BERITAPRESS.ID, JAKARTA |Ekonomi kreatif Indonesia membutuhkan data yang lebih akurat dan terukur untuk mendukung kebijakan yang tepat sasaran, sehingga kolaborasi antara Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi langkah strategis dalam memperkuat fondasi data ekonomi kreatif nasional.
Penguatan data ini dinilai penting karena sektor ekonomi kreatif terus berkembang pesat, terutama di era digital yang melahirkan model bisnis baru, subsektor baru, hingga pola kerja kreatif yang semakin dinamis dan sulit dipetakan jika hanya mengandalkan estimasi.
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekraf dan BPS sepakat memperkuat kerja sama dalam penyediaan statistik yang lebih komprehensif, mulai dari penghitungan Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif, data ekspor barang dan jasa kreatif, hingga pengembangan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) agar lebih relevan dengan perkembangan industri saat ini.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa kebijakan di sektor ekonomi kreatif tidak bisa lagi dibangun berdasarkan asumsi. Menurutnya, setiap intervensi pemerintah harus bertumpu pada data yang kuat, akurat, dan relevan agar dampaknya benar-benar terasa terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
“Kami mengapresiasi kolaborasi yang telah berjalan dengan BPS sebagai mitra strategis. Ke depan, kebijakan tidak bisa dibangun berdasarkan asumsi, tetapi harus bertumpu pada data yang kuat, akurat, dan relevan,” ujar Riefky dalam pertemuan di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, kemarin.
Selain penguatan statistik dasar, kedua lembaga juga membahas perluasan cakupan aktivitas ekonomi kreatif dalam KBLI 2025.
Langkah ini dilakukan agar perkembangan industri kreatif, termasuk ekonomi digital dan jasa berbasis kreativitas, dapat tercatat secara lebih presisi dalam sistem statistik nasional.
Menteri Ekraf juga menekankan bahwa ekonomi kreatif memiliki peran besar dalam menciptakan lapangan kerja, memperkuat kelas menengah, serta meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. Ia menilai sektor ini tidak hanya penting untuk pasar domestik, tetapi juga harus mampu bersaing melalui karya dan talenta kreatif Indonesia di tingkat internasional.
Sementara itu, Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut ekonomi kreatif sebagai sektor yang tumbuh pesat dan inklusif karena banyak melibatkan masyarakat lokal. Namun, ia menegaskan perlunya penguatan data agar kontribusi sektor ini dapat terukur dengan lebih jelas.
BPS berkomitmen memperluas pencatatan aktivitas ekonomi berbasis digital dan jasa, sekaligus mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 serta Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). Hasil penguatan data ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam penyusunan kebijakan ekonomi nasional yang memiliki efek ganda atau multiplier effect.
“Ekonomi kreatif ini merupakan growing sector yang unik karena tiap subsektornya mendorong pertumbuhan inklusif. Kolaborasi dengan Ekraf penting agar arah kebijakan semakin solid berbasis data,” ujar Amalia.
Kolaborasi Ekraf dan BPS ini diharapkan menjadi langkah awal menuju sistem data ekonomi kreatif yang lebih lengkap, akurat, dan mampu menjawab tantangan perkembangan industri kreatif yang semakin cepat dan kompleks. (***) ekraf/one




























































