BERITAPERSS.ID, OKU Selatan — Dari sembilan ruang kelas pada 2011, SMA Negeri 1 Buay Pemaca kini telah memiliki 18 ruang kelas. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari proses panjang pembenahan sekolah di bawah kepemimpinan Kepala SMA Negeri 1 Buay Pemaca, Azharudin, S.Pd., M.M
Pertumbuhan fasilitas tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan ruang belajar, tetapi juga dibarengi dengan perawatan dan penataan berbagai sarana pendukung. Mulai dari lingkungan sekolah, perabot belajar, fasilitas olahraga hingga area parkir secara bertahap mendapat perhatian.
Azharudin mengatakan, pengembangan sekolah dilakukan berdasarkan kebutuhan dan skala prioritas. Saat pertama memimpin pada 2011, keterbatasan ruang kelas membuat sekolah harus menerapkan sistem dua sif agar kegiatan pembelajaran tetap berlangsung.
Seiring bertambahnya jumlah siswa dan kebutuhan pendidikan, penambahan ruang kelas dilakukan secara bertahap hingga jumlahnya mencapai 18 ruang kelas.
” Ketika saya mulai memimpin pada 2011, ruang kelas yang tersedia masih sembilan. Dengan bertambahnya jumlah siswa dan kebutuhan pembelajaran, sekolah harus terus bertambah. Penambahan ruang kelas dilakukan bertahap agar kebutuhan belajar siswa dapat terpenuhi, ” ujar Azharudin, kepada wartawan, Rabu (23/09/2026).
Menurutnya, pembangunan sarana fisik harus diikuti dengan pemeliharaan. Fasilitas yang sudah tersedia tidak cukup hanya dibangun, tetapi harus dijaga agar tetap berfungsi dan dapat digunakan secara optimal.
Karena itu, sekolah juga melakukan berbagai pembenahan, di antaranya pembangunan taman sekolah, perbaikan meja dan kursi siswa yang rusak, serta penataan lingkungan sekolah agar suasana belajar menjadi lebih nyaman.
Pembenahan juga menyasar sarana olahraga. Sekolah membangun lapangan bola voli dan lapangan tenis meja sebagai fasilitas pendukung kegiatan olahraga dan pengembangan minat serta bakat siswa.
Sementara untuk mendukung ketertiban lingkungan sekolah, dilakukan pula pembangunan area parkir kendaraan bagi siswa dan guru. Fasilitas tersebut menjadi bagian dari penataan kawasan sekolah agar aktivitas kendaraan lebih teratur dan lingkungan sekolah tetap aman serta nyaman.
” Pembangunan bukan hanya soal menambah fasilitas. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana fasilitas yang sudah ada dirawat dan dimanfaatkan dengan baik. Meja dan kursi yang rusak diperbaiki, lingkungan ditata, taman dibangun, sarana olahraga disiapkan, termasuk fasilitas parkir, ” jelasnya.
Azharudin menuturkan, seluruh program tersebut dilaksanakan secara bertahap karena kebutuhan sekolah cukup banyak. Perencanaan dan penentuan skala prioritas menjadi dasar dalam menentukan fasilitas yang terlebih dahulu dibangun atau diperbaiki.
” Kita tidak bisa memenuhi semua kebutuhan dalam waktu bersamaan. Harus ada perencanaan, skala prioritas, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi. Apa yang paling dibutuhkan sekolah, itu yang paling dibutuhkan sekolah, itu yang kita upayakan terlebih dahulu, ” tuturnya.
Selain pembangunan fisik, pengelolaan sekolah juga diarahkan pada pembinaan guru dan tenaga kependidikan, peningkatan kedisiplinan siswa, pemanfaatan teknologi, pengawasan lingkungan serta peningkatan kualitas pelayanan pendidikan.
Azharudin menegaskan, perkembangan fasilitas harus diikuti dengan tanggung jawab seluruh warga sekolah untuk menjaga dan memanfaatkannya.
” Sekolah ini bukan hanya bangunan dan ruang kelas. Didalamnya ada guru, tenaga kependidikan, siswa, program, sarana dan prasarana. Ketika fasilitas bertambah, tanggung jawab kita juga semakin besar untuk merawat dan memamfaatkanya dengan baik, ” katanya.
Dari sembilan menjadi 18 ruang kelas, perjalanan SMA Negeri 1 Buay Pemaca menunjukkan adanya proses pembenahan yang berlangsung bertahap. Pembangunan ruang belajar berjalan beriringan dengan perawatan fasilitas, penataan lingkungan, pembangunan sarana olahraga dan penyediaan area parkir.
Pembenahan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih tertib, nyaman dan mendukung proses pembelajaran. Bagi sekolah, pembangunan bukan sekadar menambah bangunan, tetapi memastikan setiap fasilitas yang tersedia dapat memberikan manfaat bagi siswa dan seluruh warga sekolah. (SR)






















