NASIONALTeknologi

Rehabilitasi Gambut, Kok Lahan Bisa Pulih?

×

Rehabilitasi Gambut, Kok Lahan Bisa Pulih?

Sebarkan artikel ini
kehutanan.go.id

BERITAPRESS.ID | Rehabilitasi gambut Tumbang Nusa menjadi bukti bahwa lahan yang pernah mengalami kerusakan tidak selamanya kehilangan fungsi ekologisnya. Melalui pemulihan tata air, penanaman vegetasi asli, serta pengelolaan berkelanjutan sejak 2016, kawasan gambut di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, perlahan kembali pulih. Pengalaman ini menunjukkan bahwa gambut yang rusak masih memiliki peluang bangkit jika dipulihkan dengan cara yang tepat.

Bagi sebagian orang, gambut mungkin hanya dipandang sebagai lahan basah yang dipenuhi pepohonan. Padahal, ekosistem ini memiliki peran penting bagi kehidupan. Gambut mampu menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar, menjaga ketersediaan air, menjadi habitat berbagai flora dan fauna, sekaligus membantu mengurangi dampak perubahan iklim.

Namun, ketika gambut mengalami kerusakan akibat pembukaan lahan, pengeringan, atau kebakaran hutan dan lahan, fungsinya ikut hilang. Gambut yang mengering berubah menjadi sangat mudah terbakar. Bahkan, api dapat merambat hingga ke lapisan bawah tanah sehingga sulit dipadamkan dan menghasilkan asap dalam jumlah besar.

Mengapa Rehabilitasi Gambut Tidak Cukup Hanya Menanam Pohon?

Banyak yang mengira rehabilitasi gambut hanya sebatas menanam bibit pohon di lahan yang rusak. Faktanya, proses pemulihan jauh lebih kompleks.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengembalikan kondisi hidrologi atau tata air gambut. Air harus tetap tersimpan di dalam lapisan gambut agar tanah tetap lembap. Untuk itu, pengelola melakukan pemantauan tinggi muka air secara berkala sekaligus mengatur sistem drainase agar gambut tidak mengering.

Setelah kondisi air kembali stabil, barulah dilakukan penanaman vegetasi asli gambut. Tahapan ini penting karena tanaman lokal memiliki kemampuan beradaptasi dengan karakter lahan gambut sekaligus membantu memulihkan fungsi ekosistem secara alami.

Delapan Tahun Memulihkan Gambut di Tumbang Nusa

Salah satu contoh rehabilitasi tersebut dapat ditemukan di kawasan RePeat Tumbang Nusa seluas sekitar 27 hektare. Kawasan ini mulai direhabilitasi sejak 2016 sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem gambut yang mengalami degradasi.

Berbagai jenis pohon khas gambut ditanam di kawasan tersebut, di antaranya Shorea balangeran, pulai, jelutung, dan pantung. Pemilihan spesies lokal bukan tanpa alasan. Tanaman tersebut telah lama beradaptasi dengan kondisi lahan gambut sehingga memiliki tingkat keberhasilan tumbuh yang lebih baik dibandingkan tanaman dari ekosistem lain.

Selain penanaman, pengelolaan kawasan juga dilakukan melalui pemantauan tinggi muka air, pemeliharaan kawasan, penelitian, hingga pengembangan berbagai inovasi untuk mendukung mitigasi kebakaran hutan dan lahan.

Gambut yang Pulih Memberikan Banyak Manfaat

Pemulihan gambut tidak hanya berdampak pada kelestarian hutan, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Gambut yang tetap basah akan mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau. Hal ini membantu menekan munculnya kabut asap yang selama ini menjadi persoalan di berbagai daerah.

Selain itu, gambut yang sehat mampu menyimpan air lebih lama sehingga membantu menjaga keseimbangan hidrologi di sekitarnya. Fungsi ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Di sisi lain, kawasan gambut yang pulih juga kembali menjadi habitat berbagai jenis tumbuhan dan satwa, sekaligus membuka peluang pengembangan penelitian, pendidikan, hingga kegiatan ekonomi berbasis pemanfaatan hasil hutan bukan kayu yang berkelanjutan.

Kolaborasi Menjadi Kunci Keberhasilan

Keberhasilan rehabilitasi gambut tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Pengelolaan kawasan membutuhkan kolaborasi pemerintah, akademisi, masyarakat, dunia usaha, hingga mitra pembangunan.

Di Tumbang Nusa, kolaborasi tersebut diwujudkan melalui patroli bersama Masyarakat Peduli Api (MPA), pemantauan kondisi gambut, penguatan kapasitas masyarakat, serta pengembangan berbagai teknologi untuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Pendekatan berbasis kolaborasi ini juga diterapkan di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa yang memiliki luas sekitar 4.900 hektare. Kawasan tersebut kini dikembangkan sebagai laboratorium lapangan untuk penelitian, pembelajaran, sekaligus demonstrasi teknologi pengelolaan ekosistem gambut yang dapat diterapkan di berbagai wilayah Indonesia.

Menjaga Gambut Berarti Menjaga Masa Depan

Pemulihan lahan gambut memang bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam waktu singkat. Pengalaman di Tumbang Nusa menunjukkan bahwa dibutuhkan waktu bertahun-tahun, kesabaran, serta kerja sama berbagai pihak agar ekosistem yang rusak dapat kembali menjalankan fungsinya.

Meski demikian, hasilnya memberikan harapan. Rehabilitasi gambut Tumbang Nusa membuktikan bahwa lahan yang pernah rusak masih bisa pulih melalui pengelolaan tata air yang baik, penanaman vegetasi lokal, serta komitmen menjaga kawasan secara berkelanjutan. Pada akhirnya, menjaga gambut bukan hanya tentang melestarikan hutan, tetapi juga melindungi masyarakat, mengurangi risiko bencana, dan memperkuat ketahanan Indonesia menghadapi perubahan iklim. (***)