BERITAPRESS.ID, DEPOK | Peneliti Indonesia masih bergantung pada laboratorium riset di luar negeri untuk melakukan berbagai penelitian berteknologi tinggi yang belum sepenuhnya dapat difasilitasi di dalam negeri. Mulai dari riset material maju, energi, kesehatan, hingga nanoteknologi membutuhkan instrumen canggih seperti synchrotron radiation, neutron scattering, dan muon spectroscopy, yang sebagian besar hanya tersedia di pusat-pusat riset internasional.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Lembaga ini mendorong semakin banyak ilmuwan Indonesia memanfaatkan fasilitas riset global sebagai langkah mempercepat peningkatan kualitas penelitian sekaligus memperkuat daya saing sumber daya manusia di bidang sains dan teknologi.
Upaya itu diwujudkan melalui dukungan terhadap penyelenggaraan Indonesia Large Facilities User Meeting (ILUM) 2026 yang berlangsung pada 29–30 Juni 2026 di Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Forum nasional pertama ini mempertemukan peneliti, mahasiswa, pengguna fasilitas riset, pengelola infrastruktur penelitian, hingga mitra internasional untuk membahas akses dan pemanfaatan fasilitas riset skala besar.
Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, Ratno Nuryadi, mengatakan kemajuan penelitian saat ini sangat ditentukan oleh kemampuan peneliti mengakses infrastruktur penelitian berkelas dunia.
“Kemajuan riset material, nanoteknologi, energi, maupun bidang strategis lainnya saat ini sangat bergantung pada pemanfaatan fasilitas riset skala besar. Karena itu, BRIN mendukung penyelenggaraan ILUM 2026 sebagai wadah untuk memperkuat kapasitas peneliti Indonesia, memperluas jejaring kolaborasi, dan meningkatkan pemanfaatan infrastruktur riset global bagi kemajuan sains nasional,” ujar Ratno dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/6).
Menurut Ratno, forum seperti ILUM memiliki peran strategis karena mempertemukan peneliti, mahasiswa, pengelola fasilitas riset, serta mitra internasional dalam satu ekosistem kolaborasi.
Ia berharap semakin banyak peneliti muda Indonesia memanfaatkan fasilitas neutron, synchrotron, muon, dan berbagai infrastruktur riset maju lainnya sehingga kualitas penelitian nasional meningkat dan mampu memberikan kontribusi nyata dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan.
Ketua Indonesian Community for Large Scale Research Facilities (IC-LARFA), Indri Badria Adilina, mengatakan fasilitas riset skala besar membuka peluang bagi ilmuwan Indonesia melakukan eksperimen tingkat lanjut yang sulit dilakukan menggunakan laboratorium konvensional.
“Fasilitas riset skala besar memberikan peluang bagi peneliti Indonesia untuk melakukan karakterisasi material dan eksperimen tingkat lanjut yang sangat diperlukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi. Melalui ILUM 2026, kami ingin memperkuat ekosistem riset dan inovasi pengguna fasilitas tersebut sekaligus menyiapkan generasi peneliti Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional,” kata Indri.
ILUM 2026 diselenggarakan oleh Indonesian Community for Large Scale Research Facilities (IC-LARFA), Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, serta Advanced Materials Research Center Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Kegiatan ini juga melibatkan sejumlah mitra internasional, antara lain Synchrotron Light Research Institute (SLRI), ISIS Neutron and Muon Source Inggris, serta Asia-Oceania Neutron Scattering Association (AONSA).
Selama dua hari, forum tersebut menghadirkan pakar nasional dan internasional untuk membahas pengembangan ekosistem riset berbasis fasilitas besar, pemanfaatan neutron dan synchrotron untuk karakterisasi material, perkembangan sains berbasis akselerator, pemanfaatan reaktor riset Indonesia, hingga peluang kolaborasi internasional bagi peneliti muda.
Selain sesi ilmiah, peserta juga akan mengikuti diskusi pengguna, presentasi poster penelitian, serta kegiatan jejaring kolaborasi yang membuka kesempatan bagi mahasiswa dan peneliti muda bertukar pengalaman dengan para pengguna fasilitas riset internasional.
Bagi BRIN, pemanfaatan laboratorium riset global bukan sekadar solusi atas keterbatasan fasilitas dalam negeri. Langkah tersebut juga menjadi strategi untuk mempercepat lahirnya talenta sains Indonesia yang mampu menghasilkan riset berstandar internasional sekaligus meningkatkan daya saing bangsa di tengah persaingan teknologi global. (***)



























