Kesehatan

Wamenkes: Vape dan Rokok, Dua-duanya Merusak Paru

×

Wamenkes: Vape dan Rokok, Dua-duanya Merusak Paru

Sebarkan artikel ini
foto : kemkes

Vape dan rokok sama-sama mengandung zat berbahaya yang dapat menurunkan fungsi paru. Remaja diminta lebih waspada sejak dini sebelum terjebak kecanduan nikotin.

BERITAPRESS.ID, JAKARTA | Bagi kalangan remaja yang masih menganggap vape sebagai pilihan yang lebih aman dibanding rokok, bentuknya modern, baunya lebih ringan, dan kesannya tidak seberbahaya rokok konvensional. Padahal, anggapan itu justru menjadi pintu masuk yang berbahaya.

Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin P. Octavianus menegaskan, baik rokok maupun vape sama-sama berdampak buruk pada paru-paru. Tidak ada versi aman ketika tubuh sudah terpapar nikotin dan zat kimia di dalamnya.

“Kerusakannya sama dengan merokok, enggak ada bedanya. Dampaknya terhadap kerusakan paru maka fungsi paru kita pasti akan menurun,” ujarnya mengutip laman resmi rilis di kemkes.

Pasalnya, kebiasaan itu jarang dimulai dari sesuatu yang besar. Banyak perokok justru pertama kali mencoba saat usia masih sangat muda, sekitar 14 tahun – usia SMP, ketika rasa ingin tahu sering lebih besar daripada kesadaran risiko.

Paru-paru sendiri bekerja seperti mesin utama tubuh,  tidak hanya mengatur napas, tetapi juga memastikan oksigen mengalir ke seluruh tubuh. Ketika organ ini terganggu, dampaknya tidak langsung terasa, justru itu yang membuat banyak orang meremehkannya.

Kerusakan datang perlahan, diam-diam, tanpa alarm di awal, pada bagian itu kebiasaan merokok sering sudah terlanjur menjadi bagian dari rutinitas.

Tantangan terbesar memang bukan hanya  mencegah seseorang mulai merokok, tetapi membantu mereka yang sudah terlanjur kecanduan nikotin. Banyak yang sebenarnya ingin berhenti, tapi kembali lagi karena dorongan tubuh dan kebiasaan yang sudah terbentuk lama, di situlah BPOM menilai tidak ada satu cara tunggal untuk menyelesaikan masalah ini.

Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, William Adi Teja, menerangkan pendekatan pengendalian rokok harus berlapis, tidak bisa berdiri sendiri.

“Untuk menghentikan rokok itu sangat banyak caranya. Salah satunya ada produk pengganti. Tentunya ada juga kawasan bebas rokok, kemudian juga adanya edukasi,” ujarnya.

Artinya, jalan keluar dari kecanduan rokok tidak cukup hanya dengan imbauan, perlu kombinasi, antara lain edukasi yang kuat, lingkungan yang tidak mendukung rokok, sampai bantuan berbasis ilmiah seperti terapi pengganti nikotin bagi mereka yang benar-benar ingin berhenti.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Arief Riadi Arifin, menambahkan pencegahan tetap menjadi kunci utama, karena semakin lama seseorang merokok, semakin sulit pula proses berhentinya.

“Kalau sudah merokok, sudah adiksi puluhan tahun, untuk stop itu tidak mudah,” katanya.

Lantas, apa yang bisa dilakukan agar terhindar dari kebiasaan merokok?

Pertama, jangan mudah tergoda ajakan teman untuk sekadar mencoba, banyak perokok aktif berawal dari rasa penasaran yang dianggap hanya sekali coba.

Kedua, isi waktu luang dengan aktivitas positif seperti olahraga, organisasi, atau kegiatan kreatif. Kesibukan yang sehat dapat mengurangi risiko terpapar lingkungan perokok.

Ketiga, pahami dampak nikotin terhadap tubuh. Semakin banyak seseorang mengetahui risiko kesehatan yang ditimbulkan, semakin besar peluang untuk menolak rokok maupun vape.

Keempat, bagi yang sudah merokok dan ingin berhenti, jangan ragu mencari dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, atau komunitas pendamping berhenti merokok.

Intinya kebiasaan kecil di usia muda bisa menentukan kualitas hidup di masa depan bahkan keputusan paling penting sering kali dimulai dari satu hal yang sederhana, yaitu berani bilang tidak sejak awal. (***)/one