Bisnis

5.153 Pengelola KNMP Disiapkan, Nasib Pesisir Dipertaruhkan

×

5.153 Pengelola KNMP Disiapkan, Nasib Pesisir Dipertaruhkan

Sebarkan artikel ini
foto : kkp.go.id

BERITAPRESS.ID | Bangunan bisa selesai dalam hitungan bulan, cold storage bisa berdiri, pabrik es dapat beroperasi dan dermaga bisa diperbaiki. Namun, ada kalanya yang tak bisa dibangun dalam semalam, yaitu manusia yang mampu menghidupkan semuanya.

Kesadaran itulah yang kini menjadi fokus Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), di saat pembangunan fisik Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) terus berjalan di berbagai daerah, pemerintah justru lebih dulu menyiapkan orang-orang yang akan menentukan berhasil atau tidaknya program itu.

Sebanyak 5.153 calon pengelola KNMP mengikuti pelatihan manajerial selama hampir dua pekan, pada 17–29 Juli 2026. Mereka menjalani pembekalan secara serentak di 10 satuan pendidikan TNI yang tersebar di Jakarta, Bogor, Surabaya, dan Sidoarjo.

Jumlah itu bukan hanya angka saja, mereka merupakan generasi pertama yang akan mengelola kawasan Kampung Nelayan Merah Putih, program yang diproyeksikan menjadi wajah baru ekonomi pesisir Indonesia.

Selama ini, persoalan di kampung nelayan bukan hanya soal hasil tangkapan. Ketika ikan melimpah, harga sering kali jatuh, diberbagai daerah bahkan nelayan masih kesulitan memperoleh es, fasilitas penyimpanan dingin, hingga akses pemasaran yang lebih luas. Akibatnya, nilai ekonomi hasil laut belum mampu dinikmati secara maksimal oleh masyarakat pesisir.

Melalui KNMP, pemerintah mencoba mengubah pola itu,  kawasan nelayan dirancang menjadi pusat ekonomi terpadu yang dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, mulai dari pabrik es, cold storage, sentra kuliner hasil laut, bengkel kapal, hingga kios perbekalan. Tujuannya bukan sekadar mempercantik kawasan pesisir, melainkan menciptakan aktivitas ekonomi yang terus bergerak.

Namun, fasilitas modern tidak akan banyak berarti tanpa sumber daya manusia yang mampu mengelolanya secara profesional.

Oleh karena  itu, pelatihan ini menjadi langkah strategis. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP), I Nyoman Radiarta, menjelaskan pengelola KNMP akan menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi masyarakat pesisir.

Mereka dipersiapkan untuk bekerja bersama masyarakat, memastikan seluruh fasilitas berfungsi optimal, sekaligus mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi yang mampu membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Empat posisi penting telah disiapkan dalam setiap kawasan KNMP, yakni Manajer Operasional, Kepala Produksi, Penjamin Mutu, serta Administrasi Keuangan. Masing-masing memiliki peran berbeda, tetapi saling melengkapi agar roda usaha berjalan secara profesional dan berkelanjutan.

Selama pelatihan, peserta tidak hanya menerima materi manajemen. Mereka juga dibekali kompetensi teknis sesuai bidang masing-masing, kepemimpinan, penguatan kerja sama tim, hingga pendekatan sosial agar mampu mendampingi masyarakat ketika mulai bertugas di lapangan.

Untuk memastikan kualitas pembelajaran seragam di seluruh Indonesia, BPPSDM KP sebelumnya telah melatih 573 instruktur melalui program Training of Trainers dan Microteaching yang berlangsung di Makassar, Bandung, Surabaya, dan Bogor. Sebanyak 28 modul pelatihan disusun sebagai acuan sehingga setiap peserta memperoleh standar kompetensi yang sama.

Agen perubahan

Kepala Pusat Pelatihan KP, Joni Haryadi D., menjelaskan para pengelola KNMP nantinya tidak hanya bertanggung jawab menjalankan operasional kawasan. Mereka juga diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu memperkuat kelembagaan masyarakat serta menggerakkan ekonomi lokal.

Harapan itu bukan tanpa alasan, sebab Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang lebih dari 108 ribu kilometer, bahkan disebut-sebut salah satu yang terpanjang di dunia.

Potensi sumber daya kelautan dan perikanan sangat besar, tetapi masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan pascapanen, rantai distribusi, hingga peningkatan nilai tambah produk. Selain itu jutaan masyarakat Indonesia menggantungkan mata pencahariannya pada sektor kelautan dan perikanan.

Oleh sebab itu, keberhasilan KNMP tidak hanya diukur dari berdirinya bangunan baru, tetapi dari seberapa besar kawasan tersebut mampu menciptakan usaha, menyerap tenaga kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir.

Pelaksanaan pelatihan ini juga melibatkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari KKP, Kementerian Pertahanan, PT Agrinas Jaladri Nusantara, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya. Sinergi tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh pengelola memiliki kompetensi yang sama sebelum ditempatkan di berbagai daerah.

Untuk itu, tentu keberhasilan Kampung Nelayan Merah Putih tidak hanya bergantung pada infrastrukturnya, masa depan program ini justru berada di tangan ribuan orang yang hari ini masih duduk di ruang pelatihan.

Sebab, membangun kawasan pesisir mungkin bisa dilakukan dalam waktu singkat, tetapi untuk membangun kepercayaan masyarakat dan menggerakkan ekonomi lokal membutuhkan manusia yang siap bekerja, memimpin, dan bertahan menghadapi berbagai tantangan. Itulah peran besar yang kini sedang dipersiapkan melalui 5.153 pengelola KNMP. (***)