Bisnis

100 Ribu Sultan Muda Dikejar, Tapi Siapa yang Akan Membeli Produk Mereka?

×

100 Ribu Sultan Muda Dikejar, Tapi Siapa yang Akan Membeli Produk Mereka?

Sebarkan artikel ini
fotp : sumselpemprov.go.id

BERITAPRESS.ID, PALEMBANG | Program 100 Ribu Sultan Muda menjadi salah satu strategi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) guna melahirkan generasi muda  mandiri melalui dunia usaha.

Namun ambisi untuk mencetak ribuan wirausaha baru, bisa memunculkan tantangan yang tak kalah penting, yakni bagaimana memastikan produk yang dihasilkan memiliki pasar sehingga usaha  dibangun itu mampu bertahan dan berkembang.

Kesadaran itu  turut menjadi semangat dalam pelatihan kreativitas bertajuk Level Up Your Skill 2026: Pemuda Kreatif “Seni Membatik Era Baru”  digelar Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumsel bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sumsel di Hotel Salatin Palembang, Selasa (14/7/2026).

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari itu diikuti sekitar 100 peserta dari kabupaten dan kota se-Sumsel.

Ketua Dekranasda Sumsel, Hj. Feby Herman Deru, menegaskan pelatihan tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial ataupun ajang membagikan sertifikat.

Menurutnya, peserta yang mengikuti pelatihan harus benar-benar memiliki komitmen menjadi pelaku usaha batik, sehingga nantinya ilmu  diperoleh mampu berkembang menjadi usaha  berkelanjutan.

“Membatik itu butuh kesabaran, ketelitian, dan keindahan bahkan prosesnya juga tidak mudah, saya ingin peserta yang hadir  adalah mereka yang benar-benar mau menjadi pelaku usaha batik, menjadi ahli, sehingga ilmunya bisa diteruskan dan diajarkan lagi ke teman-teman di daerah asalnya,  setidaknya harus ada progres nyata,” tegas Feby.

Menurut Feby, kekuatan produk batik tidak hanya terletak pada motif yang indah, tetapi juga pada nilai budaya yang dikandungnya.

Oleh sebab itu generasi muda harus memahami filosofi setiap motif batik khas daerah agar mampu menghadirkan produk yang memiliki identitas dan nilai jual.

“Melalui ide dan kreativitas anak muda, kita ingin melahirkan generasi yang tangguh. Jangan pernah meremehkan suatu pekerjaan. Ketekunan dalam membangun usaha, baik itu membatik, menenun, maupun kuliner, pasti akan membuahkan hasil,” ujarnya.

Sementara Kepala Dispora Sumsel Dr. H. M. Alfajri Zabidi, S.Pd., M.M., M.Pd.I. mengatakan pelatihan membatik menjadi bagian dari upaya melestarikan kerajinan khas daerah sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat melalui pengembangan wirausaha muda.

Ia menjelaskan, sekitar 100 peserta yang mengikuti pelatihan merupakan perwakilan dari berbagai kabupaten dan kota di Sumsel, diharapkan mereka mampu menjadi agen agart dapat mengembangkan keterampilan membatik di daerah masing-masing.

“Produk-produk kerajinan Sumsel harus diangkat dan lestarikan, agar efeknya langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat.

Bahkan sambungnya kegiatan ini juga dirancang guna mendukung penuh program 100.000 Sultan Muda di Sumsel, yaitu mencetak wirausahawan muda yang kreatif dan mandiri.

Meski demikian, tantangan mencetak wirausaha tidak berhenti pada kemampuan memproduksi barang, keberhasilan program  juga ditentukan oleh kemampuan pelaku usaha dalam membaca kebutuhan pasar, membangun merek, memperluas pemasaran, hingga menciptakan produk yang mampu bersaing.

Tanpa itu, pelatihan berpotensi hanya melahirkan pengrajin baru tanpa pasar yang cukup untuk menopang keberlangsungan usahanya.

Melalui pelatihan ini, Pemprov Sumsel berharap lahir bukan hanya pengrajin batik yang terampil, tetapi juga wirausahawan muda yang mampu mengubah kekayaan budaya daerah menjadi produk bernilai ekonomi, sehingga target mencetak 100 Ribu Sultan Muda benar-benar berdampak bagi pertumbuhan ekonomi Sumsel. (***)