Teknologi

Jutaan Gamer Indonesia, Mengapa Game Lokal Masih Tertinggal?

×

Jutaan Gamer Indonesia, Mengapa Game Lokal Masih Tertinggal?

Sebarkan artikel ini
foto : ekraf.go.id

BERITAPRESS.ID, JAKARTA | Indonesia dikenal sebagai salah satu pasar gim terbesar di Asia Tenggara. Jutaan masyarakat menghabiskan waktu bermain gim melalui ponsel maupun komputer setiap hari. Namun, besarnya jumlah pemain belum sepenuhnya berbanding lurus dengan banyaknya gim buatan dalam negeri yang mampu bersaing di pasar internasional.

Kondisi tersebut membuat nilai ekonomi industri gim masih didominasi produk dari luar negeri. Di tengah tingginya konsumsi gim digital, pengembang lokal masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, akses promosi, peluang bertemu investor, hingga jalan masuk ke pasar global.

Melihat kondisi itu, Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) mulai memperkuat ekosistem game lokal melalui kerja sama dengan Coda Indonesia. Kolaborasi ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas talenta digital, mendukung program inkubasi dan akselerasi, membuka forum business to business (B2B), mempromosikan karya anak bangsa, hingga memperluas akses pasar internasional.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu kekuatan baru dalam industri gim dunia. Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya dikenal sebagai negara dengan jumlah pemain yang besar, tetapi juga sebagai tempat lahirnya karya-karya kreatif yang mampu bersaing secara global.

“Indonesia bukan hanya pasar. Indonesia adalah tempat di mana permainan hebat dibangun dengan pemain esports yang hebat,” kata Irene saat menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Ekraf dan Coda Indonesia di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Nota kesepahaman tersebut ditandatangani Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekraf Muhammad Neil El Himam bersama Chief Executive Officer Coda Shane Happach. Kerja sama mencakup pengembangan sumber daya manusia, promosi produk digital Indonesia, perlindungan kekayaan intelektual, pertukaran wawasan industri, hingga pemanfaatan fasilitas secara kolaboratif.

Shane Happach menilai Indonesia memiliki kreativitas dan jumlah pemain yang besar sehingga peluang untuk melahirkan lebih banyak pengembang gim berkualitas masih terbuka lebar. Karena itu, Coda berkomitmen membantu studio lokal menjangkau pasar yang lebih luas melalui berbagai program yang dijalankan bersama pemerintah.

Kolaborasi ini menjadi salah satu langkah untuk memperkuat fondasi industri gim nasional. Harapannya, Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pasar yang menguntungkan bagi produk luar, tetapi juga mampu melahirkan lebih banyak gim lokal yang memiliki daya saing dan diterima di pasar internasional. (***)/one/ekraf