Scroll untuk baca artikel
FakfakPapua

Jaga Pala, Jaga Martabat Negeri: Pesan Kepala Kampung Sipatnanam Saat Sasi Kerakera Dibuka

×

Jaga Pala, Jaga Martabat Negeri: Pesan Kepala Kampung Sipatnanam Saat Sasi Kerakera Dibuka

Sebarkan artikel ini

BERITAPRESS. ID, FAKFAK|Pembukaan Sasi Kerakera di Kampung Sipatnanam, Kabupaten Fakfak, menjadi momentum penting untuk kembali memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga warisan adat, kualitas pala, serta jati diri masyarakat Fakfak.

Kepala Kampung Sipatnanam, Yanuarius Tuturup, menegaskan bahwa Sasi Kerakera bukan sekadar penanda dimulainya aktivitas pemetikan pala. Tradisi tersebut merupakan bentuk kesadaran bersama dalam menjaga warisan leluhur yang telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Menurut Yanuarius, menjaga mutu dan kualitas pala bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat, terutama anak-anak negeri sebagai generasi penerus budaya dan kekayaan alam yang diwariskan para leluhur, (28/8/2026).

“Pesan saya kepada kita semua, mari sama-sama menjaga apa yang telah dititipkan kepada kita. Ini bukan hanya soal pala, tetapi menyangkut harga diri dan martabat negeri ini. Kita harus menjaga tradisi dan prosesi adat yang telah diwariskan kepada kita,” tegas Yanuarius.

Ia mengatakan, masyarakat perlu membangun kembali kesadaran bahwa pala merupakan bagian dari identitas dan jati diri masyarakat Fakfak. Karena itu, Sasi Kerakera tidak seharusnya hanya dipandang sebagai aturan mengenai waktu pemanenan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, adat, dan warisan leluhur.

Yanuarius menilai, menjaga pohon pala pada hakikatnya sama dengan menjaga kehidupan dan masa depan keluarga. Tanaman pala telah memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat secara turun-temurun.

Karena itu, tokoh adat, pemerintah kampung, masyarakat, serta keluarga pemilik kebun perlu membangun kembali kebiasaan baik dalam merawat dan menjaga tanaman pala.

“Kalau kita menghargai pala, berarti kita menghargai jati diri dan budaya kita. Karena itu, kebiasaan-kebiasaan baik dalam merawat dan menjaga pohon pala harus kita hidupkan kembali,” ujarnya.

Yanuarius juga mendorong agar ke depan dapat digelar kegiatan adat yang secara khusus memberikan penghormatan terhadap pohon pala sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat melibatkan keluarga dan anak-anak, sehingga generasi muda sejak dini memahami bahwa pala bukan sekadar tanaman komoditas penghasil pendapatan, tetapi juga bagian dari sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Fakfak.

“Anak-anak harus tahu kenapa kita punya pala ini terus dijaga. Karena pala itu menyangkut citra dan jati diri anak negeri serta budaya kita,” katanya.

Dalam momentum pembukaan Sasi Kerakera, Yanuarius turut mengapresiasi perhatian terhadap mutu pala serta terbukanya peluang pemasaran melalui pembeli lokal.

Ia menyebut, harga pala tua yang memenuhi standar dan mencapai sekitar Rp600 ribu per 1.000 biji dapat memberikan peluang ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi tersebut juga dinilai dapat mendorong persaingan sehat dalam pembelian pala.

Namun, menurutnya, harga yang baik harus berjalan beriringan dengan kualitas.

Masyarakat diminta memastikan pala yang dipanen benar-benar tua atau matang serta ditangani dengan baik agar mutu Pala Fakfak tetap terjaga.

“Yang kita butuhkan sekarang adalah kualitas pala yang baik. Kalau kita menjaga mutu pala, maka kita juga menjaga nilai dan harga dari hasil yang kita miliki,” jelasnya.

Menurut Yanuarius, kehadiran pembeli lokal maupun persaingan antarpembeli harus menjadi peluang bagi masyarakat untuk memperoleh harga yang lebih baik, bukan menjadi alasan untuk mengabaikan kualitas hasil pala.

Yanuarius menegaskan, pengembangan komoditas pala di Fakfak tidak dapat dipisahkan dari adat dan budaya masyarakat.

Keberadaan Sasi Kerakera menunjukkan bahwa masyarakat sejak dahulu telah memiliki mekanisme adat dalam mengatur pemanfaatan sumber daya alam. Nilai-nilai tersebut, kata dia, perlu terus diperkuat di tengah perkembangan ekonomi dan perubahan pola kehidupan masyarakat.

“Adat dan budaya harus menjadi landasan dalam pengembangan pala. Kita harus menjaga apa yang sudah diwariskan kepada kita dan menjadikannya dasar untuk memperbaiki kehidupan masyarakat,” ungkapnya.

Ia berharap tokoh adat dan pemerintah dapat terus berkoordinasi untuk menghidupkan kembali berbagai prosesi yang dapat menumbuhkan penghormatan masyarakat terhadap pohon pala.

Bagi Yanuarius, penghormatan tersebut bukan sekadar seremoni. Kegiatan adat harus menjadi sarana menanamkan kesadaran kepada keluarga dan generasi muda bahwa pohon pala telah memberikan kehidupan kepada masyarakat secara turun-temurun.

“Kalau kita bisa membuat satu acara khusus untuk pohon pala, memberikan penghormatan, merawatnya, mengucap syukur dan berdoa atas hasil yang diberikan, itu akan menjadi pengalaman yang baik bagi anak-anak kita,” tuturnya.

Yanuarius berharap pembukaan Sasi Kerakera di Kampung Sipatnanam menjadi momentum untuk memperkuat kembali komitmen bersama dalam menjaga Pala Fakfak.

Ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya keluarga pemilik kebun, tidak hanya mengejar hasil panen, tetapi juga memperhatikan kematangan buah, cara pemetikan, penanganan hasil, hingga pemeliharaan tanaman.

Menurutnya, keberlanjutan komoditas pala tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi sangat bergantung pada kesadaran masyarakat sebagai pemilik sekaligus pewaris kekayaan tersebut.

“Pesan saya untuk kita semua, mari sama-sama menjaga apa yang sudah dititipkan kepada kita. Karena yang kita jaga ini bukan hanya hasil pala, tetapi harga diri, martabat dan jati diri negeri kita,” pungkasnya.

Ia mengajak tokoh adat, pemerintah kampung, dan seluruh masyarakat menjadikan Sasi Kerakera sebagai bagian dari gerakan bersama untuk membangun kembali budaya menjaga pala.

Dengan demikian, pembukaan Sasi Kerakera bukan sekadar tanda dimulainya musim petik, tetapi menjadi pengingat bahwa menjaga pala berarti menjaga adat, budaya, ekonomi keluarga, sekaligus harga diri dan masa depan negeri Fakfak. (IB).