Opini

Pengelolaan Limbah Terpadu Medan, Suara Limbah untuk ASEAN

×

Pengelolaan Limbah Terpadu Medan, Suara Limbah untuk ASEAN

Sebarkan artikel ini
foto : kemenlh.go.id

BERITAPRESS | “Saya limbah. Mungkin nama saya tidak pernah disebut dalam pidato-pidato besar tentang kemajuan. Orang lebih suka membicarakan pabrik baru, investasi triliunan rupiah, atau kawasan industri yang terus berkembang. Sementara saya, sering dianggap sebagai bagian yang mengganggu, sesuatu yang harus segera disingkirkan dan dilupakan. Padahal, diam-diam saya menyimpan satu rahasia sederhana cara manusia memperlakukan saya sering kali menentukan masa depan lingkungannya sendiri.”

Kalau limbah bisa berbicara, mungkin itulah kalimat pertama yang akan ia sampaikan kepada para delegasi Indonesia, Malaysia, dan Thailand yang berkunjung ke fasilitas PT Sumatera Deli Lestari Indah (PT SDLI) di Medan.

Di tempat ini, pengelolaan limbah terpadu bukan hanya menjadi kegiatan operasional sehari-hari, tetapi telah berubah menjadi sebuah pelajaran tentang bagaimana pembangunan dan lingkungan dapat berjalan berdampingan.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari Pertemuan ke-6 Working Group on Environment (WGE) Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT). Sekilas mungkin terlihat seperti agenda rutin antarpemerintah. Namun sesungguhnya ada pesan yang jauh lebih besar. Di tengah pertumbuhan industri yang terus melaju, negara-negara di kawasan mulai menyadari bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari seberapa cepat ekonomi tumbuh, tetapi juga dari bagaimana dampaknya dikelola.

Saya limbah, saya lahir dari aktivitas manusia yang semakin sibuk. Dari rumah sakit, pabrik, kawasan industri, hingga pusat-pusat ekonomi yang terus bergerak siang dan malam. Jumlah saya terus bertambah setiap tahun. Jika dibiarkan, saya bisa menjadi ancaman. Namun jika dikelola dengan baik, saya justru menjadi bukti bahwa sebuah bangsa mampu bertanggung jawab atas jejak pembangunan yang ditinggalkannya.

Di Medan, tanggung jawab itu tidak berhenti pada slogan. Selama delapan tahun beroperasi sejak 2018, fasilitas pengelolaan limbah terpadu yang dikelola PT SDLI terus berkembang. Volume limbah yang ditangani meningkat hingga lebih dari 8.700 ton pada 2025 dengan ratusan pelanggan aktif dari Sumatera Utara dan Aceh. Angka tersebut bukan sekadar statistik. Ia adalah cerminan tumbuhnya kepercayaan bahwa urusan lingkungan dapat dikelola secara profesional, terukur, dan berkelanjutan.

Yang menarik, model yang dibangun tidak hanya berbicara tentang mengolah limbah. Ada visi yang lebih besar di baliknya. Pengelolaan limbah medis, limbah industri, kemitraan dengan kawasan ekonomi khusus, hingga rencana ekspansi ke wilayah lain menunjukkan bahwa sektor lingkungan tidak lagi berada di pinggir pembangunan. Ia mulai menempati posisi penting sebagai bagian dari ekosistem ekonomi modern.

Saya limbah. Selama ini saya sering dipandang sebagai biaya. Padahal ketika pengelolaan dilakukan dengan benar, saya bisa menjadi investasi. Saya bisa menciptakan lapangan kerja, meningkatkan standar lingkungan, memberi kepastian bagi investor, dan menjaga kualitas hidup masyarakat. Masalahnya bukan pada keberadaan saya, melainkan pada bagaimana manusia memilih untuk mengelola saya.

Karena itulah kunjungan delegasi IMT-GT ke Medan menjadi menarik. Mereka tidak datang untuk melihat teori yang tertulis di atas kertas. Mereka datang melihat praktik nyata yang telah berjalan. Indonesia sedang menunjukkan bahwa pengelolaan limbah terpadu dapat tumbuh sebagai model bisnis yang sehat sekaligus solusi lingkungan yang efektif.

Dalam konteks yang lebih luas, tantangan lingkungan memang tidak mengenal batas negara. Asap tidak berhenti di pos perbatasan. Pencemaran tidak memerlukan paspor untuk berpindah wilayah. Karena itu, kerja sama Indonesia, Malaysia, dan Thailand dalam isu lingkungan menjadi langkah yang sangat relevan. Ketika persoalan bersifat regional, maka jawabannya juga harus dibangun secara regional.

Dari Medan, Indonesia sedang menawarkan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar fasilitas pengolahan limbah. Indonesia menawarkan pengalaman. Bahwa pengelolaan lingkungan yang baik bukan musuh pertumbuhan ekonomi. Keduanya justru dapat saling menguatkan jika dibangun dengan visi yang sama.

Pada akhirnya, saya limbah ingin menyampaikan satu hal. Jangan nilai kemajuan hanya dari apa yang berhasil dibangun manusia. Nilailah juga dari bagaimana manusia mengelola sisa-sisa pembangunan itu. Sebab peradaban yang hebat bukanlah yang menghasilkan paling banyak, melainkan yang paling bertanggung jawab terhadap apa yang dihasilkannya.

Dan dari Medan hari ini, pengelolaan limbah terpadu sedang mengajarkan pelajaran penting kepada ASEAN bahwa masa depan yang bersih tidak lahir dari menghindari limbah, melainkan dari keberanian mengelolanya dengan bijak. (***) /one