Sumsel

Pabrik Tapioka Sumsel Jadi Contoh Hilirisasi Tak Bergantung pada APBN

×

Pabrik Tapioka Sumsel Jadi Contoh Hilirisasi Tak Bergantung pada APBN

Sebarkan artikel ini
foto : ist

BERITAPRESS.ID | Pabrik Tapioka Sumsel menjadi contoh nyata bahwa hilirisasi komoditas lokal mampu menggerakkan ekonomi daerah tanpa harus selalu bergantung pada APBN maupun APBD.

Pabrik Tapioka Sumsel mengolah ubi kayu menjadi produk bernilai tambah sehingga membuka peluang investasi, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat rantai industri berbasis potensi lokal. Model pengembangan ini dinilai mampu menjaga pertumbuhan ekonomi daerah di tengah kebijakan efisiensi anggaran nasional.

Pengolahan ubi kayu menjadi produk bernilai tambah tidak hanya meningkatkan harga jual hasil pertanian, tetapi juga membuka peluang investasi, memperluas lapangan kerja, serta membangun rantai industri berbasis potensi lokal.

Model seperti ini dinilai menjadi salah satu strategi yang mampu menjaga pertumbuhan ekonomi daerah di tengah kebijakan efisiensi anggaran nasional.

Keberadaan industri pengolahan berbasis komoditas lokal juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian.

Selain memberikan kepastian pasar bagi petani singkong, industri hilir mendorong tumbuhnya aktivitas usaha, memperkuat daya saing produk daerah, dan menghadirkan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang tidak semata-mata bergantung pada belanja pemerintah.

Hilirisasi menjadi langkah penting, karena mengubah komoditas yang sebelumnya dijual sebagai bahan mentah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Dengan meningkatnya nilai tambah di tingkat daerah, manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan pelaku industri, tetapi juga petani, tenaga kerja, pelaku usaha pendukung, hingga masyarakat di sekitar kawasan industri.

Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, pendekatan tersebut dinilai semakin relevan untuk memperkuat kemandirian ekonomi daerah.

Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, kalangan akademisi, dan peneliti menjadi salah satu kunci agar hilirisasi mampu berkembang secara berkelanjutan sekaligus menghasilkan inovasi yang memiliki daya saing.

Investasi dan kemitraan

Gubernur Sumatra Selatan, Herman Deru, menilai pengembangan industri pengolahan berbasis komoditas lokal merupakan salah satu solusi agar pembangunan daerah tidak hanya mengandalkan APBN maupun APBD.

Menurutnya, masih banyak peluang yang dapat dikembangkan melalui investasi dan kemitraan strategis.

“Di tengah efisiensi yang sedang berjalan, masih ada banyak cara agar kita tidak selalu bergantung pada APBN ataupun APBD. Contoh nyata efisiensi dan kemandirian itu bisa kita lihat dari operasional pabrik tapioka ini,” ujar Herman Deru.

Ia mengatakan, berbagai sektor yang belum sepenuhnya terakomodasi dalam anggaran pemerintah tetap dapat dikembangkan melalui kerja sama lintas sektor. Salah satunya dengan melibatkan pelaku usaha, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian dalam membangun industri berbasis potensi daerah.

“Ini bisa dikerjasamakan secara terpadu dengan melibatkan pihak pengusaha, kalangan akademisi, maupun para peneliti. Sinergi kuat seperti inilah yang akan membuat roda perekonomian kita tetap berjalan kencang,” tegasnya.

Pola kolaborasi multipihak atau pentahelix, sebutnya perlu diperluas ke berbagai sektor unggulan Sumsel agar semakin banyak komoditas yang diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Dengan cara itu, daya saing industri daerah diyakini akan semakin kuat, sekaligus memperbesar kontribusi sektor riil terhadap pertumbuhan ekonomi.

Pandangan itu disampaikannya saat meninjau operasional pabrik pengolahan tepung tapioka di kawasan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Kamis (9/7/2026).

Dalam kunjungan itu, ia melihat langsung proses pengolahan ubi kayu menjadi tepung tapioka serta berdialog mengenai peluang pengembangan hilirisasi sebagai salah satu pilar penguatan ekonomi Sumatra Selatan. (***)