BERITAPRESS.ID, PALEMBANG | Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Sumatera Selatan menggelar pengukuhan pengurus yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-6 Ikawangi Sumsel di Gedung Serbaguna Suka Ria, Jalan Perwari No. 2, Kecamatan Ilir Timur III, Palembang, Senin (20/7/2026).
Acara berlangsung meriah dengan penampilan sendratari “Asal Usul Kota Banyuwangi” yang dibawakan para seniman Ikawangi Sumsel. Pertunjukan tersebut memukau para tamu undangan sekaligus menjadi bukti komitmen Ikawangi dalam melestarikan seni dan budaya Banyuwangi di tengah masyarakat Sumatera Selatan.
Kegiatan ini dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, Dr. H. Rudi Irawan, S.Sos., M.Si., mewakili Gubernur Sumatera Selatan, Pembina Ikawangi Sumsel Hj. Anita Noeringhati, tokoh masyarakat, pengurus berbagai paguyuban daerah, serta perwakilan Ikawangi dari sejumlah provinsi.
Dalam sambutannya, Rudi Irawan mengaku terkesan dengan penampilan para seniman Banyuwangi yang dinilainya mampu menyuguhkan pertunjukan budaya berkualitas.
“Saya sangat terpukau melihat penampilan para seniman Banyuwangi. Ini membuktikan bahwa di mana pun berada, masyarakat tetap menjaga adat istiadat, seni, dan budaya daerah asalnya untuk diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Menurut Rudi, keberadaan paguyuban seperti Ikawangi memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai wadah mempererat silaturahmi warga perantauan, tetapi juga menjadi mitra pemerintah dalam menjaga dan melestarikan kekayaan budaya Nusantara.
“Kami yang diberi amanah oleh Gubernur untuk mengembangkan seni dan budaya sangat terbantu dengan adanya paguyuban seperti Ikawangi. Bersama-sama kita merawat dan melestarikan kekayaan budaya Banyuwangi yang menjadi bagian dari keberagaman budaya di Sumatera Selatan. Seni budaya juga menjadi perekat harmoni di tengah masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Ikawangi Sumatera Selatan, Suroso, mengatakan organisasi yang berdiri sejak 2020 tersebut terus berkembang menjadi wadah silaturahmi masyarakat Banyuwangi di perantauan.
Ia menegaskan bahwa Ikawangi terbuka bagi seluruh warga Banyuwangi tanpa membedakan latar belakang, dengan semangat utama membangun persaudaraan.
“Jangan sekali-kali kehilangan identitas hanya untuk meraih tujuan. Kita tetap harus menjaga jati diri sebagai warga negara, sebagai umat beragama, dan sebagai anggota masyarakat. Di Ikawangi tidak ada perbedaan, semua disatukan oleh semangat persaudaraan,” tegas Suroso.
Suroso juga menyampaikan apresiasi kepada Pembina Ikawangi Sumsel, Hj. Anita Noeringhati, yang dinilai konsisten memberikan motivasi dan dukungan terhadap perkembangan organisasi.
Ia turut mengucapkan terima kasih kepada seluruh sponsor, pelaku UMKM, komunitas kuliner, serta seluruh anggota yang telah berkontribusi sehingga pengukuhan pengurus dan Harlah ke-6 Ikawangi Sumsel dapat berlangsung sukses.
Menurutnya, pertunjukan sendratari yang ditampilkan merupakan hasil kolaborasi para penari lokal dari berbagai daerah di Sumatera Selatan. Untuk menjaga keaslian gerakan tari yang sakral, Ikawangi menghadirkan koreografer langsung dari Banyuwangi.
“Kami ingin menghadirkan pertunjukan budaya yang berkualitas. Penarinya merupakan putra-putri daerah yang kami satukan dalam waktu singkat, sedangkan penata tari kami datangkan langsung dari Banyuwangi agar nilai budaya yang ditampilkan tetap otentik,” jelasnya.
Ke depan, Ikawangi Sumatera Selatan berkomitmen terus berpartisipasi dalam berbagai agenda budaya, termasuk kembali mengirimkan penari untuk mengikuti Festival Gandrung Sewu di Banyuwangi sebagai bentuk kontribusi nyata dalam melestarikan budaya daerah.
Melalui momentum Harlah ke-6 ini, Ikawangi Sumsel berharap dapat terus mempererat persaudaraan warga Banyuwangi di Sumatera Selatan sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam menjaga keberagaman budaya sebagai kekayaan bangsa. (Putra)



























