Press

Opini ” Kemerdekaan dan Estafet Perjuangan ”  Menjaga Warisan, Menjemput Masa Depan OKU Selatan

×

Opini ” Kemerdekaan dan Estafet Perjuangan ”  Menjaga Warisan, Menjemput Masa Depan OKU Selatan

Sebarkan artikel ini

OPINI : 

Oleh   : Suardi Idris 

BERITAPERSS, ID OKU Selatan-

Kemerdekaan bukan sekadar tanggal yang diperingati setiap 17 Agustus. Ia adalah buah dari pengorbanan yang mahal, darah, air mata, keberanian, dan pengabdian para pejuang bangsa.

Karena itu, memaknai kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada upacara, bendera, maupun kemeriahan perayaan. Kemerdekaan harus dijawab dengan tanggung jawab—menjaga, merawat, dan mengembangkan apa yang telah diperjuangkan oleh generasi sebelumnya.

Semangat itulah yang sesungguhnya juga dapat kita baca dalam sejarah lahirnya Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKU Selatan).

OKU Selatan tidak hadir begitu saja di atas peta. Kabupaten ini lahir dari aspirasi dan perjuangan panjang masyarakat di wilayah selatan OKU yang menginginkan pemerintahan yang lebih dekat, pembangunan yang lebih merata, pelayanan publik yang lebih baik, serta masa depan yang lebih menjanjikan.

Salah satu tonggak penting perjuangan tersebut adalah terbentuknya Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (P3KOS) pada 25 November 2000.

Di dalamnya berhimpun para tokoh dan pejuang daerah yang bekerja mengawal aspirasi pemekaran. Salah satu nama yang kemudian sangat lekat dengan sejarah perjuangan tersebut adalah H. Muhtadin Sera’i, yang dikenal sebagai Ketua P3KOS.

Perjuangan panjang itu akhirnya memperoleh landasan hukum melalui Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2003 yang ditetapkan pada 18 Desember 2003. Tak lama berselang, pada 17 Januari 2004, OKU Selatan resmi berdiri sebagai daerah otonom dengan Muaradua sebagai ibu kota.

Tanggal-tanggal tersebut tidak semestinya berhenti sebagai catatan administratif. Di baliknya terdapat sebuah pelajaran penting, sebuah daerah dapat lahir karena perjuangan, tetapi kemajuan hanya mungkin diwujudkan melalui perjuangan yang terus-menerus.

H. Muhtadin Sera’i kemudian dipercaya menjadi bupati definitif pertama OKU Selatan dan memimpin selama dua periode, 2005–2010 dan 2010–2015. Estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan H. Popo Ali Martopo, B.Commerce, yang memimpin selama dua periode, 2016–2021 dan 2021–2025.

Kini, tongkat estafet kepemimpinan berada di tangan Abusama, S.H., bersama H. Misnadi, yang memimpin OKU Selatan untuk periode 2025–2030.

Nama-nama tersebut penting sebagai bagian dari perjalanan sejarah daerah. Namun, yang jauh lebih penting adalah nilai yang diwariskan dari perjalanan panjang itu.

Para pendahulu OKU Selatan tidak berjuang semata-mata agar wilayah ini memiliki status sebagai sebuah kabupaten. Lebih dari itu, mereka tentu menghendaki lahirnya sebuah daerah yang mampu berdiri dengan martabatnya sendiri, ini memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat, membuka kesempatan, mengembangkan potensi daerah, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Karena itu, tugas generasi hari ini bukan sekadar mengenang para pejuang pemekaran. Tugas kita adalah memastikan bahwa perjuangan mereka tidak berhenti sebagai romantisme sejarah.

Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk menghadirkan sebuah daerah otonom, maka perjuangan hari ini adalah bagaimana menjadikan OKU Selatan semakin maju, mandiri, sejahtera, berdaya saing, dan bermartabat.

Perjuangan tidak selalu berbentuk pertempuran. Pada masa kini, perjuangan dapat diwujudkan melalui pendidikan yang berkualitas, pembangunan yang berkeadilan, pelayanan publik yang profesional, penguatan ekonomi masyarakat, perlindungan lingkungan, pengembangan potensi daerah, inovasi, serta keberanian membangun tata kelola pemerintahan yang bersih dan berpihak pada kepentingan rakyat.

Kemerdekaan juga menuntut keberanian untuk keluar dari cara berpikir yang lama ketika zaman telah berubah.

Daerah tidak cukup hanya memiliki sumber daya alam. Yang lebih penting adalah kemampuan mengelolanya secara bijak agar memberikan nilai tambah dan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Serta  tidak cukup hanya membangun infrastruktur, Pembangunan harus bermuara pada peningkatan kualitas hidup manusia.

Dengan demikian, ukuran kemajuan OKU Selatan tidak semata-mata terlihat dari panjang jalan yang dibangun, gedung yang berdiri, atau angka-angka pembangunan yang tercatat dalam laporan.

Ukuran yang paling penting adalah sejauh mana masyarakat merasakan hadirnya negara dan daerah dalam kehidupan sehari-hari—melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan administrasi, kesempatan ekonomi, keamanan, dan ruang yang lebih luas untuk berkembang.

Selanjutnya, menghargai sejarah berarti memahami bahwa apa yang kita nikmati hari ini dibangun melalui pengorbanan generasi sebelumnya. Dan memahami perjuangan masa lalu seharusnya tidak membuat kita berhenti menoleh ke belakang. Sebaliknya, sejarah harus menjadi energi untuk melangkah lebih jauh ke depan.

Perjuangan para pahlawan bangsa pada 1945 telah melahirkan Indonesia yang merdeka. Perjuangan para pendahulu OKU Selatan telah melahirkan sebuah daerah otonom.

Kita tidak lagi diminta mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan. Kita dituntut mengangkat kualitas pendidikan, memperkuat ekonomi rakyat, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pelayanan publik, menjaga lingkungan, membangun pemerintahan yang berintegritas, serta merawat persatuan di tengah berbagai perbedaan.

Maka, pada momentum Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah selayaknya kita menundukkan kepala sejenak untuk mengenang jasa para pahlawan bangsa.

Setelah itu, kita juga patut mengingat para pendahulu OKU Selatan yang telah mencurahkan tenaga, pikiran, waktu, dan pengabdian untuk menghadirkan daerah ini sebagai rumah bersama bagi seluruh masyarakatnya.

Namun, penghormatan terbaik kepada mereka bukanlah sekadar menyebut nama dalam setiap peringatan. Sebaliknya, Penghormatan terbaik adalah memastikan bahwa daerah yang mereka perjuangkan terus bergerak maju.

Sebab pada akhirnya, menghargai perjuangan bukan hanya dengan mengenangnya, melainkan dengan menjaga, merawat dan mengembangkan apa yang telah diwariskan, agar kemerdekaan dan perjuangan tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi menjadi pijakan untuk menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang.

Dirgahayu Rebuplik Indonesi ke-i 81 Tahun 2026.

Era Baru Kabupaten OKU Selatan, semoga semakin Berjaya.(SR)