FakfakPapua

Membangun Karakter Merdeka: SDM Bukan Sekadar Robot Tanpa Moral

×

Membangun Karakter Merdeka: SDM Bukan Sekadar Robot Tanpa Moral

Sebarkan artikel ini

Oleh:
LUTFI RUMADAY, S.Ag, M.Pd.I, MM.SIP
Dosen STAI Al-Mahdi Fakfak

Tulisan singkat : Di Hardiknas Tanggal 2 Mei 2026

BERITAPRWSS, ID FAKFAK/Setiap tanggal 2 Mei. Tanggal yang sama setiap tahun. Tapi makna di baliknya tidak pernah sama. Karena kita tidak sedang memperingati angka di kalender. Tetapi Kita sedang memperingati sebuah perlawanan.
137 tahun lalu, lahir seorang anak bangsawan bernama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Dia bisa saja diam, hidup nyaman, sekolah tinggi untuk dirinya sendiri.

Tapi dia memilih gelisah. Dia melihat bangsanya dibodohi agar mudah dijajah. Sekolah hanya untuk segelintir orang. Maka 3 Juli 1922, dia dirikan Taman Siswa. Bukan gedung mewah, tapi gerakan. Bukan untuk cari gelar, tapi untuk memerdekakan pikiran.

Dia yang kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara. Bapak Pendidikan Indonesia.
Semboyannya masih kita hafal sampai hari ini:

Ing Ngarso Sung Tulodo Di depan memberi teladan. Ing Madya Mangun Karso-Di tengah membangun semangat.
Tut Wuri Handayani  Di belakang memberi dorongan.

Di zaman penjajahan dulu, musuh kita jelas, yaitu penjajah Belanda yang melarang pribumi sekolah. zaman sekarang, musuh kita tidak berseragam tapi musuh kita adalah kesenjangan. Karena ada anak di kota besar yang sudah belajar menggunkan AI. Tapi wilayah Timur Indonesia di pelosok Maluku, di pedalaman Papua, sinyal internet masih jadi barang mewah. Listrik pun masih bisa di hitung dengan jari.
Dulu, Ki Hajar melawan diskriminasi ras. Sekarang, kita harus melawan diskriminasi nasib dan geografis.

Guru kita hari ini hebat-hebat. Tapi kita harus berkata jujur bahwa banyak yang masih lelah; karena lelah dengan administrasi, lelah dengan perubahan kurikulum yang begitu cepat, lelah karena merasa berjuang sendiri. sehingga berat kalau teladannya tidak didukung sistem.
Murid kita hari ini pintar-pintar.

Tapi banyak yang cemas. Cemas dengan masa depan di era AI. Cemas karena sekolah terasa jauh dari dunia kerja. Cemas karena nilai di atas kertas belum tentu menjamin hidup sejahtera. Bukan hanya cemas tapi muncul ketakutan karena sebagaian anak bangsa di pelsok negeri ke sekolah harus lewat kali yang mengalir begitu deras, namun apa mau di kata itulah kondisi pendidikan yang terjadi di Indnoesia Bagian Timur. Kondisi seperti ini, bagaimana kita bicarakan Sumber Daya manusia, melaksanakn Kurikulum dan membentuk karakter dan Moral pada anak. Kondisi ini tidak hanya pada anak/siswa saja, tetapi juga ada pada orang dewasa yang telah menempuh Pendidikan Tinggi.

Sungguh Indah. Lengkap, dan Ideal.

Tapi mari kita jujur bahwa hari ini Tridharma sudah jadi pajangan dinding, bukan pedoman hidup. Karena fondasinya rapuh, lapuk dan berlubang, istilah ini senada dengan penurunan kepadatan atau kekuatan etika.

Dharna 1 Pendidikan, Tapi Kehilangan Keteladanan, karena kebanyakan anak tidak belajar pada apa yang kita katakan, tapi anak belajar dari apa yang kita lakukan, atau dengan kata lain generasi sekarang pintar bicara tapi hancur adab.

Dharma 2 Penelitian, Tapi Kehilangan Kejujuran, kebanyakan kita belum mencapai kata Jujur pada penelitian, yakni jujur pada data, jujur pada proses, jujur pada sumber dan jujur pada tujuan.

Dharma 3 Pengabdian, Tapi Kehilangan Keberpihakan

Pengabdian kepada Masyarakat. Dharma paling mulia. Tapi paling sering dimuliakan di atas kertas.

Kita lupa pesan Ki Hajar: “Tujuan pendidikan itu menuntun segala kodrat anak, agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”

Keselamatan, bukan cuma selamat wisuda. Tapi Selamat jadi manusia yang cerdas serta jauh dari culas. Maka jadikan Hardiknas 2 Mei ini harus jadi momen tobat akademik. Bagi Civitas Akademika baik yang masih Mahasiswa maupun sudah selesai dari dunia kampus, semuanya saat ini adalah pempimpin dan sebagian dari itu adalah calon pemimpin, bahwa Gelar tanpa etika itu seperti SIM tanpa bisa nyetir: bahaya bagi orang lain.

Tridharma tanpa etika sama seperti Tripenderitaan. Penderitaan untuk rakyat yang pajaknya dipakai, penderitaan untuk bangsa yang butuh solusi, penderitaan untuk masa depan kita sendiri. Mari kembalikan Tridharma dari dinding ke dada. Dari slogan ke tindakan. Karena kampus yang besar bukan yang gedungnya tinggi. Tapi yang lulusannya tinggi akhlaknya.

Jika etika di kembalikan ke kampus, maka Tridharma bukan lagi slogan, la akan jadi jalan. Jalan menuju Indonesia yang cerdas dan beradab. Ki Hajar tidak berjuang agar kita punya kurikulum keren. Dia berjuang agar bangsa ini mempunya karakter merdeka. SDM tanpa moral = robot. Kurikulum tanpa moral = alat. Moral tanpa ilmu lemah. Tiga-tiganya harus jalan bareng.

Maka lewat momen di Hardiknas ini. Kita tingkatkan SDM: Sejahterakan guru, bukan cuma sertifikasi. Latih guru jadi pamong, bukan admin. Didik siswa jadi manusia, bukan mesin nilai. Ajak orang tua balik jadi madrasah pertama. Jalankan Kurikulum Merdeka dengan jujur: Adaptasi, bukan adopsi buta. Merdeka itu bukan bebas, tapi bertanggung jawab. merdeka bisa berarti merdeka dari kebodohan baru merdeka memilih”. Kembalikan Etika sebagai Panglima: Sebelum ajar coding, ajar conscience. Sebelum ajar Al, ajar adab”. Karena sepintar apa pun anak bangsa, kalau tidak punya malu dan

takut Tuhan, dia hanya akan jadi pintar membangkrutkan negeri. Kalau tidak, 2045 kita bukan Indonesia Emas. Tapi Indonesia Cemas. (IB).