baliknya, termasuk soal siapa yang naik, siapa yang bertahan, dan siapa yang pelan-pelan digeser ke pinggir.

Yang menarik, tidak semua DPC mendapat perlakuan yang sama. Ada yang langsung disahkan, ada juga yang disebut harus melalui evaluasi karena kinerjanya dinilai perlu perbaikan. Dalam bahasa politik daerah, “evaluasi” sering kali bukan sekadar catatan kecil, tapi bisa jadi sinyal bahwa mesin di wilayah tersebut dianggap kurang efektif atau tidak sejalan dengan target besar partai.

Dari situ, muncul pertanyaan yang mulai beredar di kalangan internal, siapa sebenarnya yang kini memegang kendali di DPC-DPC strategis di Sumsel? Karena dalam peta politik daerah, tidak semua wilayah punya bobot yang sama. Ada DPC yang disebut lumbung suara, ada yang jadi penentu arah koalisi lokal, dan ada yang diam-diam menjadi simpul penting jaringan politik menjelang 2029.

Instruksi dari DPP juga cukup tegas. KSB yang baru ditetapkan diminta segera menyusun kepengurusan dalam waktu dua hari, dengan pengawasan langsung dari DPP dan DPW. Ini bukan sekadar percepatan administrasi, tapi lebih seperti pesan bahwa mesin partai harus langsung siap jalan tanpa jeda. Tidak ada ruang untuk santai dalam fase konsolidasi seperti ini.

Di sisi lain, penyusunan struktur ini juga sudah diarahkan untuk kepentingan jangka panjang. Targetnya jelas kemenangan di 2029. Karena itu, pelantikan yang direncanakan bertepatan dengan harlah PKB di Jakarta akhir Juli nanti bukan hanya seremoni, tapi juga penanda dimulainya fase kerja politik yang lebih serius.

Namun pada akhirnya, daftar nama hanya permukaan. Kekuatan politik yang sesungguhnya tetap akan diuji di lapangan, di tingkat akar rumput, di mana pengaruh tidak selalu ditentukan oleh jabatan, tapi oleh seberapa kuat mesin bergerak ketika musim panas politik benar-benar tiba. (***)/one