Entertainment

Film Foufo Buktikan Cerita Madura Layak Ditonton

×

Film Foufo Buktikan Cerita Madura Layak Ditonton

Sebarkan artikel ini
foto : ekraf.go.id

BERITAPRESS.ID, JAKARTA | Film Foufo menjadi bukti cerita dari daerah mampu bersaing di industri perfilman Indonesia. Lewat karya terbarunya, Bayu Skak mengangkat budaya dan bahasa Madura ke layar lebar nasional, sekaligus menunjukkan  kisah lokal punya daya tarik kuat untuk dinikmati semua penonton dari berbagai latar belakang. Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 9 Juli 2026.

Di tengah dominasi film yang banyak mengangkat kehidupan perkotaan, Film Foufo hadir menawarkan warna berbeda. Madura tidak hanya dijadikan latar cerita, tetapi juga menjadi identitas utama yang membentuk karakter, bahasa, hingga nilai-nilai yang diangkat sepanjang film.

Keberanian tersebut menjadi salah satu alasan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) memberikan dukungan terhadap proses pengembangan film sejak tahap awal.

Dukungan itu mencakup penguatan kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP), membuka peluang kolaborasi lintas sektor, hingga membantu memperluas promosi agar film lebih dikenal masyarakat.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan kisah yang berasal dari daerah memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi karya kreatif yang bernilai ekonomi sekaligus memperkaya industri perfilman nasional.

Menurutnya, komitmen Bayu Skak bersama SKAK Studios dan SinemArt membuktikan  budaya lokal mampu diolah menjadi tontonan yang menarik tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi identitasnya.

Hal menarik lainnya, Film Foufo hampir sepenuhnya digerakkan oleh talenta daerah,  sekitar 90 persen pemain yang terlibat merupakan talenta lokal, bahkan sebagian besar adalah wajah baru di industri perfilman.

Langkah ini menjadi ruang pembuktian potensi dari daerah tidak kalah dengan para pelaku industri yang sudah lebih dahulu dikenal di tingkat nasional.

Bukan itu saja sebenarany, proses produksi juga melibatkan sekitar 120 animator dari Hompimpa Animworks Surabaya yang berperan dalam pengembangan karakter Foufo. Kolaborasi tersebut menjadikan  industri kreatif di berbagai daerah memiliki kemampuan untuk menghasilkan karya berkualitas yang mampu bersaing di tingkat nasional.

Bagi Bayu Skak, Film Foufo bukan hanya proyek layar lebar, Ia ingin membangun kebanggaan terhadap budaya daerah sekaligus membuka jalan agar semakin banyak sineas berani mengangkat cerita yang lahir dari kampung halaman mereka.

“Visi Kementerian Ekraf membangun ekonomi kreatif dari daerah sangat selaras dengan apa yang kami lakukan melalui Foufo. Kami ingin membuktikan  talenta  daerah juga memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan berkembang di industri perfilman Indonesia,” ujar Bayu.

Bahkan bukan hanya film saja, Foufo juga dipersiapkan sebagai Intellectual Property (IP) yang memiliki peluang berkembang ke berbagai produk kreatif. Pengembangan merchandise dan berbagai aktivitas kreatif menjadi bagian dari strategi agar karakter Foufo tetap hidup dan dikenal masyarakat setelah filmnya tayang.

Pendekatan tersebut memperlihatkan sebuah karya film tidak lagi berhenti sebagai hiburan, melainkan dapat menjadi penggerak ekonomi kreatif melalui pengembangan karakter, produk turunan, hingga kolaborasi dengan berbagai sektor industri.

Oleh sebab itu, kehadiran Film Foufo menjadi angin segar bagi perfilman Indonesia, sebab disaat budaya lokal, bahasa daerah, dan talenta dari berbagai wilayah diberi ruang yang lebih besar, maka, lahirlah karya yang bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga mengangkat identitas Indonesia di layar lebar. Jika mendapat sambutan positif dari penonton, Foufo bisa menjadi bukti cerita dari daerah memang layak berdiri sejajar dengan film-film berskala nasional. (***)