Opini

Tagar Tak Bisa Menanam Mangrove

×

Tagar Tak Bisa Menanam Mangrove

Sebarkan artikel ini
foto : ist

BERITAPRESS.ID, |Aksi iklim generasi muda kembali menjadi sorotan pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Di tengah maraknya kampanye lingkungan di media sosial, tantangan terbesar bukan lagi membangun kesadaran, melainkan mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata yang memberi dampak bagi masyarakat dan lingkungan.

Adan kebiasaan unik yang selalu muncul setiap Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Tiba-tiba lini masa berubah menjadi hutan digital. Pohon bertebaran di mana-mana, poster hijau bermunculan, dan kutipan penyelamat bumi mengalir lebih deras daripada air sungai saat musim hujan.

Bumi tentu senang diperhatikan, tetapi ada satu masalah kecil.

Bumi tidak bisa menyerap karbon dari kolom komentar.

Perubahan iklim mungkin menjadi satu-satunya persoalan yang paling sering dibahas oleh orang,  bahkan malas memisahkan sampah di rumahnya sendiri. Kita rajin membagikan infografis tentang suhu bumi yang meningkat, tetapi masih bingung membedakan tempat sampah organik dan anorganik.

Kita fasih berbicara tentang lingkungan global, tetapi kadang botol plastik bekas minuman masih mendarat sembarangan di selokan depan rumah. Inilah ironi zaman modern, kesadaran lingkungan tumbuh cepat, tetapi aksi nyatanya sering berjalan dengan kecepatan siput yang sedang mengantuk.

Oleh sebab  itu, baru-baru ini saya membaca laman resmi di situs kemenhl, ketika 350 mahasiswa Universitas Hasanuddin bersiap mengikuti KKN Tematik Perubahan Iklim, mereka sebenarnya sedang memasuki arena yang berbeda. Di sana tidak ada tombol “like”, tidak ada fitur “share”, dan tidak ada algoritma yang membantu menaikkan jangkauan.

Yang ada justru tantangan yang sesungguhnya, meyakinkan masyarakat  menjaga lingkungan bukan cukup urusan aktivis, melainkan kebutuhan bersama.

Direktur Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim KLH/BPLH, Irawan Asaad, menaruh harapan agar para mahasiswa mampu menyerap ilmu praktis dan menerapkannya langsung dalam aksi nyata di lapangan. Harapan itu terdengar sederhana, tetapi justru menjadi inti dari persoalan lingkungan yang selama ini kita hadapi.

Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan seminar, tidak juga kekurangan diskusi, tidak pula kekurangan webinar. Bahkan mungkin tidak kekurangan spanduk bertema penyelamatan bumi.

Yang sering kurang adalah orang yang mau bertahan sampai pekerjaan selesai.

Apalagi  pesan Muhammad Ikhwan dari Program Kampung Iklim Lestari Sulawesi Selatan layak dicatat tebal-tebal. “Kalau tidak berani sampai finish, jangan pernah mulai di start.”

Kalimat itu menurut saya terdengar seperti nasihat pelatih maraton. Namun dalam urusan lingkungan, pesannya sangat relevan. Banyak program lahir dengan gegap gempita, lalu hilang sebelum sempat menghasilkan perubahan. Semangatnya besar saat pembukaan, tetapi mengecil ketika harus menghadapi kenyataan di lapangan.

Ekonomi biru

Padahal lingkungan tidak pernah berubah karena gebrakan sesaat. Lingkungan berubah karena kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang, misalnya sampah dipilah hari ini, dipilah lagi besok, lalu dipilah lagi minggu depan. Pohon ditanam hari ini, lalu dirawat bertahun-tahun setelahnya, dan tidak viral, tidak spektakuler, tetapi saya rasa sangat efektif.

Persoalan sampah menjadi contoh paling nyata, sebab selama ini banyak orang melihat sampah sebagai akhir dari sebuah barang. Padahal bagi mereka yang kreatif, sampah bisa menjadi awal dari peluang ekonomi baru. Dari bank sampah, ekonomi sirkular, hingga green jobs, semuanya berangkat dari sesuatu yang sering dianggap tidak bernilai.

Masalahnya sebanarnya sederhan, mengubah cara pandang masyarakat jauh lebih sulit daripada membuat poster kampanye.

Maka dari itu KKN bertema perubahan iklim menjadi menarik,  apalagi mahasiswa tidak hanya diuji oleh kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan mendengar. Tidak hanya diuji oleh teori yang dipelajari di kampus, tetapi juga oleh kesabaran menghadapi persoalan nyata di tengah masyarakat.

Tentu kesimpulannya sebenarnya benang merahnya, yaitu krisis iklim bukan pertandingan adu slogan. Apalagi bumi kita tidak menghitung berapa banyak tagar yang berhasil menjadi trending topic. Sungai tidak menjadi bersih karena unggahan mendapat ribuan suka. Hutan tidak kembali hijau karena sebuah poster dibagikan berkali-kali.

Bumi hanya mengenal satu  kalimat  sederhana, yaitu tindakan.

Bak pepatah, seribu langkah selalu dimulai dari satu pijakan, bedanya memang, dalam urusan lingkungan, satu pijakan itu bukan menuju panggung, melainkan turun ke tanah, menyingsingkan lengan baju, lalu mulai bekerja.

Sebab, tagar boleh viral sehari, namun pohon yang ditanam hari ini bisa memberi manfaat puluhan tahun kemudian. (***)/one