Tips Membangun Keluarga Tangguh di Era Digital: Tiga Kebiasaan agar Keluarga Tetap Harmonis
BERITAPRESS.ID | Membangun keluarga tangguh dan seutuhnya di era digital menjadi tantangan bagi segenap masyarakat, apalagi masalah yang dihadapi itu dikehidupan ini semakin nyata.
Saat gawai dan media sosial (medsos) perlahan mengambil alih waktu berkualitas bersama keluarga.
Sementara dibagian lainnya, fungsi teknologi memudahkan masyarakat untuk berkomunikasi dan membuka akses informasi tanpa batas.
Namun, saat penggunaannya tidak bijak justru akan mengurangi interaksi langsung, bahkan melemahkan kedekatan emosional, hingga lebih prihatin lagi bisa mengikis keharmonisan di dalam rumah tangga.
Fenomena itu sebenarnya menjadi perhatian dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33.
Momen tahunan ini setidaknya dapat kembali mengingatkan semua masyarakat, keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi yang sehat, berkarakter, produktif, dan siap menghadapi tantangan masa depan, termasuk di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Berkaitan dengan itu, Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengajak seluruh keluarga memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa mengorbankan komunikasi dan kedekatan antar anggota keluarga.
“Perkembangan teknologi membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan. Jangan sampai anggota keluarga lebih banyak berinteraksi dengan layar gawai daripada saling berkomunikasi dan membangun kedekatan emosional di rumah,” ujarnya saat memimpin Upacara Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Halaman Sekretariat Daerah (Setda) Kota Palembang, Senin (29/6/2026).
Keluarga yang tangguh sambung Dewa, bukan berarti menolak perkembangan teknologi. Malah sebaliknya, keluarga harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar, bekerja, dan berkomunikasi, tanpa membiarkannya menggantikan peran interaksi langsung yang menjadi perekat hubungan antaranggota keluarga.
Tiga Kebiasaan Agar Keluarga Tetap Harmonis
Membangun keluarga yang harmonis tidak selalu membutuhkan cara yang rumit. Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan setiap hari agar hubungan dalam keluarga tetap hangat meski hidup di era digital.
- Batasi penggunaan gawai pada waktu tertentu
Makan bersama, berkumpul di ruang keluarga, atau menjelang waktu tidur dapat dijadikan momen bebas gawai. Kebiasaan sederhana ini memberi ruang bagi setiap anggota keluarga untuk saling berbagi cerita dan mendengarkan satu sama lain.
- Bangun komunikasi yang hangat setiap hari
Luangkan waktu untuk berbincang tanpa gangguan perangkat digital. Percakapan sederhana mengenai aktivitas sehari-hari mampu memperkuat ikatan emosional sekaligus membangun rasa percaya di antara anggota keluarga.
- Ciptakan kebersamaan melalui aktivitas bersama
Tidak harus liburan mahal. Memasak, berolahraga, membersihkan rumah, membaca buku, atau berjalan santai bersama sudah cukup menjadi quality time yang mempererat hubungan keluarga.
Ayah Hadir Bukan Cuma Ada di Rumah
Peringatan Harganas tahun ini mengusung tema “Ayah Wajib Hadir”. Menurut Wali Kota, makna kehadiran ayah tidak hanya diukur dari keberadaan secara fisik atau perannya sebagai pencari nafkah, tetapi juga dari keterlibatan emosional dalam proses tumbuh kembang anak.
Kehadiran tersebut diwujudkan melalui komunikasi yang membangun kepercayaan, keteladanan yang menanamkan nilai integritas, serta perhatian yang konsisten sehingga anak tumbuh dengan rasa aman, dicintai, dan dihargai.
Ia menjelaskan, semangat “Ayah Wajib Hadir” juga tidak terbatas pada ayah kandung. Peran tersebut dapat dijalankan oleh figur laki-laki lain dalam keluarga, seperti kakek, paman, kakak laki-laki, ayah sambung, maupun wali atau mentor yang mendampingi anak dalam kehidupannya.
Keluarga Menjadi Pondasi Indonesia Emas 2045
Di tengah derasnya arus digitalisasi, keluarga tetap menjadi sekolah pertama bagi setiap anak. Nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, hingga kemampuan berkomunikasi dibentuk pertama kali di lingkungan keluarga sebelum anak mengenal dunia luar.
Oleh sebab itu, momen Hari Keluarga Nasional bukan hanya seremoni tahunan semata, melainkan sebagai pengingat kualitas sebuah bangsa berawal dari kualitas keluarga.
Artinya, semakin kuat komunikasi, perhatian, dan kebersamaan di dalam rumah, semakin besar pula peluang lahirnya generasi yang sehat, produktif, berkarakter, dan mampu bersaing di masa depan.
“Keluarga yang kuat akan melahirkan generasi yang sehat, produktif, berkarakter, dan saling peduli. Dari keluarga yang berkualitas inilah cita-cita Indonesia Emas 2045 dapat diwujudkan,” tutup Wali Kota. (***)/one















