Scroll untuk baca artikel
FakfakPapua

Festival Mambunibuni, di Haidir Dua Pastor: Gereja Katolik Dukung Pelestarian Budaya

×

Festival Mambunibuni, di Haidir Dua Pastor: Gereja Katolik Dukung Pelestarian Budaya

Sebarkan artikel ini

BERITAPRESS. ID, FAKFAK|Gereja Katolik menunjukkan dukungannya terhadap pelestarian budaya lokal melalui kehadiran dua pastor dalam Festival Mambunibuni di Kampung Mambunibuni, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Sabtu (12/9/2026).

Ketua Tim Pastoral Wilayah (TPW) Fakfak, Pastor Alex Fabianus, Pr, yang juga Pastor Paroki Santo Yosep Fakfak, hadir bersama Pastor Yosep Lamak, Pr, Pastor Paroki Santo Gerardus Mayela Wayati.

Keduanya menghadiri festival yang menjadi bagian dari Festival Budaya Teluk Berau 2026 bertajuk “Qpeh Kogangandin”.

Kehadiran kedua pastor tersebut menjadi bentuk keterlibatan Gereja dalam kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat. Gereja tidak hanya hadir dalam ruang keagamaan, tetapi juga mengambil bagian dalam upaya menjaga warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Festival Mambunibuni menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan kekayaan budaya sekaligus potensi kampung kepada masyarakat luas.

Salah satu tradisi yang ditampilkan dan masih dipertahankan masyarakat Mambunibuni adalah barter, yakni pertukaran barang tanpa menggunakan uang.

Tradisi tersebut tidak sekadar mencerminkan praktik ekonomi tradisional. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, saling memberi, saling menghargai, serta membangun hubungan sosial antarmasyarakat.

Karena itu, barter menjadi bagian dari identitas dan kearifan lokal masyarakat Mambunibuni yang dinilai penting untuk terus dikenalkan kepada generasi muda.

Bagi Gereja Katolik, keterlibatan dalam kegiatan kebudayaan merupakan bagian dari semangat inkulturasi, yakni perjumpaan antara iman Kristiani dan kebudayaan masyarakat setempat.

“Gereja Katolik hadir dan terlibat dalam kegiatan budaya karena menjalankan prinsip inkulturasi,” ujar Pastor Alex.

Menurut dia, Gereja tidak hadir untuk mencabut masyarakat dari akar budayanya. Sebaliknya, Gereja menghormati budaya lokal dan membuka ruang bagi berbagai bentuk ekspresi budaya yang mengandung nilai-nilai baik.

“Menjadi Katolik tidak berarti harus meninggalkan identitas budaya,” katanya.

Pastor Alex menjelaskan, berbagai unsur budaya seperti tarian, pakaian adat, bahasa daerah, musik tradisional, hingga tradisi masyarakat merupakan kekayaan yang perlu dihargai dan dilestarikan selama tidak bertentangan dengan iman Kristiani.

Namun, kata dia, keterbukaan terhadap budaya tetap memiliki batas. Penghargaan terhadap budaya tidak boleh berubah menjadi sinkretisme atau pencampuran ajaran yang dapat mengaburkan inti iman Kristiani.

Dengan demikian, inkulturasi bukan berarti mencampuradukkan iman dengan seluruh unsur budaya. Gereja berupaya menemukan dan menghargai nilai-nilai positif dalam budaya masyarakat serta menghayatinya secara selaras dengan iman.

Kehadiran Pastor Alex dan Pastor Yosep di Festival Mambunibuni juga memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai unsur kehidupan masyarakat.

Festival tidak hanya menjadi panggung untuk menampilkan tradisi, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa kebudayaan merupakan bagian penting dari identitas masyarakat.

Bagi generasi muda, kegiatan seperti Festival Mambunibuni menjadi kesempatan untuk mengenal kembali warisan leluhur di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

Pelestarian budaya karena itu tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau komunitas adat, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat, termasuk Gereja.

Melalui Festival Budaya Teluk Berau 2026, masyarakat Mambunibuni menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat modern.

Di tengah perubahan zaman, tradisi barter dan berbagai warisan budaya lainnya menjadi pengingat bahwa kehidupan masyarakat tidak hanya dibangun melalui transaksi ekonomi, tetapi juga melalui relasi, kebersamaan, saling menghargai, dan persaudaraan.

“Kita dapat tetap mencintai dan menjaga budaya sendiri sekaligus menghayati iman Katolik. Inilah semangat inkulturasi,” ujar Pastor Alex. (IB).