BERITAPRESS.ID, PAGARALAM |Rumah Baghi Pagaralam kini resmi hadir sebagai pusat layanan restorative justice yang menghadirkan solusi hukum lebih dekat dan humanis bagi masyarakat. Kehadiran Rumah Baghi di Kompleks MTQ Gunung Gare ini menjadi langkah baru Pemerintah Kota Pagaralam bersama Kejaksaan Negeri Pagaralam dalam memperkuat akses keadilan yang mudah dijangkau warga, sekaligus mengedepankan penyelesaian masalah hukum secara damai dan bermartabat.
Di kaki Gunung Dempo yang sejuk, sebuah rumah adat berdiri bukan sekadar untuk dipandang, tetapi untuk didatangi. Namanya Rumah Baghi—rumah yang kini bukan hanya menyimpan nilai budaya, tapi juga menjadi ruang baru bagi warga mencari jalan keluar dari persoalan hukum tanpa harus selalu berujung di meja panjang persidangan.
Peresmian Rumah Baghi dilakukan oleh Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru pada Selasa (22/6/2026). Turut mendampingi Ketua TP PKK Sumsel Hj. Feby Herman Deru, Wali Kota Pagaralam H. Ludi Oliansyah, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Pagaralam.
Namun lebih dari seremoni, Rumah Baghi lahir dari gagasan sederhana: hukum tidak boleh terasa jauh, dingin, apalagi menakutkan bagi masyarakat. Di sinilah konsep restorative justice mengambil peran, menggeser wajah hukum yang kaku menjadi lebih dialogis dan mencari titik temu.
Warga yang memiliki persoalan hukum ringan kini dapat datang untuk mendapatkan pendampingan, konsultasi, hingga edukasi hukum. Pendekatan ini menekankan penyelesaian yang adil tanpa harus selalu berujung pada hukuman, tetapi lebih pada pemulihan hubungan sosial yang sempat retak.
Menariknya, Rumah Baghi tidak meninggalkan identitas lokalnya. Bangunan ini mengadopsi rumah adat Pagaralam dengan atap khas menyerupai tanduk kerbau, sekaligus dirancang tahan gempa. Perpaduan ini membuatnya bukan hanya simbol budaya, tetapi juga simbol ketahanan dan adaptasi zaman.
Di tengah arus modernisasi hukum, Rumah Baghi seperti pepatah lama yang kembali dihidupkan: keadilan tidak selalu harus keras, kadang cukup dengan duduk bersama dan mencari jalan pulang yang sama.
Kini, Rumah Baghi berdiri sebagai ruang baru tempat di mana hukum, budaya, dan kemanusiaan bertemu tanpa sekat, memberi harapan bahwa keadilan bisa hadir lebih dekat, lebih hangat, dan lebih manusiawi bagi warga Pagaralam.(***)



























