Bisnis

Menata Ulang Layanan Haji dan Umrah

×

Menata Ulang Layanan Haji dan Umrah

Sebarkan artikel ini
foto : haji.go.id

BERITAPRESS.ID, JAKARTA |Setiap tahun, jutaan orang berangkat dengan satu tujuan yang sama: tanah suci. Namun di balik perjalanan yang tampak sederhana itu, ada sistem besar yang bekerja tanpa henti guna mengatur manusia dalam jumlah besar, waktu yang ketat, dan kebutuhan yang berlapis.

Hal ini sebenarnya sering muncul, karena bukan pada niat ibadahnya, tetapi pada bagaimana sistem pelayanan mengikutinya, oleh sebab itu ketika sistem tidak tertata, yang terasa oleh jemaah bukan hanya perjalanan, tetapi juga kerumitan.

Di tengah pembahasan penguatan layanan haji dan umrah, arah pembenahan kembali ditegaskan dalam forum di Jakarta International Convention Center (JICC).

Menteri Haji dan Umrah Moch. Irfan Yusuf memaparkan perubahan tidak boleh berhenti pada kebijakan atau pembentukan lembaga semata.

Menurutnya, transformasi harus benar-benar masuk ke sistem: mulai dari data, regulasi, standar layanan, hingga pengawasan. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan pada seberapa besar kebijakan dibuat, tetapi seberapa mudah jemaah menjalani ibadahnya.

Haji, Perjalanan Spiritual dengan Sistem Skala Besar

Haji sering dilihat sebagai perjalanan spiritual yang sederhana: berangkat, beribadah, lalu pulang. Namun di balik itu, ada sistem yang bekerja seperti jaringan besar yang mengatur jutaan orang secara bersamaan.

Ketika sistem masih terpisah-pisah, dampaknya terasa langsung: antrean panjang, informasi tidak seragam, hingga layanan yang tidak konsisten.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar perbaikan kecil, tetapi penataan ulang sistem agar seluruh proses berjalan lebih terhubung dan efisien.

Tiga Fokus Besar Pembenahan

Transformasi layanan haji dan umrah diarahkan pada tiga fokus utama.

Pertama, sukses ritual.
Ibadah harus tetap berjalan sesuai syariat, tertib, dan sah.

Kedua, sukses ekosistem ekonomi haji.
Di balik penyelenggaraan haji terdapat rantai ekonomi besar transportasi, akomodasi, konsumsi, dan layanan pendukung yang jika dikelola baik bisa memberi manfaat luas.

Ketiga, sukses keadaban dan peradaban.
Haji tidak hanya perjalanan fisik, tetapi juga proses pembentukan karakter, disiplin, sabar, dan lebih peduli setelah kembali ke masyarakat.

Belajar dari 203 Ribu Jemaah

Penyelenggaraan Haji 1447 H/2026 M yang melayani 203.149 jemaah dalam 527 kloter menjadi bahan evaluasi penting.

Skala sebesar ini menunjukkan satu hal, sistem lama yang berjalan terpisah tidak lagi cukup untuk menjawab kebutuhan layanan modern.

Karena itu, integrasi data menjadi kunci utama. Dengan sistem yang saling terhubung, layanan bisa lebih cepat, keputusan lebih akurat, dan potensi masalah bisa ditekan sejak awal.

Perubahan yang Tidak Selalu Terlihat

Ke depan, sejumlah langkah mulai diperkuat percepatan visa melalui integrasi data, digitalisasi layanan, standarisasi asrama haji, serta pengawasan ketat terhadap penyelenggara.

Perhatian juga diberikan pada jemaah lansia, penyandang disabilitas, dan jemaah risiko tinggi agar layanan tetap inklusif dan aman.

Perubahan ini mungkin tidak selalu terlihat secara kasat mata. Tidak ada seremoni besar, tidak ada sorotan dramatis. Namun justru di situlah letak dampaknya dirasakan langsung oleh jemaah dalam bentuk layanan yang lebih mudah, lebih jelas, dan lebih tertata.

IIE 2026 sebagai Ruang Kolaborasi

International Islamic Expo (IIE) 2026 yang digelar pada 26-28 Juni 2026 menjadi ruang pertemuan berbagai pihak dalam ekosistem haji dan umrah.

Lebih dari 100 peserta pameran, sekitar 3.000 buyer, serta delegasi dari 16 negara hadir untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor.

Di forum ini, pemerintah, pelaku industri, dan mitra internasional bertemu untuk menyamakan arah, membangun layanan haji dan umrah yang lebih transparan, efisien, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, menata ulang layanan haji dan umrah bukan sekadar soal kebijakan atau struktur baru. Ini adalah upaya panjang untuk memastikan satu hal sederhana, ibadah jutaan orang setiap tahun bisa berjalan lebih tenang, lebih tertib, dan lebih manusiawi.

Karena ukuran keberhasilan bukan hanya jumlah yang berangkat, tetapi kualitas layanan yang mereka rasakan dari awal perjalanan hingga kembali ke tanah air. (****)